Lara Widjaya berumur delapan tahun ketika pertama kali duduk di sebelah Bima Satria Pradana.
Bukan pilihan. Pak Hendra, wali kelas dua mereka, yang menentukan tempat duduk secara alfabetis — P untuk Pradana, W untuk Widjaya, dan nasib keduanya ditentukan oleh dua huruf yang bertetangga di urutan alfabet.
Bima waktu itu adalah anak yang terlalu serius untuk usianya. Selalu membawa penggaris ekstra. Selalu mengerjakan PR lebih dulu sebelum bermain. Selalu menata alat tulisnya dengan presisi yang membuat Lara — yang biasa menaruh pensil di mana saja — merasa sedikit dipermalukan setiap pagi.
"Kamu kenapa pensilnya empat?" Lara ingat bertanya di hari pertama.
"Jaga-jaga kalau yang satu patah."
"Terus yang satu lagi?"
"Jaga-jaga kalau yang satu patah lagi."
Lara menatap si anak serius itu. "Kalau yang empat semuanya patah gimana?"
Bima berpikir sebentu. "Pinjam kamu."
Itu awal dari persahabatan yang berlangsung enam tahun — dari SD sampai akhir SMP — sebelum mereka masuk ke SMA yang berbeda dan dunia mulai menarik mereka ke arah yang berbeda-beda.
---
Malam ini, di kamar hotel yang dipesan manajernya, Lara duduk di tepi ranjang dan menatap langit-langit.
Reuni belum selesai. Mungkin masih ada dua jam sebelum acara resmi berakhir. Tapi ia sudah minta izin untuk masuk lebih awal dengan alasan *perlu istirahat* — alasan yang tidak sepenuhnya bohong tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Yang benar adalah ia butuh ruang untuk memproses fakta bahwa Bima Satria Pradana berdiri di aula itu dengan tampang yang sudah berubah tapi dengan cara berdiri yang persis sama — tegak tapi tidak kaku, tangan di saku celana, mata yang selalu terlihat seperti sedang mencerna banyak hal sekaligus.
Ia mengambil ponselnya. Membuka kontak. Menggulir ke huruf B.
*Bima Satria (SD - SMP)*
Nomor yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Nomor yang tidak ia hapus meski berganti-ganti ponsel — selalu ia pindahkan, selalu ia simpan di folder yang sama, selalu ada di sana setiap kali ia buka daftar kontak tanpa tujuan tertentu.
Ia tidak pernah menelepon.
Tidak satu kali pun dalam sepuluh tahun.
Bukan karena tidak ingin. Tapi karena ada yang lebih menyiksa dari tidak menelepon: tidak tahu apa yang akan dikatakan kalau menelepon.
*Hai, ini Lara. Kamu masih ingat aku?* — terlalu basa-basi untuk seseorang yang pernah berbagi meja belajar enam tahun.
*Hei, lama ya. Aku kangen ngobrol.* — terlalu jujur untuk seseorang yang tidak tahu ke mana kejujuran itu akan pergi.
*Aku sering lihat foto-fotomu di internet tanpa sengaja dan selalu ingin tahu kamu baik-baik saja.* — jauh terlalu jujur.
Jadi nomor itu tetap ada. Dan ia tetap tidak menelepon.
---
Keesokan paginya ada sesi sarapan kasual untuk peserta reuni yang menginap di hotel yang sama. Acara tidak resmi — tidak ada di jadwal — tapi yang datang hampir separuh dari peserta.
Lara turun ke restoran hotel jam tujuh lebih seperempat dengan harapan bisa sarapan tenang sebelum ada yang mengenalinya.
Harapan yang segera runtuh ketika ia melihat Bima sudah duduk di meja pojok dekat jendela, memegang cangkir kopi dengan cara yang sama persis dengan dulu saat ia memegang pensil ekstranya — hati-hati, seperti barang yang perlu dijaga.
Ia bisa berbalik. Ambil makanan, duduk di bagian lain, berpura-pura tidak melihat.
Alih-alih, kakinya berjalan ke arah meja pojok itu.
"Boleh?"
Bima mendongak. Ada sesuatu yang lewat di matanya — terlalu cepat untuk ia identifikasi — sebelum ia menggeser kursi di seberangnya ke luar.
"Boleh."
Lara duduk. Pelayan datang. Ia memesan roti panggang dan jus apel.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang tidak nyaman tapi juga tidak kosong.
"Kamu sudah lama di sini?" tanya Lara.
"Sejam. Nggak bisa tidur."
"Jet lag?"
"Mungkin. Atau terlalu banyak kopi kemarin." Bima melihat cangkirnya. "Kurang bijak."
Lara tersenyum tipis. "Kamu masih suka kopi sejak kapan?"
"Sejak koas. Terpaksa."
"Dokter yang kecanduan kopi."
"Bukan kecanduan." Ia mengangkat cangkirnya sebentu. "Ketergantungan fungsional."
Lara tertawa. Pelan, tapi sungguh-sungguh — tawa yang keluar sebelum ia sempat mempertimbangkan apakah itu tepat atau tidak.
Bima menatapnya dengan ekspresi yang hampir-hampir tersenyum.
"Kemarin bilang mau ngobrol," kata Bima akhirnya. "Ini konteksnya?"
"Ini konteksnya." Lara meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Kamu nggak keberatan?"
"Kalau keberatan, aku pilih meja lain sejam yang lalu."
Logika yang tidak bisa ia bantah.
---
Mereka berbicara selama hampir dua jam. Tentang hal-hal kecil dulu — pekerjaan, kota, kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang aman, jawaban yang aman, percakapan yang bisa dilakukan dengan siapa saja.
Tapi kemudian Bima bertanya, sambil menatap kopi yang sudah hampir habis:
"Kamu bahagia?"
Lara menatapnya.
Pertanyaan yang bukan tentang karier atau penghargaan atau jadwal tur. Pertanyaan yang lebih personal dari semua pertanyaan di wawancara manapun yang pernah ia hadapi.
"Itu pertanyaan yang susah," jawabnya.
"Aku tahu." Bima menatapnya balik. "Makanya aku tanya ke kamu, bukan ke orang lain."
Lara menunduk, memutar gelasnya.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang ia tahu adalah bahwa tidak ada yang pernah bertanya seperti itu padanya dalam waktu yang sangat lama — bukan dengan cara itu, bukan dengan ketulusan itu.
"Aku... masih mencari tahu," katanya akhirnya.
Bima mengangguk. Tidak mendesak lebih lanjut.
Dan entah kenapa, jawaban yang tidak lengkap itu terasa lebih ringan setelah diucapkan.
Di dalam kamar hotel yang tenang itu, Lara membuka kembali foto sarapan yang panitia upload. Dua orang di meja pojok. Cahaya pagi yang jatuh miring. Dua cangkir dan satu gelas di antara mereka.
Ada yang tidak berubah dari Bima yang ia kenali dulu — cara duduknya, cara ia mendengarkan dengan seluruh perhatiannya, cara ia menjawab pertanyaan dengan lebih jujur dari yang kebanyakan orang berani lakukan. Seolah sepuluh tahun hanya mengasah hal-hal yang sudah ada, bukan menggantinya dengan sesuatu yang baru.
*Kamu bahagia?*
Pertanyaan yang tidak ada di naskah percakapan manapun yang pernah ia siapkan. Yang keluar dari seseorang yang tidak butuh jawaban tertentu karena tidak ada kepentingan di baliknya.
Lara meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit kamar hotel yang tidak istimewa itu.
Sepuluh tahun. Dan dua jam sarapan terasa lebih nyata dari banyak percakapan yang sudah berlangsung dalam satu dekade itu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar