Ada satu momen di SMP kelas dua yang Bima tidak pernah ceritakan kepada siapapun.

Saat itu mereka kelas delapan. Pertengahan semester, menjelang ujian tengah semester, di perpustakaan sekolah yang pada jam istirahat biasanya sepi kecuali mereka berdua — Bima yang memang selalu lebih suka perpustakaan dari kantin, dan Lara yang mulai sering menemaninya dengan alasan *aku juga mau belajar* yang jarang benar-benar terwujud.

Lara sedang membaca novel yang disembunyikan di balik buku Matematika. Bima pura-pura tidak tahu.

Kemudian Lara berkata, tanpa mengangkat matanya dari halaman: "Bim, nanti kita masih berteman kan?"

"Kenapa nggak?"

"Kan kita mau beda SMA."

"Beda sekolah bukan berarti nggak berteman."

"Kamu tahu maksudku." Lara akhirnya menutup novelnya. "Yang nggak sama kayak sekarang. Yang nggak ketemu setiap hari."

Bima meletakkan pensilnya. "Mau kamu seberapa berteman?"

Lara berpikir. Dengan cara yang selalu ia lakukan ketika pertanyaan lebih serius dari yang terlihat — menunduk sedikit, jempol memutar-mutar ujung pensil atau buku apapun yang ada di tangannya.

"Aku mau..." ia memilih kata hati-hati, "...kalau kamu nikah nanti, aku yang jadi saksi."

Bima menatapnya.

"Dan kalau kamu nikah, aku yang jadi saksi," sambung Lara.

"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku."

"Iya, itu jawaban." Lara menatapnya serius. "Aku mau kita masih cukup kenal satu sama lain untuk hal-hal penting kayak gitu."

Dua anak tiga belas tahun di perpustakaan sekolah, membicarakan pernikahan masa depan yang bahkan belum terbayangkan bentuknya.

Bima ingat berpikir bahwa itu ide yang naif dan tidak realistis.

Kemudian ia berkata: "Oke."

Dan Lara tersenyum — senyum yang penuh, lega, seperti ia baru menyelesaikan sesuatu yang penting — dan kembali ke novelnya.

---

Sepuluh tahun kemudian, Bima duduk di dalam taksi menuju bandara, membawa kenangan sarapan dua jam tadi di saku jaketnya seperti sesuatu yang bisa runtuh kalau terlalu sering disentuh.

Lara memberikan nomornya sebelum mereka berpisah. Nomor yang baru — berbeda dari yang ada di kontak lamanya. Ia menyodorkan HPnya langsung: "Simpan. Yang lama mungkin sudah nggak aktif."

Bima menyimpannya tanpa komentar.

Yang tidak ia katakan: *nomor lama kamu masih aktif. Aku pernah coba beberapa bulan lalu karena tidak sengaja mendengar lagumu di radio dan tiba-tiba perlu tahu kamu baik-baik saja — tapi aku tidak jadi menelepon.*

Yang tidak ia katakan: *aku masih punya nomormu sejak SMP.*

---

Pesawat delay satu jam. Bima duduk di gate dengan kopi yang sudah tidak panas lagi, membuka pesan dari Galih yang berisi foto-foto reuni semalam dengan caption yang semakin tidak jelas seiring malam.

Di antara foto-foto itu ada satu yang tidak ia sadari diambil: ia dan Lara di meja pojok tadi pagi, keduanya menatap ke arah yang berbeda tapi duduk dengan jarak yang nyaman, cangkir dan gelas di antara mereka.

Galih: *kalau ini bukan chemistry aku nggak tau apa namanya*

Bima menutup aplikasi pesan.

Kemudian membukanya lagi dan mengetik: *itu namanya sarapan.*

Galih: *yakin?*

Bima tidak menjawab.

Di kursiku, ia membuka kontak. Dua entri sekarang untuk nama yang sama: *Lara Widjaya (SD - SMP)* dan di bawahnya yang baru ia simpan hari ini, hanya *Lara.*

Dua versi dari orang yang sama. Atau dua versi dari cerita yang belum selesai.

---

Lara mengirim pesan pertama ketika ia sudah di pesawat.

Ia tidak tahu sampai mendarat — mode pesawat, tentu saja — dan menemukan satu pesan yang dikirim jam 10.47 pagi:

*Makasih sudah mau ngobrol. Tadi senang banget.*

Singkat. Tidak ada emoji. Tidak ada pertanyaan lanjutan yang mengundang balasan.

Kalimat yang cukup terbuka untuk diartikan banyak cara dan cukup tertutup untuk tidak memaksa apapun.

Bima mengetik balasan di dalam taksi dari bandara ke rumah kontrakan dekat puskesmas tempatnya bekerja:

*Aku juga.*

Tiga detik kemudian ia hapus.

Kemudian menulis: *Sama-sama. Aku juga senang.*

Lebih panjang, tapi isinya sama. Ia kirim sebelum sempat berubah pikiran lagi.

Balasan dari Lara datang dua menit kemudian — lebih cepat dari yang ia antisipasi:

*Hati-hati di jalan. Kalimantan jauh.*

Bima menatap kalimat itu.

Dua kali ia membacanya. Tiga kali.

Kalimatnya sederhana. Tidak ada yang istimewa dari sisi manapun.

Tapi *kalimantan jauh* — dua kata yang mengatakan lebih dari isinya. Bahwa Lara tahu ia pergi ke mana. Bahwa Lara memperhatikan. Bahwa ada jarak yang diakui tapi tidak dijadikan alasan untuk tidak mengirim pesan.

Ia memasukkan ponselnya ke saku.

Di luar jendela taksi, jalanan Kalimantan yang ia sudah hafal setiap tikungannya terasa sedikit berbeda malam itu — bukan karena jalannya berubah, tapi karena ada sesuatu di dadanya yang ikut-ikutan terasa tidak sama seperti tadi pagi.

Di dalam taksi menuju kontrakan, Bima membuka daftar kontaknya satu kali lagi.

Dua entri. *Lara Widjaya (SD - SMP)* dan *Lara* — tanpa keterangan lain, tanpa embel-embel, hanya nama.

Yang pertama sudah ada sejak ia pertama punya ponsel sendiri di kelas sembilan. Yang sudah ia pindahkan dari satu perangkat ke perangkat lain selama bertahun-tahun, tanpa pernah betul-betul mempertanyakan kenapa.

Yang kedua baru ada sejak tadi pagi. Tapi yang terasa lebih berat, anehnya, adalah yang pertama.

Karena yang pertama adalah keputusan yang tidak sadar — menyimpan nomor seseorang bukan karena ada rencana untuk menelepon, bukan karena ada agenda tertentu, tapi karena menghapusnya tidak pernah terasa seperti pilihan yang benar.

Dan kadang hal yang tidak dihapus lebih berbicara dari hal yang dipilih untuk disimpan.

Taksi berhenti di depan kontrakannya. Bima turun, membawa kopernya, dan berdiri sebentu di depan pintu.

Besok ia ada jadwal posyandu jam tujuh. Ia perlu tidur.

Tapi ada satu pesan yang ia tulis tapi belum kirim — *sudah sampai dengan selamat* — yang akhirnya ia kirimkan sebelum menutup pintu kamarnya.

Satu hal kecil yang terasa penting untuk dilakukan.