Bima tidak berniat membekukan diri di pintu masuk aula reuni itu.
Kakinya sudah siap melangkah masuk, tangan sudah memegang tanda nama yang dicetak panitia dengan huruf rapi — *dr. Bima Satria Pradana* — ketika suara MC dari dalam menembus tembok kaca dan langsung menghantam sesuatu di dalam dadanya.
"Dan selamat datang untuk tamu spesial kita malam ini — Lara Widjaya!"
Tepuk tangan meledak. Di dalam.
Bima berdiri di luar.
Sepuluh tahun. Namanya masih sama. Nadanya masih sama — perpaduan antara hangat dan cerah yang dulu selalu membuat semua orang di sekolah menoleh, termasuk dia.
*Lara Widjaya.*
Ia menarik napas panjang. Kemudian menghembuskannya pelan-pelan, seperti cara yang diajarkan di setiap pelatihan manajemen stres yang pernah ia ikuti — yang ternyata tidak dirancang untuk situasi seperti ini.
Tidak ada yang menyiapkan seorang dokter puskesmas di kabupaten terpencil untuk berdiri di luar aula reuni sambil mendengar nama perempuan yang belum pernah ia hapus dari daftar kontaknya selama satu dekade.
---
Di dalam, aula sudah berubah menjadi tempat yang sangat berbeda dari ruang serba guna SMA Nusantara yang dulu ia kenal. Ada dekorasi string lights, standing banner bertema *"10 Tahun Perjalanan Kita"*, dan meja-meja bundar dengan hiasan bunga putih kecil. Anggarannya pasti sepuluh kali lipat lebih besar dari yang pernah dipakai untuk acara apapun semasa mereka sekolah.
Bima masuk perlahan, mencari meja dengan nomor yang tertera di undangannya.
Ia tidak langsung mencari Lara.
*Ia tidak langsung mencari Lara.*
Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri, setidaknya sampai matanya selesai menyapu seluruh ruangan dan tidak menemukan potongan rambut hitam sebahu yang dulu selalu ia kenali dari jarak dua koridor.
Yang ia temukan di mejanya: dua teman lama — Galih dan Taufik — yang langsung menyambutnya dengan keributan yang tidak berubah sejak SMA.
"Bim! Akhirnya! Kita pikir lo nggak jadi dateng," Galih berdiri, menepuk punggungnya keras. "Dari Kalimantan?"
"Kalimantan Tengah." Bima menjabat tangan Taufik yang sudah duluan mengulur. "Empat jam penerbangan, transit Surabaya."
"Serius lo mau balik besok juga?" tanya Taufik.
"Senin ada jadwal posyandu."
Taufik menatapnya dengan ekspresi antara kagum dan tidak percaya. "Lo belum berubah sama sekali, ya."
Bima tidak sempat menjawab karena tepuk tangan baru meledak dari arah panggung, lebih meriah dari sebelumnya.
Dan di sana — akhirnya — Bima melihat Lara Widjaya untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun.
---
Ia berbeda.
Tapi tidak dalam cara yang membuat Bima tidak mengenalinya.
Rambutnya sekarang lebih panjang, diwarnai coklat hangat, digerai dengan cara yang terlihat kasual tapi yang Bima yakini membutuhkan waktu tidak sedikit untuk diatur seperti itu. Bajunya sederhana — gaun hijau sage yang tidak mencolok tapi yang entah kenapa membuatnya terlihat seperti satu-satunya warna di ruangan itu.
Lara tersenyum ke arah kerumunan yang menyambutnya, tangan melambai pelan, cara yang sudah dipraktikkan tapi tidak kehilangan ketulusannya.
Dan kemudian — mungkin karena kebetulan, mungkin karena sesuatu yang lebih dari itu — pandangannya bergerak melewati kerumunan dan berhenti.
Tepat di meja tempat Bima berdiri.
Satu detik.
Mungkin dua.
Kemudian Lara memalingkan wajah, kembali tersenyum ke arah lain, dan MC sudah meminta semua orang untuk mengambil minuman selamat datang.
Galih menyikut lengannya. "Eh, lo kenal Lara Widjaya?"
Bima menunduk, mengambil gelas dari meja. "SMP. Sebangku dua tahun."
"Astaga." Galih menatapnya dengan ekspresi yang ingin Bima abaikan. "Dan lo nggak pernah cerita?"
"Nggak ada yang perlu diceritain."
Taufik mengangguk-angguk dengan ekspresi yang sama tidak membantunya. "SMP sebangku dua tahun dengan artis nasional dan 'nggak ada yang perlu diceritain.' Oke, Bim."
Bima duduk dan menatap gelas di tangannya.
Di dalam kepalanya, sepasang mata yang berhenti tepat di arahnya tadi masih tergantung seperti pertanyaan yang belum ada jawabannya.
Dua detik yang cukup untuk membuat satu dekade terasa seperti kemarin.
---
Reuni berlanjut dengan cara yang selalu terjadi di acara semacam ini: makan malam, pidato singkat dari ketua panitia, sesi foto bersama, dan suara-suara yang makin keras seiring malam makin larut.
Bima bertahan di mejanya, menjawab pertanyaan tentang pekerjaan, tentang Kalimantan, tentang kapan kembali ke Jawa. Ia terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan ini di setiap pertemuan keluarga atau reuni kecil apapun — *dokter di pedalaman* selalu mengundang reaksi campuran antara salut dan kasihan yang tidak dimintanya.
Yang tidak ia antisipasi adalah seseorang yang menyentuh bahunya dari belakang dan berkata dengan suara yang ternyata belum ia lupa cara nadanya:
"Bima."
Ia berbalik.
Lara berdiri di sana, satu langkah dari mejanya, memegang gelas jus jeruknya dengan kedua tangan seperti dulu — kebiasaan kecil yang dulu selalu ia teasing karena katanya *gerak minum Lara kayak upacara*.
"Lara." Ia berdiri. Refleks. "Hai."
Ia tidak tahu apa yang ia bayangkan untuk momen ini. Bahwa ia akan berpura-pura tidak mengenali? Bahwa Lara yang akan berpura-pura tidak mengenali? Bahwa sepuluh tahun akan membuat segala sesuatunya lebih mudah dihadapi?
Tidak ada dari itu yang benar.
Yang ada adalah Lara tersenyum — senyum kecil yang ragu-ragu di tepinya, berbeda dari senyum panggung yang baru saja ia lihat — dan berkata:
"Aku nggak nyangka kamu datang."
"Undangannya datang sampai Kalimantan," jawabnya.
"Memang jauh." Lara memandangnya sebentu. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang paling sederhana dan paling sulit sekaligus.
"Baik," kata Bima. "Kamu?"
Lara mengangguk. Kemudian seseorang dari arah lain memanggilnya — staf dengan earpiece kecil di telinga kiri — dan Lara menoleh sebentu ke arah itu sebelum kembali menatapnya.
"Boleh aku..." ia ragu sebentu, "...ngobrol lebih lama nanti? Kalau ada waktu?"
Bima menatapnya.
Sepuluh tahun. Satu pesan. Satu pertanyaan sederhana yang entah kenapa membuat dadanya terasa seperti ruang yang terlalu sempit untuk napas normalnya.
"Boleh," katanya.
Lara tersenyum lagi — kali ini lebih penuh, sampai ke matanya — sebelum pergi mengikuti stafnya.
Galih dan Taufik yang dari tadi diam mendadak riuh.
Bima pura-pura tidak mendengar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar