Reza sudah mengenal Lara selama empat tahun.
Empat tahun cukup untuk tahu bahwa Lara Widjaya tidur paling nyenyak ketika jadwalnya kosong dua hari berturut-turut — yang hampir tidak pernah terjadi. Bahwa ia memesan jus apel ketika gugup dan kopi ketika benar-benar tidak bisa tidur. Bahwa senyum-untuk-kamera dan senyum-sungguhan punya perbedaan kecil yang tidak banyak orang perhatikan tapi yang Reza sudah hafal sejak tahun pertama.
Ia juga tahu bahwa pagi setelah reuni, Lara duduk sarapan berdua selama hampir dua jam dengan seseorang yang bukan wartawan, bukan teman industri, bukan anggota label, dan bukan siapapun yang ada dalam lingkaran yang biasa Reza pantau.
Dokter dari Kalimantan, kata panitia reuni ketika Reza diam-diam bertanya. Teman SMP.
"Lo nggak kasih tahu aku," kata Reza di dalam mobil, perjalanan ke bandara.
"Kasih tahu apa?" Lara menatap jendela.
"Bahwa ada yang perlu aku tahu dari reuni itu."
"Nggak ada yang perlu kamu tahu."
Reza menoleh sebentu ke arahnya — sebentu saja, karena ia sedang menyetir. "Lo dua jam."
"Dua jam ngobrol dengan teman lama. Itu berita?"
"Bukan berita. Tapi biasanya lo nggak..."
"Nggak apa?"
Ia memilih kata. "Nggak semudah itu."
Lara diam.
Reza tidak melanjutkan. Ada batas antara manajer dan teman yang ia selalu jaga dengan hati-hati, dan ia tahu ia sudah di tepi batas itu.
"Dia baik," kata Lara akhirnya, masih menatap jendela. "Orangnya nggak berubah banyak."
"Itu bagus."
"Iya." Pause. "Itu bagus."
---
Yang tidak Reza katakan: ia sempat melihat foto yang dikirim teman lamanya yang juga hadir di reuni — foto yang tidak dimaksudkan untuk siapapun secara khusus, hanya dokumentasi acara yang diunggah ke grup bersama. Foto yang memperlihatkan Lara dan seseorang di meja pojok, dengan komposisi yang tidak dibuat-buat justru karena itu.
Ekspresi Lara di foto itu berbeda dari yang biasa ia lihat di manapun — di stage, di press conference, di wawancara, bahkan di momen privat yang kadang-kadang ia saksikan.
Lebih ringan. Lebih ada.
Reza menyimpan observasi itu untuk dirinya sendiri dan fokus ke jadwal hari ini: fitting kostum untuk video klip baru, meeting dengan label, dan konferensi pers yang sudah ditunda dua kali.
Tapi sepanjang hari itu, ia sesekali memperhatikan Lara — cara ia menatap ponselnya lebih sering dari biasanya, cara ia tersenyum ke layar dengan senyum kecil yang sudah Reza pelajari kategorinya selama empat tahun.
*Senyum yang bukan untuk siapapun di ruangan yang sama.*
Reza membuat catatan mental: *dokter dari Kalimantan.*
---
Lara membalas pesan Bima di sela-sela fitting.
Bukan karena punya banyak waktu — fitting itu butuh konsentrasi dan persetujuan yang terus-menerus — tapi karena pesan pendek itu datang di saat yang tepat dan ada sesuatu yang membuat tangannya bergerak lebih cepat dari pertimbangannya.
*Tadi nemu foto waktu sarapan. Panitia yang upload.*
Pesan dari Bima. Dengan foto yang dilampirkan.
Lara membuka fotonya. Komposisi yang tidak ia sadari saat itu: mereka berdua di meja pojok, cahaya pagi dari jendela jatuh miring, wajah keduanya setengah ke arah kamera setengah ke arah masing-masing.
Ada sesuatu yang ia tidak langsung bisa namakan tentang foto itu.
"Lara, yang ini gimana?" Stylist menghampiri dengan dua pilihan aksesori.
Ia memilih yang kiri, memasukkan ponselnya ke saku, dan mencoba fokus ke pekerjaannya.
Dua jam kemudian, di dalam taksi menuju venue meeting, ia mengetik balasan:
*Fotonya bagus. Nggak nyangka ada yang foto.*
Bima membalas cepat — lebih cepat dari yang ia kira untuk seseorang yang katanya sibuk di puskesmas:
*Panitia memang rajin. Aku juga nggak nyangka.*
Lara: *Kamu sudah sampai?*
Bima: *Baru tiba tadi malam. Kalimantan memang jauh.*
Ia ingat mengirim kalimat itu pagi tadi. *Kalimantan jauh.* Dua kata yang keluar sebelum ia sempat mempertimbangkan apakah tepat atau tidak, dan yang ternyata dibalas dengan cara yang tidak menghindarinya.
Lara: *Kalau mau cerita soal Kalimantan, aku mau dengerin.*
Ia mengirimnya. Kemudian menatap layar selama beberapa detik, sedikit terkejut dengan dirinya sendiri.
Bima: *Oke. Tapi kamu harus siap untuk cerita yang kurang glamor.*
Lara: *Justru yang aku perlu.*
Balasan yang jujur. Yang mungkin terlalu jujur. Yang membuat ia meletakkan ponselnya dan menatap keluar jendela taksi dengan perasaan yang tidak ia beri nama tapi yang terasa seperti sesuatu yang lama tidak hadir.
Di depan, Reza yang duduk di kursi penumpang depan melirik ke spion kecil.
Tidak mengatakan apapun.
Tapi senyumnya, tipis dan singkat, berkata lebih dari yang Lara perlu tahu malam itu.
Foto yang Reza lihat itu tidak ia simpan. Tidak perlu — ia sudah mengingat detailnya cukup baik.
Yang lebih ia ingat adalah percakapan dengan Lara di dalam mobil sepulang dari reuni. Cara Lara menatap jendela dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya ada di dalam mobil. Cara ia menjawab pertanyaan-pertanyaan operasional dengan efisiensi yang biasa tapi dengan bagian lain dari dirinya yang sedang di tempat lain.
Empat tahun bekerja dengan seseorang mengajarkan hal-hal yang tidak ada di job description. Salah satunya: mengenali kapan seseorang sedang mengalami sesuatu yang mengubah cara mereka berada di ruangan.
Lara sedang mengalami sesuatu. Dan Reza — yang tugasnya adalah memastikan Lara bisa berfungsi dengan baik di semua konteks profesionalnya — memutuskan bahwa untuk saat ini yang terbaik adalah mengamati dan tidak bertanya.
Tidak dulu.
Ia membuka laptop dan memeriksa jadwal minggu depan. Ada tiga hal yang perlu digeser, satu meeting yang perlu dikonfirmasi ulang, dan satu janji wawancara yang sudah terlalu lama ditunda.
Pekerjaan yang selalu ada. Yang ia kerjakan dengan cara yang sama seperti selalu.
Tapi di balik semua itu, ada catatan kecil di kepala tentang seseorang bernama dokter dari Kalimantan yang membuat Lara memesan jus apel di sarapan tadi pagi — ketika biasanya ia memesan teh ketika tidak gugup tentang apapun.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar