Selasa pagi. Kiara sarapan dengan nasi goreng yang aku buat sejak pukul enam.

"Bundaaa, ini banyak banget."

"Habiskan."

"Tapi Kiara mau ke sekolah, bukan lomba makan."

"Kiara perlu energi. Habiskan."

Kiara mendengus tapi tetap makan. Aku berdiri di dapur pura-pura merapikan konter yang sudah rapi, supaya tidak harus duduk di depannya dan takut ia melihat sesuatu di wajahku yang tidak seharusnya ia lihat.

Rendra sudah berangkat kerja sejak subuh. Kami belum bicara lagi sejak malam itu — bukan karena tidak perlu, tapi karena setiap kali aku menatapnya, ada terlalu banyak yang ingin dan tidak ingin kukatakan sekaligus.

"Bunda," kata Kiara dengan mulut penuh nasi goreng, "kenapa Bunda tidak duduk?"

"Bunda mau beresin ini dulu."

"Sudah rapi tapi."

Aku memutar badan. Mengambil kursi. Duduk di depannya.

Kiara menatapku. Sebelas tahun tapi matanya kadang terasa lebih tua dari itu.

"Bunda kenapa matanya bengkak?"

---

Pertanyaan yang aku takutkan.

"Alergi."

"Alergi apa?"

"Debu."

"Debu dari mana? Rumah kita bersih."

Aku menahan tawa — bukan karena lucu, tapi karena kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang hanya Kiara yang bisa mengatakannya dengan cara yang membuat sesak dan hangat sekaligus.

"Mungkin dari kasur."

Kiara tidak terlihat yakin. Tapi ia tidak mendesak — karena Kiara jenis anak yang tahu kapan tidak boleh mendesak. Entah ia belajar sendiri atau ia tumbuh menjadi peka karena delapan tahun dibesarkan oleh orang yang mencintainya dengan cara yang tidak selalu bisa diucapkan.

"Setelah sekolah Kiara mau langsung pulang," katanya. "Tidak mampir ke mana-mana."

"Kenapa?"

"Mau temani Bunda."

Aku menatapnya.

"Kemarin kelihatan seperti Bunda butuh ditemani," tambahnya polos. Seperti itu kalimat paling normal di dunia.

Tenggorokanku mengeras.

"Kiara tidak perlu khawatir soal Bunda."

"Tapi aku mau." Ia berdiri, menenteng tasnya. "Sudah ah, nanti terlambat. Bunda nanti jemput ya."

"Iya."

"Jangan lupa bawa payung. Kata cuaca hari ini hujan."

Ia keluar. Pintu menutup.

Dan aku duduk di meja makan yang masih ada piring kotor dan sisa nasi goreng, dengan mata yang tidak lagi bisa aku tahan.

---

Sari telepon siang hari.

"Gimana?"

"Tidak ada adopsi resmi." Aku sudah bisa mengatakannya tanpa suara bergetar sekarang — karena sudah aku ulangi di kepala berkali-kali sejak kemarin. "Secara hukum, aku tidak punya hak."

Hening di seberang.

"Sin."

"Aku di sini."

"Bilang sesuatu."

"Aku sedang cari kata yang tepat." Sari menarik napas. "Naira, kamu delapan tahun. Kamu delapan tahun ada di sana. Tidak ada pengadilan yang bisa menghapus itu."

"Pengacara bilang berbeda."

"Pengacara bicara soal dokumen. Aku bicara soal Kiara." Nada Sari lebih tegas. "Kiara tahu siapa bundanya. Dan kita akan pastikan pengadilan juga tahu."

Aku tidak menjawab langsung.

"Rendra bilang apa?" tanya Sari.

"Kami belum bicara."

"Naira—"

"Aku belum siap."

Sari tidak memaksa. Ia hanya berkata: "Kalau sudah siap, aku di sini."

---

Sore itu, aku menjemput Kiara tepat jam dua belas lewat seperempat — satu menit lebih awal dari biasanya karena aku sudah ada di parkiran sejak dua belas kurang sepuluh.

Kiara berlari keluar gerbang, melambaikan tangan ke temannya, dan langsung mendatangi aku dengan cara yang sama persis seperti yang ia lakukan sejak kelas satu — langsung memeluk lenganku tanpa basa-basi.

"Ada PR banyak," katanya. "Tapi Kiara mau bantu Bunda masak dulu baru PR."

"Tidak perlu. Selesaikan PR."

"Tapi Kiara mau bantu."

"Kiara membantu dengan cara menyelesaikan PR."

Ia mendengus. "Bunda selalu menang."

Kami berjalan ke mobil. Kiara terus bicara — tentang PR, tentang temannya, tentang guru olahraga yang kata teman-temannya terlalu galak tapi menurut Kiara tidak galak hanya tegas. Aku mendengarkan dan menjawab dan tertawa di bagian yang tepat.

Dan sepanjang perjalanan pulang, aku memandangi profilnya dari sudut mata — hidung kecilnya, rambut yang sedikit acak-acakan setelah seharian sekolah, cara ia menggigit bibirnya waktu memikirkan sesuatu.

Delapan tahun wajah ini di sampingku.

Aku tidak akan menyerah.

Tidak peduli berapa banyak dokumen yang harus aku hadapi.