"Halo, Kiara."

Suara Wulan pelan. Diatur. Seperti orang yang sudah berlatih kalimat ini berkali-kali.

Kiara menatapnya dari balik punggungku. Tidak bergerak. Jari-jarinya menggenggam ujung bajuku.

"Siapa itu, Bunda?" bisik Kiara.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Rendra yang menjawab: "Ini... kenalan lama Ayah."

Aku menatap Rendra. Ia tidak balik menatap aku.

---

Kiara kembali ke meja makan untuk menyelesaikan sarapannya — anak sebelas tahun yang tidak cukup tertarik dengan "kenalan lama Ayah" untuk berlama-lama di sana. Aku hampir ingin ikut bersamanya. Duduk di meja makan, pura-pura tidak ada yang terjadi, tunggu sampai perempuan ini pergi.

Tapi aku tidak ikut.

Aku berdiri di ruang tamu sementara Rendra meminta Wulan masuk dan mempersilakan duduk — di sofa itu, sofa yang aku pilih empat tahun lalu di toko furnitur di Kemang, yang sekarang diduduki perempuan yang ibunya Kiara secara biologis dan bukan secara apapun yang lain.

"Aku minta maaf datang seperti ini," kata Wulan. Ke aku, tapi matanya ke Rendra. "Tapi aku pikir lebih baik langsung."

"Langsung apa?" Suaraku keluar lebih rata dari yang aku rencanakan.

"Aku sudah kembali ke Jakarta." Jeda. "Untuk menetap."

Aku menunggu.

"Dan aku... ingin dekat dengan Kiara lagi."

*Lagi.* Seolah ada jeda sebentar, bukan delapan tahun. Seolah "dekat" adalah sesuatu yang pernah ada dan berhenti sejenak, bukan sesuatu yang tidak pernah dimulai.

"Kamu sudah berapa lama kembali?" tanyaku.

Wulan melirik Rendra.

Rendra menatap lantai.

Dan dari cara keduanya bergerak dalam sepersekian detik itu — cara yang terkoordinasi tanpa harus berbicara, cara yang hanya muncul pada orang yang sudah cukup sering berbagi informasi — aku mengerti.

Ini bukan pertama kali mereka bertemu setelah Wulan kembali.

---

"Berapa lama?" Aku bertanya lagi. Langsung ke Rendra kali ini.

"Naira—"

"Berapa lama, Rendra?"

Ia mengangkat muka. Matanya tidak menghindar kali ini — justru itu yang lebih menyakitkan. Ia menatapku dengan ekspresi orang yang sudah siap dengan konsekuensi.

"Tiga bulan."

Tiga bulan.

Tiga bulan Wulan ada di Jakarta. Tiga bulan Rendra mengetahuinya. Tiga bulan aku tidak tahu.

Aku ingat tiga bulan lalu. Rendra pulang terlambat beberapa kali. Aku tanya, ia bilang proyek. Aku percaya — karena delapan tahun aku selalu percaya, karena itu yang dilakukan istri yang baik, bukan?

Aku menarik napas sekali. Dalam.

"Aku mau bicara sama kamu," kataku ke Rendra. "Berdua. Sekarang."

Wulan berdiri seolah mau keluar memberi kami ruang. Aku tidak mengundangnya untuk tetap duduk. Ia duduk kembali sendiri.

---

Di dapur, dengan suara Kiara yang masih mengunyah di meja makan terdengar samar, aku berdiri berhadapan dengan suamiku.

"Sudah sejauh apa?" tanyaku.

"Naira, tolong jangan—"

"Aku tanya satu pertanyaan. Sejauh apa."

Ia menutup mata. Membukanya. "Kami bertemu beberapa kali. Makan bersama. Berbicara tentang banyak hal."

"Termasuk tentang Kiara?"

"...Iya."

"Dan kamu tidak merasa perlu memberitahu aku."

Bukan pertanyaan. Tapi ia menjawab juga: "Aku tidak tahu cara memberitahumu."

Aku menatapnya lama.

Delapan tahun. Pria yang aku tidur di sebelahnya setiap malam, yang aku masakkan sarapan setiap pagi, yang aku percayai tanpa pertanyaan karena aku pikir kami sudah melewati cukup banyak hal bersama untuk menjadi fondasi yang kuat.

"Kamu tidak tahu cara memberitahuku," kuulangi pelan. "Tapi kamu tahu cara menemuinya tiga bulan tanpa bilang apa-apa."

Ia tidak menjawab.

Aku melepas celemekku. Meletakkannya di konter.

"Minta dia pergi," kataku. "Hari ini."

---

Wulan tidak pergi hari itu.

Rendra tidak memintanya pergi.

Yang terjadi justru sebaliknya: Rendra meminta aku untuk "bicara baik-baik bertiga" — kalimat yang terasa seperti tamparan karena menempatkan aku dalam posisi sejajar dengan perempuan yang baru datang, bukan sebagai istri yang berdiri di rumahnya sendiri.

Aku menolak.

Aku pergi ke kamar Kiara. Duduk di tepi tempat tidurnya. Menatap poster bintang yang kami tempel bersama dua tahun lalu.

Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku takut.

Bukan takut kehilangan Rendra.

Takut kehilangan ini — kamar ini, poster ini, bau sampo stroberi yang selalu menempel di bantal Kiara.

Takut kehilangan anak yang bukan anakku di atas kertas tapi jadi anakku di dalam setiap jam kehidupan.

---