Aku pikir Kiara sudah tidur pukul sembilan.
Ternyata ia belum.
Aku baru tahu ketika pukul sebelas malam, saat aku duduk di sofa ruang tamu dalam gelap — karena tidak sanggup masuk kamar, tidak sanggup berbaring di sebelah Rendra seolah tidak ada yang terjadi — pintu kamar Kiara terbuka pelan.
Ia muncul dengan selimut merah jambu di bahu dan mata yang jelas belum tidur.
"Bunda?"
"Kamu kenapa belum tidur, sayang?"
"Kiara dengar suara."
Aku membuka tangan. Ia langsung datang, menyelip di sebelahku, meletakkan kepalanya di bahuku dengan cara yang sudah sangat aku hafal.
---
Kami duduk di sofa dalam gelap beberapa menit tanpa kata.
"Bunda dan Ayah berantem?" tanya Kiara akhirnya.
"Kenapa Kiara tanya begitu?"
"Karena waktu Kiara mau ke kamar mandi tadi, Kiara dengar suara mereka bicara tapi tidak masuk karena kayaknya serius." Ia menarik selimutnya lebih rapat. "Perempuan itu masih di sini?"
"Sudah pulang."
"Siapa dia?"
Aku mempertimbangkan jawabannya. Kiara sebelas tahun — sudah cukup besar untuk merasakan bahwa ada yang tidak beres, tapi malam ini bukan malam yang tepat untuk penjelasan yang akan mengubah segalanya.
"Urusan Ayah," kataku. "Tidak penting."
"Tapi kenapa Bunda duduk di sini dalam gelap?"
Anak ini selalu terlalu jeli untuk ukuran sebelas tahun.
"Bunda tidak ngantuk."
"Kiara juga tidak ngantuk." Ia memeluk lenganku. "Temenin Kiara ya."
---
Kami akhirnya pindah ke kamarnya. Berbaring berdua di tempat tidur Kiara yang agak sempit untuk dua orang dewasa — atau satu dewasa dan satu anak yang sudah cukup besar tapi masih muat.
Kiara cerita soal ulangan matematika besok yang ia tidak terlalu khawatirkan karena sudah belajar. Cerita soal temannya yang bawa kucing ke sekolah dan ketahuan bu guru. Cerita soal film animasi yang mau ia tonton akhir pekan.
Aku mendengarkan. Menjawab di tempat yang perlu. Menertawakan di bagian yang lucu.
Sampai Kiara berhenti bicara — dan aku kira ia sudah tidur, tapi kemudian ia berkata pelan tanpa membuka mata:
"Bunda, nanti tidak kemana-mana kan?"
Dadaku sesak.
"Kemana maksudnya?"
"Tidak tahu. Kemana-mana aja." Ia menarik napas. "Kiara takut kalau nanti Bunda tidak ada."
Aku menarik tubuhnya lebih dekat. Memeluknya dari belakang seperti yang aku lakukan waktu ia masih tiga tahun dan mimpi buruk hampir setiap malam.
"Bunda di sini," kataku. "Bunda di sini."
Tapi sambil mengatakan itu, dadaku tahu satu hal yang tidak berani dikatakan mulutku:
*Aku tidak tahu sampai kapan.*
---
Rendra tidak ada di kamar ketika aku akhirnya kembali jam dua pagi.
Ia tidur di sofa.
Aku berbaring di tempat tidur kami — tempat tidur yang tiba-tiba terasa sangat luas untuk satu orang — dan menatap langit-langit sampai subuh.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar