Kantor Pak Hendra ada di lantai tiga sebuah rukan di Menteng.

Aku datang sendirian. Sari menawarkan ikut tapi aku bilang tidak perlu — karena aku tidak mau ada yang melihat kalau ternyata aku tidak sanggup menahan diri di tengah penjelasan pengacara.

Pak Hendra adalah pria lima puluhan dengan kacamata kotak dan cara bicara yang langsung ke poin tanpa basa-basi yang tidak perlu. Sari yang merekomendasikannya karena pernah pakai jasanya untuk urusan warisan keluarga.

"Ceritakan situasinya," katanya.

Aku ceritakan. Semuanya. Dari pesan di ponsel, dari Wulan yang datang ke pintu, dari percakapan Rendra yang mengakui tiga bulan pertemuan. Aku bicara dengan suara yang aku jaga supaya tetap datar — karena begitu satu retak muncul, semuanya akan ikut.

Pak Hendra mendengarkan sambil sesekali mencatat. Ketika aku selesai, ia menutup penanya dan berkata:

"Ada satu hal yang perlu saya tanyakan sebelum kita bicara soal perceraian."

"Apa?"

"Anak. Kiara." Ia menatapku. "Status adopsinya bagaimana?"

---

Aku membeku.

"Adopsi?"

"Kiara bukan anak kandung Anda. Untuk memiliki hak asuh secara hukum setelah perceraian, Anda perlu adopsi resmi yang sudah disahkan pengadilan."

Aku menatapnya. "Kami tidak pernah formal mengurusnya. Kami sudah merencanakan tapi selalu... tertunda."

Pak Hendra tidak bereaksi berlebihan. Ekspresinya tetap profesional. Tapi ada sesuatu di cara ia meletakkan penanya dengan hati-hati yang memberitahuku bahwa ini lebih serius dari yang aku siapkan.

"Tanpa adopsi resmi," katanya pelan, "secara hukum Anda tidak memiliki hak asuh atas Kiara. Setelah perceraian, hak asuh jatuh ke ayah kandungnya."

"Rendra."

"Ya."

Aku menghitung napas. Satu. Dua. "Dan ibu kandungnya? Wulan?"

"Jika ibu kandungnya kembali dan mengajukan hak asuh — dengan kondisi bahwa ia masih memiliki hak hukum sebagai ibu biologis yang belum pernah dicabut secara penuh — posisinya lebih kuat dari posisi Anda."

Ruangan itu mendadak terasa kecil sekali.

"Lebih kuat dari saya." Aku mengulangi kalimat itu perlahan. "Perempuan yang tidak pernah ada selama delapan tahun punya posisi hukum yang lebih kuat dari saya."

"Saya tidak membuat aturannya," kata Pak Hendra dengan nada yang tidak meminta maaf tapi juga tidak dingin. "Tapi saya bisa membantu Anda mencari celah di dalam aturan itu."

"Celah apa?"

"Kepentingan terbaik anak." Ia bersandar. "Hakim akan mempertimbangkan bukan hanya dokumen, tapi kondisi aktual yang terbaik untuk Kiara. Jika kami bisa membuktikan bahwa pemisahan Kiara dari Anda merusak kondisi psikologis dan emosionalnya — itu dasar yang bisa kami pakai."

Aku duduk di kursi itu dengan tangan di pangkuan dan kenyataan yang baru saja disampaikan masih berputar di kepala.

Delapan tahun.

Delapan tahun dan tidak ada satu lembar dokumen yang melindungi hubunganku dengan Kiara.

"Apa yang perlu saya lakukan?" tanyaku akhirnya.

---