Aku menemukan pesan itu jam sebelas malam.
Bukan karena sengaja mengintip. Ponsel Rendra bergetar di meja makan saat aku lewat membawa segelas air — dan nama itu muncul di layar yang menyala sedetik sebelum gelap kembali.
*Wulan.*
Aku berdiri di sana dengan segelas air di tangan. Tidak bergerak.
*Wulan Andari.* Nama yang sudah delapan tahun tidak pernah disebut di rumah ini. Nama yang pernah membuat Rendra tidak bicara selama tiga hari waktu pertama kali aku tanya siapa dia. Nama yang pernah kubaca di dokumen lama yang Rendra simpan di laci paling bawah lemari: *ibu kandung Kiara, melepas hak asuh secara sukarela, tanggal dua belas Januari dua ribu lima belas.*
Kiara waktu itu tiga tahun.
Sekarang Kiara sebelas. Kelas lima. Suka cokelat panas sebelum tidur dan tidak suka kalau rambutnya diikat terlalu kencang.
Aku yang tahu itu semua.
Bukan Wulan.
---
Ponsel itu masih di meja. Rendra sudah tidur — atau aku pikir sudah tidur.
Aku tidak membuka ponselnya. Aku bukan jenis istri seperti itu. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura tidak melihat nama itu.
Aku duduk di kursi dapur sampai jam satu malam.
Ketika Rendra turun mengambil air, ia melihatku. Ekspresinya berubah dalam satu detik — sesuatu yang cepat, yang coba ia sembunyikan tapi tidak cukup cepat.
"Belum tidur?"
"Belum."
Ia mengambil air. Bergerak balik ke tangga.
"Rendra."
Ia berhenti.
"Ponselmu tadi bergetar." Aku menatap mejanya, bukan wajahnya. "Aku tidak baca. Tapi namanya kelihatan."
Hening.
Sepuluh detik yang paling panjang dalam delapan tahun pernikahan kami.
"Naira—"
"Jangan." Aku akhirnya mengangkat muka. "Jangan mulai dengan 'Naira' seperti itu. Seperti aku yang perlu ditenangkan."
Ia meletakkan gelasnya. Menghela napas.
Dan di cara ia menghela napas itu — terlalu panjang, terlalu pasrah — aku tahu.
Sebelum ia mengucapkan satu kata pun, aku sudah tahu.
---
Ia bilang "tidak ada apa-apa" dua kali. Tapi cara ia mengatakannya terlalu hati-hati untuk benar-benar tidak ada apa-apa.
Aku bilang aku mau tidur. Ia kelihatan lega.
Aku naik ke kamar. Berbaring di sebelahnya dengan mata terbuka sampai napasnya teratur — pertanda tidur — lalu aku pergi ke kamar mandi dan duduk di lantai dengan lutut dipeluk.
Delapan tahun.
Delapan tahun aku bangun sebelum Kiara untuk siapkan bekalnya. Delapan tahun aku hafal bahwa Kiara alergi udang tapi suka kerang. Delapan tahun aku yang duduk di bangku rumah sakit waktu Kiara demam dan Rendra masih meeting. Delapan tahun aku yang menemani belajar, menjahit kostum pentas, menunggu di pintu gerbang sekolah dengan payung kalau hujan tiba-tiba.
Delapan tahun.
Dan malam ini nama itu kembali.
---
Bel pintu berbunyi pukul tujuh pagi keesokan harinya — saat Kiara masih sarapan dan aku masih di dapur.
Rendra membukakan pintu.
Aku mendengar suara perempuan.
Kemudian Rendra memanggil namaku dengan nada yang aku tidak pernah dengar sebelumnya: campur aduk antara panik dan sesuatu yang menyerupai menyerah.
Aku keluar dari dapur.
Di depan pintu, berdiri seorang perempuan dengan koper kecil di tangan dan senyum yang terlatih sempurna.
Cantik. Rapi. Berdiri dengan postur orang yang terbiasa dilihat.
Matanya menemukanku — lalu turun ke arah Kiara yang muncul dari balik punggungku dengan sendok di tangan.
Sesuatu bergerak di wajah perempuan itu. Cepat. Terlalu cepat untuk aku baca.
"Naira," kata Rendra pelan, "ini... Wulan."
Aku berdiri di sana dengan celemek masih terikat di pinggang dan hati yang baru saja belajar cara runtuh dalam diam.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar