Ia membalas tiga jam kemudian.

*"Aku mengerti. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu sebelum kamu putuskan itu. Bukan tentang kita — tentang sesuatu yang kamu berhak tahu. Setelah itu aku tidak akan ganggu lagi."*

Aku membacanya di meja kerjaku sambil pura-pura fokus ke desain yang sedang kukerjakan.

Sesuatu yang kamu berhak tahu.

Kalimat itu duduk di kepalaku sepanjang hari. Seperti tamu yang tidak diundang tapi juga tidak bisa diusir karena tidak jelas apa yang ia bawa.

---

Aku membalas malam harinya.

*"Apa?"*

*"Tidak bisa lewat pesan. Minta tolong setengah jam."*

Aku tidak membalas. Tapi aku juga tidak tidur.

---

Keesokan paginya, aku pergi ke kafe yang sudah jadi tempat kerjaku dua kali seminggu — pojok dengan meja menghadap jendela, Wi-Fi yang cukup kencang, kopi yang tidak terlalu pahit.

Aryan ada di sana sebelum aku sampai.

Duduk di meja yang berbeda dari yang biasanya aku pakai — tapi dari tempat ia duduk, ia bisa melihat pintu masuk. Ia selalu seperti itu dulu: memilih tempat duduk yang memberinya visibilitas. Fotografer. Kebiasaan lama.

Ia tidak langsung mendatangiku. Hanya mengangguk.

Aku memilih untuk tidak langsung pergi.

Aku memesan kopi. Duduk di mejaku sendiri. Membuka laptop.

Sepuluh menit berlalu sebelum ia akhirnya berdiri dan mendekat.

"Boleh?"

Aku melihat kursi di depanku. Kemudian menatapnya.

Lima tahun.

Orang yang sama. Tapi tidak persis sama — ada sesuatu di cara ia berdiri yang sedikit berbeda, sedikit lebih lelah mungkin, atau lebih berat. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali. Matanya masih sama.

"Lima menit," kataku.

Ia duduk.

---

"Terima kasih," katanya.

"Jangan terima kasih dulu." Aku meletakkan jari di trackpad tapi tidak benar-benar melihat layar. "Kamu bilang ada sesuatu yang perlu aku tahu. Katakan."

Ia menghela napas. Satu tarikan yang dalam — cara orang mempersiapkan diri untuk kalimat yang sudah lama disimpan.

"Lima tahun lalu, aku tidak pergi karena aku mau."

Aku menatapnya.

"Aku pergi karena Ibumu minta."

---