Aku tidak membalas malam itu.
Tidak juga pagi harinya, ketika aku bangun dengan leher sedikit kaku karena ternyata ketiduran di sofa. Tidak waktu aku sedang sikat gigi dan melihat wajahku di cermin dan mencoba memutuskan apakah orang yang menatapku kembali terlihat seperti orang yang hidupnya tidak sedang berantakan.
Tapi aku juga tidak menghapus pesannya.
---
Lima tahun.
Aryan Kusuma, dua puluh dua tahun waktu itu, yang datang ke pameran foto kecil di sebuah galeri di Kemang dan tidak sengaja menuangkan kopi ke sketsa yang sedang kukerjakan. Yang kemudian menggantinya dengan setangkai bunga yang ia beli dari penjual di depan galeri — karena "aku tidak tahu cara minta maaf selain ini dan aku tidak tahu kamu mau apa jadi aku beli yang paling murah supaya kalau salah tidak terlalu memalukan."
Orang yang paling tidak romantis dengan cara yang paling romantis.
Dua tahun kami bersama. Dua tahun yang tidak selalu mudah — karena Aryan jenis orang yang terlalu dalam untuk diikuti dengan mudah, yang sering ada tapi juga sering di tempat lain di dalam kepalanya, yang mencintai dengan intensitas yang kadang menyenangkan dan kadang melelahkan.
Dan kemudian satu malam di tahun ketiga, ia bilang ia perlu waktu.
Waktu untuk apa, aku tanya.
Ia tidak menjawab dengan spesifik. Hanya bilang ada sesuatu yang perlu ia selesaikan dan ia tidak bisa melakukannya sambil bersama aku.
Aku menunggu dua minggu. Sebulan. Tiga bulan. Enam bulan.
Ia tidak kembali.
---
Tahun pertama setelah Aryan, aku tidak baik-baik saja.
Tahun kedua, aku mulai belajar cara baik-baik saja.
Tahun ketiga, aku bertemu Dimas di sebuah presentasi kantor yang panjang dan membosankan, dan satu-satunya hal menarik di ruangan itu adalah cara ia mencoret-coret margin dokumennya dengan sketsa kecil yang tidak ada hubungannya dengan presentasi.
Tahun keempat dan kelima, aku belajar bahwa cinta tidak harus berwarna yang sama untuk nyata.
Dan malam ini — hari pertama tahun keenam — ada cincin di jariku dan lima kata di ponselku yang tidak mau aku baca lagi tapi tidak bisa aku pura-pura tidak ada.
---
Ponselku bergetar jam sebelas malam.
Satu pesan lagi.
*"Aku tahu ini tidak adil. Aku tidak minta kamu melakukan apapun. Aku hanya mau kamu tahu."*
Aku membacanya dua kali.
Kemudian aku meletakkan ponsel menghadap bawah dan pergi ke dapur mengambil segelas air yang tidak benar-benar aku mau, berdiri di sana menatap kulkas sampai otakku tenang, dan kembali ke sofa.
Aku tahu ini tidak adil.
Setidaknya ia tahu itu.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar