Cincin itu ada di jariku sejak tiga jam yang lalu.
Aku masih sering meliriknya — bukan karena tidak percaya, tapi karena ada sesuatu yang terasa berbeda antara membayangkan momen ini dan benar-benar hidup di dalamnya. Meja makan yang sama. Lampu yang sama. Dimas di seberangku yang tersenyum dengan cara yang sudah sangat aku kenali.
"Selaras?"
"Hm?"
"Kamu melamun."
"Aku tidak melamun." Aku menatapnya. "Aku menikmati."
Ia tertawa kecil — tawa yang selalu terdengar seperti ia menemukan sesuatu lucu tapi tidak mau berlebihan menunjukkannya. Salah satu dari banyak hal kecil yang aku sukai dari Dimas: ia tidak pernah berlebihan. Dalam hal apapun.
"Kita beritahu keluarga besok?" tanyanya.
"Besok." Aku mengangguk. "Atau lusa."
"Atau lusa," ia setuju.
Kami duduk di sana dengan sisa dessert di antara kami dan lagu yang pelan dari speaker kecil di dapur — rutinitas makan malam yang sudah berjalan dua tahun. Nyaman. Hangat. Terasa seperti sesuatu yang didesain untuk bertahan lama.
---
Dimas pergi jam sepuluh malam.
Aku menutup pintu, bersandar sebentar, dan menatap cincin di jariku untuk ketiga kalinya malam ini.
Di. Jari. Manisku.
Selaras Kinasih, dua puluh enam tahun, yang lima tahun lalu tidak bisa bangun pagi karena alasan tertentu — sekarang berdiri di depan pintu apartemennya dengan cincin di tangan dan perasaan yang ia coba definisikan tapi tidak sepenuhnya bisa.
Bahagia? Iya.
Tapi ada sesuatu lain juga. Sesuatu yang lebih kecil. Sesuatu yang aku tidak mau beri nama.
Aku mengambil ponselku untuk mematikan alarm besok — dan notifikasi itu ada di sana.
Satu pesan. Dari nomor yang sudah tidak kusimpan di kontak tapi masih kutahu di luar kepala.
*"Aku masih mencintaimu."*
Lima kata.
Aku mematikan layar ponsel dan meletakkannya di meja dengan cara yang terlalu hati-hati untuk benar-benar santai.
Kemudian aku duduk di sofa dan menatap dinding selama cukup lama.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar