Dimas datang pagi hari dengan dua cangkir kopi dari kafe bawah dan senyum yang belum tahu apa-apa.
Aku membukakan pintu, menerimanya, dan mencium pipinya seperti biasa.
"Tidurmu bagaimana?" tanyanya.
"Lumayan."
"Kamu kelihatan pucat."
"Kurang tidur sedikit. Terlalu excited."
Ia tersenyum dengan cara yang percaya sepenuhnya. Dan di situlah masalahnya: Dimas selalu percaya. Bukan karena ia naif — ia orang yang cerdas, yang membaca orang dengan baik. Tapi ia percaya aku karena selama dua tahun, aku tidak pernah memberinya alasan untuk tidak percaya.
Kami sarapan di meja yang kemarin malam masih ada dessert.
Dimas bercerita tentang rencana arsitektur proyek barunya. Aku mendengarkan dan menjawab di tempat yang tepat. Otakku ada di sana — sebagian.
---
Di tengah sarapan itu, satu hal tiba-tiba sangat jelas: aku tidak pernah bercerita tentang Aryan secara penuh kepada Dimas.
Bukan karena menyembunyikan. Tapi karena di suatu titik dalam perjalanan kami, aku sudah cukup percaya bahwa Aryan adalah bagian dari masa lalu yang tidak perlu dibawa ke masa kini. Aku menyebutnya — "pernah ada seseorang, dua tahun, ia pergi" — dan Dimas tidak bertanya lebih jauh karena ia bukan jenis orang yang mengorek yang sudah berlalu.
Sekarang, duduk di meja makan sambil mendengarkan Dimas cerita tentang proyek barunya, aku menyadari bahwa "pernah ada seseorang" terlalu kecil untuk Aryan. Dan bahwa ada perbedaan antara masa lalu yang sudah selesai dan masa lalu yang hanya berhenti bergerak.
"Selaras?"
"Hm?"
"Kamu tidak minum kopinya."
Aku melihat cangkir di depanku. Masih penuh.
"Maaf. Lagi mikir sesuatu."
"Soal pertunangan?"
"Soal banyak hal." Aku mengangkat cangkir. Meneguk. "Hal yang baik."
Dimas menatapku sebentar — dengan cara yang kadang aku lupa ia lakukan, cara yang terlalu jeli untuk orang yang tampaknya santai.
Tapi ia tidak bertanya lebih jauh.
Dan aku bersyukur untuk itu. Sambil juga, di tempat yang sangat kecil di dalam dadaku, merasa sedikit bersalah karena bersyukur.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar