Nara meletakkan tehnya dan menatapku dengan ekspresi yang aku kenal sebagai ekspresi "aku sedang mempertimbangkan seberapa jujur aku harus bersikap sekarang."

"Jadi dia kirim pesan malam kamu nerima lamaran Dimas."

"Iya."

"Dan kamu tidak hapus pesannya."

"Tidak."

"Sudah berapa lama?"

"Dua hari."

Nara mengambil tehnya kembali. "Kenapa kamu tidak langsung hapus?"

Pertanyaan yang aku sudah tanya ke diri sendiri berkali-kali dan tidak punya jawaban yang memuaskan.

"Aku tidak tahu," jawabku jujur.

"Aku tahu kamu tidak tahu. Aku tanya supaya kamu juga tahu bahwa kamu tidak tahu." Nara meletakkan cangkirnya lagi. "Selaras, kalau lima kata dari seseorang yang sudah pergi lima tahun lalu cukup untuk membuat kamu tidak bisa tidur dua malam — itu bukan masalah Aryan-nya. Itu masalah sesuatu di kamu yang belum selesai."

Aku tidak menjawab.

"Aku tidak bilang kamu salah. Aku tidak bilang kamu harus melakukan sesuatu." Nara memandangku. "Aku hanya bilang: jujurlah dengan dirimu sendiri tentang kenapa kamu tidak hapus pesannya."

---

Aku pulang dari kafe itu dengan kepala yang lebih penuh dari sebelumnya.

Nara selalu seperti itu — tidak memberi jawaban, hanya memberi pertanyaan yang lebih tajam dari yang sudah ada. Kadang aku benci itu. Kadang itu satu-satunya yang aku butuhkan.

Di perjalanan pulang, aku membuka ponsel.

Pesan Aryan masih ada.

Aku mengetik balasan. Menghapusnya. Mengetik lagi.

Akhirnya, aku mengirim empat kata:

*"Jangan kirim pesan lagi."*

Dan meletakkan ponsel di dalam tas dengan gerakan yang lebih seperti orang yang meletakkan sesuatu berat, bukan yang ringan.

---