## Bab 3: Jejak yang Tak Hilang

Enam minggu setelah malam itu, Sekar masih bangun sebelum subuh.

Bukan karena tidak bisa tidur—tubuhnya yang kelelahan biasanya memaksanya pingsan begitu kepala menyentuh bantal. Tapi ada yang berbeda sejak tiga minggu ini: mual. Seperti ombak yang datang tanpa aba-aba, memukul dada dari dalam, memaksanya berlari ke kamar mandi kecil di pojok bengkel batik mereka sebelum Pak Darmo bangun dan mendengar.

Ia menggenggam tepi wastafel. Menghitung napas. Satu. Dua. Tiga.

Di cermin, wajahnya sendiri menatap balik—lebih tirus dari sebulan lalu, dengan lingkar gelap di bawah mata yang tidak bisa ia tutupi dengan bedak murah yang ia beli di pasar Demak.

Dua garis merah.

Ia sudah tahu. Sudah tiga minggu ia tahu. Dan tiga minggu itu ia habiskan untuk mengulur-ulur sesuatu yang tidak bisa diulur selamanya.

*Ini harus selesai hari ini,* katanya pada bayangan di cermin. *Kamu tidak bisa terus berpura-pura ini tidak ada.*

Ia sudah menghitung. Usia kandungan sekitar delapan minggu—kalau perhitungannya benar, kalau satu malam di hotel itu adalah malam yang dimaksud. Satu-satunya malam. Yang berakhir dengan pintu dibanting dan amplop putih di tangan.

Ironisnya. Satu-satunya malam yang terjadi antara dirinya dan Rendra Wibisono justru menghasilkan ini.

Sekar duduk di lantai kamar mandi. Punggungnya menempel di dinding yang dingin. Dan untuk pertama kali dalam enam minggu, ia membiarkan dirinya menangis sungguhan—bukan tangis yang ditahan di dalam lift hotel berbintang lima, bukan tangis yang ditelan saat berbaring sendirian di kamar kecilnya. Tangis yang sesungguhnya, berantakan dan tidak anggun, sampai bahunya berhenti bergetar dan dadanya cukup ringan untuk bisa berdiri lagi.

Setelah itu, ia mencuci muka. Menyikat gigi. Dan keluar ke dapur untuk menyiapkan sarapan Pak Darmo—karena hidup tidak berhenti hanya karena hatinya sedang hancur, dan Pak Darmo sudah cukup khawatir tanpa harus tahu betapa hancurnya.

---

Yang tidak Sekar ketahui: delapan puluh kilometer dari Demak, seseorang sedang mengurus urusan yang berkaitan langsung dengannya.

Bagas Wibisono tidak pergi ke kantor pagi itu. Ia pergi ke sebuah kafe kecil di kawasan Tembalang, duduk di pojok jauh dari jendela, dan membuka laptop dengan ekspresi orang yang sudah tidak tidur dua hari.

Di layarnya: nama Sekar Ayu Pratiwi. Di sebelahnya: nama Kevin Sanjaya—sumber rekaman audio yang malam itu mengubah segala sesuatu.

Kevin Sanjaya. Tiga puluh satu tahun. Pengusaha properti kecil di Semarang. Yang, kalau Bagas menelusuri lebih jauh, pernah berada di lingkaran sosial yang sama dengan Sekar semasa kuliah. Yang, menurut beberapa sumber yang Bagas hubungi diam-diam, sempat menunjukkan ketertarikan pada Sekar dan ditolak.

*Ditolak,* pikir Bagas sambil menyesap kopinya. *Dan dua tahun kemudian muncul dengan rekaman yang sempurna waktunya.*

Ia masih belum punya bukti konkret bahwa rekaman itu palsu—atau setidaknya, dimanipulasi. Tapi ia punya cukup pengalaman mengenal kakaknya untuk tahu: Rendra tidak melakukan sesuatu yang sebesar ini berdasarkan satu rekaman anonim, kecuali ada sesuatu yang lebih dalam yang membuat ia mudah diperalat.

Luka lama. Dari ayah mereka yang pergi dengan wanita lain ketika Rendra masih tujuh belas tahun.

Bagas menutup laptopnya. Memesan kopi kedua yang tidak ia minum. Dan mengirim pesan ke satu nomor yang sudah ia simpan sejak kemarin—nomor yang ia dapat dari sopir keluarga yang mengantar Sekar ke Demak malam itu.

*Mbak Sekar, nama saya Bagas. Saya adiknya Mas Rendra. Saya tahu ini tidak wajar, tapi saya perlu bicara. Tidak melibatkan kakak saya dulu. Apakah Mbak bersedia?*

Ia mengirimnya. Lalu menunggu. Sambil memikirkan fakta lain yang ia temukan tadi malam: tagihan hotel yang menunjukkan Nadira Kusuma memesan kamar di lantai yang sama dengan suite pengantin pada malam yang sama. Tiga kamar dari suite Rendra dan Sekar.

Terlalu banyak kebetulan untuk disebut kebetulan.

---

Di Demak, ponsel Sekar bergetar.

Ia menatap pesan itu lama—terlalu lama, sampai layar mati dan ia harus menekan tombol lagi untuk membacanya ulang.

*Adiknya Mas Rendra.*

Sekar meletakkan ponselnya di atas tumpukan kain batik yang belum jadi. Keluar ke halaman. Menatap tambak di kejauhan yang berkilau ditimpa cahaya pagi.

Dua pilihan. Balas—dan membuka pintu yang tidak tahu ke mana mengarah. Atau tidak balas—dan menutup diri dari kemungkinan apa pun, termasuk kemungkinan yang tidak mau ia akui bahwa ia masih menginginkan ada seseorang yang mau bilang *ini semua salah*.

Tangannya bergerak sebelum kepalanya memutuskan.

*Saya di Demak. Kalau Mas Bagas serius, datanglah ke sini. Saya tidak ke Semarang.*

Kirim.

Ponselnya bergetar hampir seketika.

*Besok. Jam sembilan. Boleh saya minta alamatnya?*

Sekar menatap layar itu. Menghela napas panjang.

Dan satu hal terlintas di benaknya—bukan tentang Rendra, bukan tentang rekaman itu, bukan tentang Nadira yang nomornya masih tersimpan di ponselnya dengan nama *Jangan Diangkat*. Tapi tentang dua garis merah yang masih terbungkus tisu di laci mejanya.

Sebelum bertemu adik suaminya—mantan suaminya—ada satu hal yang harus ia putuskan lebih dulu. Bagaimana ia akan menjaga rahasia ini, dan dari siapa, dan sampai kapan.

Di kejauhan, awan mendung mulai menutup tambak. Angin pesisir membawa bau garam dan hujan yang belum turun.

*Bersambung ke Bab 4: Kontrak yang Merendahkan*