## Bab 5: Hadiah yang Menghina

Cek itu tiba tiga hari setelah Bagas.

Bukan cek biasa—kertas tebal dengan logo resmi Wibisono Group di pojok kiri, nominal yang Sekar baca dua kali karena tidak percaya matanya sendiri. Lima puluh juta rupiah. Dengan memo singkat yang ditulis tangan di atas kop surat yang tampaknya dikerjakan oleh sekretaris yang terlatih untuk membuat surat-surat semacam ini tanpa pertanyaan.

*Kompensasi atas ketidaknyamanan yang terjadi. Harap tanda tangani surat pembebasan di bawah ini untuk mengakhiri segala kewajiban kedua belah pihak.*

Di bawah memo: formulir satu halaman. Dengan kolom tanda tangan di pojok kanan bawah. Dan klausa yang, kalau Sekar baca pelan-pelan, berarti ia menyetujui untuk tidak pernah menuntut apa pun dari keluarga Wibisono, dengan alasan apa pun, selamanya.

Termasuk, jika ditafsirkan secara luas, menuntut pengakuan atas anak yang sedang tumbuh di dalam perutnya.

Sekar membaca formulir itu tiga kali. Melipat ceknya rapi. Memasukkannya kembali ke dalam amplop cokelat tempat ia datang. Dan menulis empat kata di atas amplop kosong yang ia ambil dari laci Pak Darmo.

*Tidak terima. Kembalikan.*

Ia memberikan amplop itu pada tukang ojek langganan keluarga, minta diantarkan ke kantor Wibisono Group Semarang. Tanpa nama pengirim. Tanpa penjelasan.

Lalu ia pergi ke kamar, duduk di tepi ranjang, dan menyadari tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena baru sekarang otaknya benar-benar memproses ukuran dari apa yang baru saja ia tolak.

Lima puluh juta. Untuk diam. Selamanya.

*Seberapa murah mereka kira harga diamku?*

---

Dua jam kemudian, ponselnya berbunyi. Nomor yang belum ia kenal.

"Mbak Sekar?"

Suara perempuan. Halus. Terlalu halus, dengan nada yang persis seperti kapas—lembut di permukaan tapi kalau dipegang terlalu erat, menusuk.

"Siapa ini?"

"Nama saya Nadira. Saya PA keluarga Wibisono." Jeda sebentar. "Saya yang mengirimkan dokumen tadi."

Sekar tidak menjawab. Menunggu.

"Mbak Sekar, saya mengerti ini mungkin terasa tidak—nyaman." Kata *tidak nyaman* diucapkan dengan presisi yang membuat Sekar tahu Nadira sudah memilih kata itu dengan sangat hati-hati. "Tapi saya ingin memastikan Mbak memahami situasinya dengan jelas. Keluarga Wibisono tidak bermaksud tidak baik. Cek itu adalah—"

"Borgol emas," kata Sekar.

Hening.

"Maaf?"

"Cek itu borgol emas," ulangi Sekar. "Biar kelihatan seperti pemberian, tapi fungsinya mengunci. Saya paham situasinya, Mbak Nadira. Dan saya sudah mengembalikannya."

Lagi-lagi hening—lebih panjang kali ini. Ketika Nadira bicara lagi, lapisan kapasnya sudah berkurang satu.

"Mbak Sekar, ini demi kepentingan semua pihak. Termasuk Mbak sendiri."

"Kepentingan siapa yang lebih besar ditentukan dari siapa yang lebih banyak punya yang bisa hilang." Sekar berdiri, berjalan ke jendela. "Dan saat ini, Mbak Nadira, saya tidak punya banyak yang bisa hilang. Jadi saya tidak terlalu takut."

*Bohong.* Ia sangat takut. Tapi itu bukan informasi yang perlu Nadira miliki.

Telepon diputus dari ujung sana. Sekar menatap layar ponselnya—*Panggilan Berakhir: 2 menit 14 detik*—dan menyadari jantungnya berdegup terlalu cepat.

Ia menaruh ponsel. Berjalan ke kamar mandi. Menghitung napas lagi—satu, dua, tiga—sampai mual yang datang tiba-tiba itu mereda.

Di cermin: wajahnya sendiri, pucat, dengan satu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab: *sampai kapan?*

---

Yang Sekar tidak tahu: saat ia menutup pintu kamar mandinya, Bagas Wibisono sedang berdiri di depan meja kerja Nadira di kantor pusat Wibisono Group, dengan ekspresi yang membuat sekretaris di sekeliling mereka pura-pura sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

"Kamu meneleponnya," kata Bagas. Bukan pertanyaan.

Nadira tidak berkedip. "Itu bagian dari tugas saya. Memastikan dokumen hukum diproses—"

"Dokumen itu belum final." Bagas meletakkan kedua telapak tangannya di atas mejanya, membungkuk sedikit. Suaranya diturunkan tapi bukannya lebih ramah. "Dan kamu tahu itu. Jadi coba lagi: kenapa kamu meneleponnya sebelum proses selesai?"

"Bagas—"

"Mas Bagas." Ia meluruskan badan. "Dan jawab pertanyaan saya."

Nadira tersenyum tipis. Senyum yang terlalu terlatih untuk terlihat wajar. "Saya hanya menjalankan instruksi Bu Hartini."

Bagas menatapnya tiga detik penuh. Lalu berbalik dan pergi—karena ia sudah mendapat jawaban yang ia butuhkan, meski bukan dari kata-kata Nadira. Dari senyum itu. Dari cara Nadira menyebut nama ibunya seperti perisai.

Di kantornya sendiri, ia mengunci pintu dan membuka laptop.

Ia perlu bukti. Dan waktunya dua minggu sudah berkurang tiga hari.

Di file yang sudah ia buka sejak kemarin: rekaman audio yang dikirim Nadira ke Rendra. Rekaman yang sudah ia analisis dengan perangkat lunak sederhana—dan menemukan satu anomali kecil di menit kedua dua puluh tiga detik.

Potongan. Nyaris tidak terdengar jika tidak tahu mencarinya.

Seseorang mengedit rekaman itu.

*Bersambung ke Bab 6: Sendirian Menanggung*

Ia meraih ponselnya. Menghubungi satu nomor yang sudah ia simpan jauh sebelum semua ini terjadi—nomor seorang teman lama yang bekerja di bidang forensik digital.

"Hei," katanya begitu tersambung. "Aku butuh kamu analisis sesuatu. Segera. Dan jangan bilang siapa pun dulu."

Sambil menunggu jawaban, Bagas menatap satu foto di layar laptopnya: foto CCTV lobi Hotel Majapahit, malam pernikahan Rendra, jam sebelas malam—dua jam sebelum Sekar terlihat keluar sendirian dengan koper.

Di sudut kiri frame: sosok perempuan berambut panjang, mengenakan gaun hitam, berjalan menuju lift dengan amplop di tangan.

Amplopnya sama dengan yang Rendra pegang saat membuka pintu.

Bagas memperbesar gambar. Menahan napas.

Wajah perempuan itu jelas di frame berikutnya—saat ia berbalik sejenak karena seseorang memanggilnya dari resepsionis.

Nadira Kusuma. Jam sebelas malam. Di lantai yang sama. Dengan amplop yang sama.

Bukti pertama.