## Bab 4: Kontrak yang Merendahkan

Bagas Wibisono tiba di Demak jam delapan lewat empat puluh—dua puluh menit lebih cepat dari yang dijanjikan, dengan mobil biasa bukan SUV hitam berplat Wibisono Group yang biasa ia kendarai ke mana-mana. Detail kecil yang Sekar perhatikan dari jendela saat ia memarkir.

Ia tidak membawa sopir.

*Dia tidak ingin diketahui kakaknya,* pikir Sekar. Entah itu kabar baik atau buruk.

Pak Darmo yang membukakan pintu, mempersilakan masuk dengan ramah yang sederhana—teh dan singkong rebus yang sudah disiapkan sejak subuh karena Pak Darmo selalu menyiapkan sesuatu kalau ada tamu. Bagas duduk di kursi kayu tua ruang tamu mereka tanpa canggung, menerima teh dengan kedua tangan, menunggu sampai Pak Darmo pamit ke bengkel sebelum bicara.

"Mbak Sekar," katanya akhirnya. "Terima kasih mau ketemu."

Sekar duduk di seberangnya dengan punggung tegak. "Mas Bagas bilang serius. Jadi saya tunggu serius."

"Rekaman yang Mas Rendra dengar sebelum akad." Bagas langsung ke inti—sesuatu yang Sekar respek meski tidak ia tunjukkan. "Itu dari Kevin Sanjaya. Saya hampir yakin rekaman itu dimanipulasi, atau minimal dikontekstualisasikan secara salah. Saya sedang cari buktinya."

Sekar tidak berkedip. "Hampir yakin?"

"Belum punya cukup bukti untuk konfrontasi." Jujur. Langsung. "Tapi saya perlu tahu dari Mbak: nama Kevin Sanjaya, Mbak kenal?"

"Kenal." Satu kata. Datar. "Kami satu kampus. Dia pernah—" Sekar menghentikan dirinya. Merumuskan ulang. "Dia pernah ingin lebih dari teman. Saya bilang tidak. Setelah itu tidak ada hubungan apa pun."

"Berapa tahun lalu?"

"Tiga tahun. Sebelum wisuda."

Bagas mengangguk. Mencatat sesuatu di ponselnya. "Dan tidak ada insiden lain setelahnya? Tidak ada kontak?"

"Tidak. Sampai semalam saya sadar dia yang mengirim pesan dengan emoji senyum setelah—" Sekar berhenti lagi. *Setelah pintu itu tertutup di hadapan saya.* "Setelah malam itu."

Bagas mendongak. Sesuatu berkilat di matanya—bukan kasihan, tapi sesuatu yang lebih berguna: marah yang terkendali. "Mbak masih punya pesan itu?"

"Ada."

"Boleh saya screenshot-kan?"

Sekar memberikan ponselnya. Bagas mengambil foto layar dengan cepat, profesional. Mengembalikannya tanpa membaca hal lain. "Satu hal lagi." Ia berhenti sebentar. "Kondisi Mbak sekarang bagaimana?"

Pertanyaan yang sangat umum. Tapi matanya tidak umum—ada sesuatu di tatapan itu yang membuat Sekar merasa seperti Bagas sudah tahu jawaban yang sebenarnya dan hanya menunggu apakah ia akan jujur atau tidak.

"Baik," jawab Sekar.

Bagas tidak mengejar. Ia menyesap tehnya. Menatap anyaman dinding bambu di belakang Sekar. Dan berkata, dengan nada yang berubah sedikit—lebih hati-hati: "Mas Rendra sudah minta pengacara keluarga untuk memproses dokumen talak secara resmi. Kalau tidak ada yang menghentikannya, tiga minggu lagi semuanya legal."

Sekar tahu itu. Sudah ia hitung. Sudah ia terima.

"Dan?" suaranya tidak bergetar. Keberhasilan kecil yang ia syukuri dalam hati.

"Dan Ibu saya—Bu Hartini—sudah mendengar bahwa pernikahan itu berakhir." Bagas menatapnya. "Ibu saya, Mbak, adalah wanita yang sangat peduli pada nama keluarga Wibisono. Kalau sampai terungkap ada... konsekuensi lain dari malam itu, sebelum dokumen talak selesai diproses—situasinya bisa sangat rumit untuk Mbak."

Hening sejenak.

Sekar menatap pemuda di depannya. Dua puluh enam tahun. Adik dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya dalam semalam. Dan entah kenapa, dari sekian banyak orang yang sudah ia temui sejak malam itu—ia adalah orang pertama yang berbicara padanya seperti berbicara pada orang dewasa yang setara, bukan seperti masalah yang perlu dibereskan.

"Apa yang Mas Bagas inginkan dari pertemuan ini?" tanyanya langsung.

Bagas meletakkan gelasnya. "Saya ingin waktu. Dua minggu untuk mengumpulkan bukti tentang Kevin dan Nadira. Setelah itu saya akan bicara pada Mas Rendra." Ia menatap Sekar. "Tapi saya tidak bisa menjamin hasilnya."

"Saya tidak minta jaminan." Sekar berdiri. Berjalan ke jendela, menatap tambak di kejauhan. Punggungnya ke Bagas. "Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

"Selama dua minggu ini, tidak ada satu pun dari keluarga Wibisono yang menghubungi Pak Darmo. Bapak saya tidak tahu apa-apa. Dan tidak boleh tahu dulu." Ia memutar badan, menatap Bagas langsung. "Itu harga saya."

Bagas mengangguk tanpa ragu-ragu.

"Satu lagi." Sekar mengambil amplop dari dalam laci meja kayu tua di sudut ruangan—amplop yang sudah ia keluarkan dan masukkan kembali berkali-kali selama tiga minggu ini. "Ini." Ia meletakkannya di meja di depan Bagas.

Bagas membukanya. Membaca.

Ekspresinya tidak berubah banyak—tapi rahangnya mengeras sedikit.

Di dalam amplop: dua lembar. Satu dokumen talak yang sudah distempel notaris. Dan satu hasil tes kehamilan dari klinik sederhana di Demak—bukan test pack dari apotek, tapi pemeriksaan resmi yang sudah ia lakukan kemarin diam-diam setelah ia putuskan bahwa penyangkalan tidak membantu siapa pun.

"Empat belas minggu lagi," kata Sekar, suaranya datar seperti membaca daftar belanja, "kalau tidak ada yang berubah, tidak akan mungkin disembunyikan lagi."

Bagas menutup amplop. Mengembalikannya dengan cara yang sama seperti ia mengembalikan ponsel—cepat, bersih, tanpa drama.

"Dua minggu," katanya. "Saya pegang janji."

Ia berdiri, menarik kunci mobilnya. Di ambang pintu, berbalik sekali lagi. "Mbak—ini bukan urusan kakak saya lagi saja. Ini juga tentang kamu. Kalau ada yang tidak nyaman, langsung hubungi saya."

Sekar tidak menjawab. Hanya mengangguk sekali, pelan.

Pintu tertutup. Suara mobilnya menjauh.

Dan Sekar berdiri sendirian di ruang tamu yang berbau teh dan kayu tua, amplop di tangannya, menatap dinding bengkel yang sudah ia kenal sejak kecil, mencoba menemukan satu titik pegangan di antara semua yang sedang bergerak di luar kendalinya.

Di luar, Pak Darmo menyanyi pelan sambil menorehkan canting. Lagu Jawa lama. Yang sama persis seperti yang selalu ia nyanyikan saat Sekar kecil sulit tidur.

Sekar menarik napas. Memasukkan kembali amplop ke dalam laci. Dan pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang.

*Bersambung ke Bab 5: Hadiah yang Menghina*