## Bab 2: Kesadaran Pahit

Rendra Wibisono tidak tidur malam itu.

Ia duduk di tepi ranjang suite yang tidak pernah digunakan—seprei masih rapi, bantal masih tersusun, seluruh ruangan berbau mawar dan champagne yang sudah ia minta disingkirkan semua sebelum masuk—dan menatap layar ponselnya yang menampilkan satu rekaman audio berdurasi empat menit tiga puluh dua detik.

Rekaman yang ia terima dua jam sebelum akad nikah.

Pengirimnya: Nadira Kusuma. PA ibunya. Wanita yang sudah bekerja untuk keluarga Wibisono selama enam tahun. Wanita yang tiga tahun lalu pernah hampir menjadi lebih dari sekadar PA—sebelum Rendra memutuskan bahwa mencampur urusan kantor dengan urusan hati hanya akan menghasilkan komplikasi yang tidak ia butuhkan.

Isi rekaman itu: suara seseorang yang mengaku teman lama Sekar, bercerita—dengan nada penyesalan yang terdengar palsu bahkan di telinga Rendra—tentang bagaimana Sekar "tidak seperti yang keluarganya ceritakan". Tentang nama seorang pria. Tentang sebuah malam di Semarang, dua tahun lalu.

Rendra memutarnya tiga kali. Bukan karena meragukan pendengarannya. Tapi karena ia—untuk pertama kali dalam hidupnya yang selalu terencana—tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan informasi yang terasa sangat meyakinkan namun juga, di suatu sudut kecil pikirannya yang tidak mau ia dengarkan, terasa terlalu sempurna waktunya.

Dua jam sebelum akad.

Bukan tiga hari. Bukan seminggu. Dua jam.

*Siapa pun yang mengirim ini,* pikirnya waktu itu, *ingin kamu bereaksi tanpa berpikir.*

Dan ia tetap bereaksi. Karena luka yang ditanamkan ayahnya bertahun-tahun lalu—luka tentang kepercayaan dan pengkhianatan dan wanita yang tampak sempurna di permukaan—lebih keras berteriak daripada suara kecil yang memintanya berpikir jernih.

Kini, di kesunyian kamar suite jam dua pagi, suara kecil itu terdengar lebih keras.

Ia membuka galeri foto. Foto-foto yang secara resmi sudah ia hapus dari feed Instagram-nya tapi belum dari folder tersembunyi: dokumentasi tiga bulan penjajakan dengan Sekar Ayu Pratiwi. Anak pengrajin batik dari Demak yang entah bagaimana menghadiri pameran kerajinan di Semarang Convention Center dan berbicara tentang filosofi motif mega mendung dengan cara yang membuat Rendra berhenti di depan stand-nya padahal ia sudah terlambat rapat.

Tidak ada foto yang salah dalam galeri itu. Tidak ada momen yang terasa dibuat-buat. Sekar adalah wanita yang—ketika ia tidak tahu sedang diperhatikan—memperlakukan pelayan restoran dengan sopan yang sama persis seperti saat ia bicara dengan Direktur Utama Wibisono Group.

Rendra meletakkan ponsel. Menatap langit-langit.

*Kamu sudah membuat keputusan. Selesai.*

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Berhasil. Sampai subuh—saat ia mendengar lift di ujung lorong berbunyi, dan suara roda koper kecil yang menyusuri karpet merah, dan langkah kaki yang stabil, tidak tergesa, tidak tersedu, meninggalkan lantai dua belas.

---

Sekar tiba di Demak jam empat pagi, naik taksi online yang pengemudinya untungnya tidak banyak bicara.

Pak Darmo tidak kaget melihatnya muncul dengan gaun pengantin dan koper kecil. Hanya membuka pintu lebih lebar, masuk ke dapur, dan keluar lima menit kemudian dengan dua gelas teh jahe.

"Kapan terakhir makan?" tanyanya.

"Di resepsi tadi." *Tadi. Kemarin sekarang.* "Sedikit."

Pak Darmo mengangguk. Menaruh teh di depannya. Duduk di kursi seberang.

Mereka tidak bicara sampai teh habis.

"Pak," Sekar akhirnya membuka suara. "Maaf."

"Anak Bapak tidak perlu minta maaf karena pulang ke rumah sendiri." Pak Darmo menyesap tehnya pelan. "Yang perlu minta maaf adalah orang yang bikin kamu harus pulang jam segini."

Sekar menunduk. Ibu jarinya memutar-mutar cincin kawin yang masih terpasang di jarinya—lupa atau tidak ingin melepas, ia sendiri tidak tahu.

Yang tidak ia katakan pada Pak Darmo malam itu: dua garis merah yang masih terbungkus tisu di tas tangannya. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar pernikahan yang gagal dalam semalam.

Sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun dulu—termasuk bapaknya.

---

Sementara itu, di lantai tujuh belas gedung Wibisono Group Semarang, lampu ruang kerja masih menyala jam enam pagi.

Bagas Wibisono, adik Rendra yang empat tahun lebih muda dan seratus kali lebih cerewet, berdiri di depan pintu ruang kerja kakaknya dengan dua kopi dan satu ekspresi yang campuran antara kasihan dan kesal.

"Mas," katanya, mendorong pintu. "Kata Pak Aryo kamu sudah di sini dari jam lima. Resepsinya kan baru selesai jam—" Ia berhenti. Melihat wajah kakaknya. "Oh."

Rendra tidak mendongak dari layar laptop. "Tutup pintunya."

"Mas—"

"Bagas."

Bagas menutup pintu. Maju. Meletakkan dua kopi di meja. Duduk di kursi tamu tanpa dipersilakan—karena ia tidak pernah menunggu dipersilakan. "Apa yang terjadi?"

"Tidak ada yang perlu dibahas."

"Pernikahan kakakku berakhir sebelum matahari terbit dan tidak ada yang perlu dibahas." Bagas menyandarkan diri. "Oke. Tapi aku dengar dari Pak Aryo kamu mengirim dokumen talak semalam. Dan aku dengar dari Bu Hartini bahwa Mbak Sekar sudah tidak ada di hotel."

"Informasi yang akurat."

Bagas diam sebentar. Menatap kakaknya yang menatap layar laptop. Lalu berkata, pelan: "Rekaman itu dari Nadira, bukan?"

Akhirnya Rendra mendongak.

Bagas tidak tersenyum. "Aku tahu Nadira, Mas. Lebih dari yang Mas kira. Dan waktunya terlalu sempurna untuk kebetulan."

*Bersambung ke Bab 3: Jejak yang Tak Hilang*

Rendra menatap adiknya lama. Sesuatu bergerak di belakang matanya—keraguan yang tidak mau ia akui, yang sudah ia kubur sejak jam dua pagi namun rupanya belum cukup dalam.

"Kalau pun begitu," katanya akhirnya, suaranya kembali datar, "keputusan sudah dibuat."

"Dan konsekuensinya belum selesai, Mas." Bagas berdiri, mengambil kopinya. "Belum selesai sama sekali."

Ia pergi meninggalkan satu kopi yang tidak diminum dan satu kalimat yang menggantung di udara ruang kerja yang terlalu dingin itu—pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan lantang namun keduanya tahu ada: *Apa yang terjadi pada Mbak Sekar sekarang?*