## Bab 1: Malam yang Salah Nama
Gaun pengantin itu masih menempel di tubuh Sekar Ayu Pratiwi saat pintu kamar suite Hotel Majapahit terbanting di hadapannya.
Bukan dibanting suaminya dari dalam.
Dibanting oleh suaminya—dari luar. Menutup dirinya keluar.
"Rendra—" Suaranya patah. Ia mengetuk. Sekali. Dua kali. "Rendra, tolong dengarkan aku dulu—"
"Tidak ada yang perlu didengar."
Suara itu datang dari balik pintu, dingin seperti lantai marmer yang kini menopang Sekar yang hampir jatuh. Rendra Wibisono. Tiga puluh tahun. Pewaris Wibisono Group. Suaminya—sejak tujuh jam yang lalu, di depan penghulu, dua ratus undangan, dan buffet mewah yang belum sempat ia sentuh karena gugup.
Tujuh jam. Dan semuanya sudah selesai.
"Kamu pikir aku tidak tahu?" Suara Rendra meninggi dari balik pintu, tapi tetap terkendali—suara orang yang terbiasa marah tanpa perlu berteriak. Jauh lebih menakutkan dari teriakan. "Aku sudah tahu semuanya sebelum malam ini, Sekar. Aku hanya ingin melihat seberapa jauh kamu berani berbohong."
*Aku tidak bohong tentang apa pun.*
Tapi kalimat itu macet di tenggorokan. Karena Sekar tahu apa yang Rendra maksud—atau lebih tepatnya, apa yang sudah ditanamkan seseorang ke telinga Rendra sebelum malam pertama mereka bahkan dimulai.
Seseorang. Dan Sekar tahu persis siapa.
"Rendra." Ia menekan punggungnya ke pintu, lututnya lemah. "Apa yang kamu dengar itu tidak benar. Beri aku kesempatan untuk—"
Pintu terbuka.
Bukan karena Rendra membukanya dengan lembut. Tapi karena ia menarik pegangan pintu keras-keras, dan Sekar yang bersandar nyaris terjungkal ke dalam. Tangan Rendra—tangan yang tadi memasang cincin di jarinya—kini memegang amplop putih, menyodorkan ke hadapan Sekar.
"Ini," katanya.
Sekar menatap amplop itu. Tebal. Resmi. Sudah ada tanda tangan notaris di pojok kanan atas.
"Apa ini?"
"Kamu cerdas. Baca sendiri."
Jari Sekar gemetar membuka lipatan atas amplop. Ia menarik satu lembar kertas—dan kata pertama yang ia baca membuat penglihatannya kabur seketika.
*Talak.*
Satu kata. Tiga huruf. Dan tujuh jam pernikahannya runtuh seperti pasir.
"Ini—" Ia mendongak. Matanya terbakar tapi ia menolak menangis di hadapan pria ini. "Ini kamu serius?"
"Sangat serius." Rendra menyilangkan lengan di depan dada, bersandar di kusen pintu. Kemeja putihnya masih rapi. Dasi hitamnya belum dilepas. Ia tampak seperti baru selesai rapat direksi, bukan baru menikah. "Kompensasi untuk keluargamu sudah ditransfer tadi sore. Mahar sudah dibayarkan sesuai yang disepakati. Kamu boleh ambil semua bawaan yang kamu bawa. Dan besok pagi, tolong tidak ada di sini sebelum aku turun sarapan."
"Rendra—"
"Saya hanya tidak mau istri saya sudah menjadi milik orang lain sebelum jadi milik saya." Kata-katanya jatuh seperti batu ke air diam. Pelan. Tepat. Menenggelamkan. "Itu saja alasannya. Tidak ada yang perlu diperdebatkan."
Sekar menatapnya.
Rendra menatap balik—dengan tatapan yang, untuk pertama kalinya sejak tiga bulan perkenalan dan penjajakan dan dua keluarga saling bernegosiasi, benar-benar kosong. Tidak ada amarah. Tidak ada penghinaan. Lebih buruk dari itu: tidak ada apa-apa.
Seperti Sekar adalah selembar kontrak yang sudah ditandatangani lalu dibuang.
Ia menelan ludah. Menggenggam amplop itu sampai ujung-ujungnya lecek di tangannya.
"Siapa yang bilang itu kepadamu?" Suaranya hampir tidak keluar.
Rendra menutup pintu.
Pelan kali ini. Bunyi *klik*-nya terdengar lebih keras dari tadi.
Sekar berdiri di lorong hotel bintang lima, gaun pengantinnya menyapu lantai marmer, amplop talak di tangan, dan dua ratus tamu yang tadi bertepuk tangan bahagia kini sudah pulang ke rumah masing-masing—tidak tahu bahwa pernikahan yang mereka rayakan sudah berakhir sebelum subuh.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang sudah lama ia simpan dengan nama *Jangan Diangkat*.
Satu emoji senyum.
Hanya itu.
Sekar mematikan layar ponselnya. Memasukkannya ke dalam clutch satin putih yang tidak lagi relevan. Dan berjalan menuju lift—punggung tegak, langkah stabil, seperti yang selalu diajarkan ibunya sebelum beliau meninggal.
*Jangan biarkan mereka melihatmu jatuh, Nduk. Jatuhnya nanti. Di tempat yang kamu pilih sendiri.*
Air matanya baru jatuh di dalam lift, saat pintu besi menutup dan tidak ada yang melihat.
---
Tiga minggu kemudian, Pak Darmo memandangi putrinya yang duduk di bangku depan tungku lilin, tangan di pangkuan, menatap tidak ke mana-mana.
Bengkel batik mereka di pinggiran Demak berbau malam dan kain basah. Bulan belum penuh. Lampu jalan di luar berkedip.
"Mau cerita?" tanya Pak Darmo, tanpa mendongak dari cantingnya.
"Tidak ada yang perlu diceritakan, Pak."
"Berarti masih banyak yang perlu diceritakan." Pak Darmo meletakkan cantingnya. Menatap putrinya. Lelaki enam puluh tahun itu punya tangan kasar pembatik dan mata tajam ayah. "Tapi tidak apa-apa. Benteng ini tidak kemana-mana, Nduk. Kamu boleh diam sepuasnya di sini."
Sekar mengangguk. Pelan.
Yang tidak ia ceritakan pada Pak Darmo: amplop talak yang ia lipat rapi di antara halaman buku diary lamanya. Ponsel yang terus bergetar dengan nomor-nomor yang tidak ia kenal. Dan satu fakta kecil yang baru ia temukan dua hari lalu—saat ia terlambat dua minggu dan akhirnya membeli test pack di apotek dua kecamatan jauhnya agar tidak ada yang mengenalinya.
Dua garis.
*Bersambung ke Bab 2: Kesadaran Pahit*
Sekar mengeluarkan test pack itu dari dalam sakunya—dibungkus tisu, disimpan rapat sejak dua hari lalu karena ia belum tahu harus meletakkannya di mana dalam hidupnya yang sudah tidak punya tempat yang jelas.
Dua garis merah.
Milik pria yang sudah menalaknya sebelum matahari terbit di malam pernikahan mereka.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar