Ada yang namanya Ryan Saputra di tim kami.

Aku tidak langsung memperhatikannya di minggu pertama—ia di divisi yang berbeda, sesekali mampir ke area kami untuk koordinasi. Tapi di minggu ketiga, ketika proyek fashion brand mulai intens dan kami sering kerja lembur, Ryan mulai mampir lebih sering.

"Mau kopi?" ia menawarkan suatu sore, berdiri di sisi mejaku dengan dua cangkir di tangan.

"Oh—terima kasih." Aku menerimanya. "Ryan, kan?"

"Iya." Ia tersenyum. Wajahnya ramah dengan cara yang tidak memaksa—tipe orang yang mudah diajak bicara. "Kamu Karra. Tahu dari Dimas. Katanya kamu sama Aryo yang pegang proyek fashion brand."

"Betul."

"Proyek bagus. Kliennya demanding tapi hasilnya pasti seru."

Kami bicara beberapa menit—tentang proyek, tentang industri, tentang kantornya yang sebelum Magna Kreasi. Obrolan yang ringan dan tidak ada agenda tersembunyi di dalamnya.

Ketika Ryan pergi, aku kembali ke layarku.

Aryo, dari sisi mejanya, tidak berkata apa-apa.

Tapi malam itu, waktu kami berdua masih di kantor menyelesaikan revisi, Aryo berkata tiba-tiba: "Ryan orangnya baik."

Aku menoleh. "Iya. Kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa." Ia mengetik sesuatu. "Hanya observasi."

Aku mempersempit mata. Ada sesuatu di nada itu yang tidak sepenuhnya netral, tapi aku tidak bisa menunjuk tepatnya di mana.

"Kamu kenal dia sebelumnya?"

"Satu proyek, setahun lalu."

"Dan?"

Aryo melirik sebentar. "Dan apa?"

"Kamu bilang 'Ryan orangnya baik' dengan nada yang kedengarannya seperti ada *tapi* di belakangnya."

Ia diam sebentar. Kemudian: "Dia baik. Hanya..." satu jeda. "Dia tipe yang semua orang suka tapi tidak ada yang tahu betul-betul kenal."

Aku mempertimbangkan kalimat itu. "Itu bukan hal buruk."

"Aku tidak bilang buruk."

"Tapi ada sesuatu yang kamu tidak bilang."

Aryo menutup laptopnya setengah dan menoleh ke arahku. "Kamu pernah punya teman yang tiba-tiba dekat banget sama kamu, tapi ketika ada kepentingan tertentu selesai, mereka juga yang pertama menghilang?"

Aku menatapnya. "Itu pengalamanmu sama dia?"

"Itu pengalaman beberapa orang yang aku kenal yang pernah dekat sama dia." Ia membuka laptopnya lagi. "Bukan gosip. Hanya—pertimbangan."

Hening sebentar.

"Kenapa kamu cerita itu ke aku?" tanyaku akhirnya.

Aryo tidak langsung menjawab. Ia mengetik beberapa baris, kemudian berhenti.

"Karena kamu baru di sini dan aku pikir informasi itu berguna." Ia tidak menoleh. "Dan karena kamu tadi bicara sama dia cukup lama untuk ukuran orang yang baru kenal."

Aku menatap sisi wajahnya. Rahangnya tegas menghadap layar. Tidak ada yang bisa aku baca dari sudut ini.

"Aryo."

"Hm."

"Itu terdengar seperti kamu memperhatikan."

Satu detik jeda yang sangat kecil sebelum ia menjawab: "Aku memperhatikan semua orang di tim. Itu bagian dari kerja."

"Aku bukan bagian dari timmu secara hierarki. Kita co-lead."

"Co-lead tetap tim yang sama."

Aku tidak bisa membantah logikanya. Jadi aku kembali ke layarku.

Tapi ada sesuatu yang terus berputar di belakang kepala—cara ia menyampaikan informasi itu, bukan sebagai peringatan keras tapi sebagai *pertimbangan*, dengan nada seseorang yang sudah berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk mengatakan sesuatu.

Itu bukan cara orang berbicara tentang sesuatu yang tidak peduli.

Dan aku—yang selalu bisa menganalisis data dengan dingin—tidak sepenuhnya tahu harus melakukan apa dengan fakta itu.