Ada tiga hal yang aku yakini sejak SMA: satu, kerja keras tidak pernah mengkhianati; dua, kopi hitam tanpa gula adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal di dunia ini; tiga, Aryo Baskara adalah manusia paling menyebalkan yang pernah diciptakan Tuhan.
Sampai hari ini, keyakinan pertama dan kedua tidak pernah goyah.
Keyakinan ketiga baru saja diuji dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan.
"Karra Adinda."
Nama itu dipanggil dari depan ruangan. Aku berdiri, merapikan blazer abu-abu yang sudah kupakai sejak jam tujuh pagi, dan berjalan menuju meja resepsionis Magna Kreasi—perusahaan kreatif nomor satu di Jakarta yang sejak tiga tahun lalu jadi target utama di papan rencana karierku.
"Selamat datang." Perempuan HR itu tersenyum. "Tim Anda sudah menunggu di lantai empat. Divisi Strategi Konten."
*Tim saya.* Dua kata yang terdengar seperti musik.
Lift berhenti di lantai empat. Pintu terbuka.
Dan di sana, berdiri di depan meja paling dekat dengan jendela—dengan secangkir kopi di tangan, kemeja putih lengan panjang digulung sampai siku, dan ekspresi yang sama persis seperti terakhir kali aku lihat tiga tahun lalu di podium lomba debat nasional—
Aryo Baskara.
Ia menoleh. Matanya memproses wajahku selama dua detik.
Kemudian sudut bibirnya naik sedikit. "Karra Adinda. Ternyata saingan lamaku yang jadi rekan kerja baru."
Aku menarik napas panjang.
*Kerja keras tidak pernah mengkhianati.* Kalimat itu aku ulang tiga kali dalam kepala.
"Aryo Baskara." Aku mempertahankan nada suaraku setara. "Masih suka datang lebih awal supaya terlihat rajin?"
"Masih suka pura-pura santai padahal deg-degan?"
Dua detik hening.
Lalu seorang pria berkacamata muncul dari balik partisi—mungkin tigapuluhan, ekspresi ramah tapi matanya menilai cepat. "Oh, kalian sudah kenalan! Bagus." Ia mengulurkan tangan ke arahku. "Aku Dimas, team lead kalian. Dan meja kalian—" ia menunjuk ke area tengah ruangan, "—bersebelahan. Harap saling bersinergi."
Aku menatap meja itu.
Dua meja yang digabung jadi satu unit, dipisahkan hanya oleh sekat tipis setinggi bahu yang jelas tidak cukup untuk memisahkan apa pun yang berarti.
Aryo sudah berdiri di sisi kirinya. Ia menatapku dengan ekspresi yang aku benci karena tidak bisa aku baca dengan sempurna—tidak sepenuhnya menang, tidak sepenuhnya netral.
"Pilih sisimu," katanya.
Aku melempar tas ke meja kanan, duduk, dan membuka laptop dengan cara yang aku harap terlihat lebih tenang dari yang aku rasakan.
Ini bisa kutangani.
Tiga tahun. Sudah tiga tahun sejak terakhir aku bertemu Aryo di babak final lomba debat tingkat nasional—lomba yang harusnya jadi puncak karier SMA-ku, yang berakhir dengan namanya yang dipanggil sebagai pemenang dan aku yang berdiri dua langkah di belakangnya dengan piala kedua di tangan.
Bukan karena aku kalah argumen. Tapi karena juri memilih gaya penyampaiannya yang lebih *mengalir* dibanding pendekatan dataku yang lebih *terstruktur*. Kata-kata tepat dari formulir penilaian yang aku baca tiga kali sebelum melipatnya rapi dan menyimpannya di laci paling bawah lemari kamarku.
Aku tidak dendam.
Aku hanya tidak pernah lupa.
Dan sekarang pria itu duduk satu meter dari siku kiriku, mengetik sesuatu di laptopnya dengan kecepatan yang tidak perlu tapi entah kenapa terasa seperti pamer.
"Kamu ngetik keras banget," kata Aryo tanpa mengangkat mata.
"Itu cara normalku ngetik."
"Kedengarannya kayak orang lagi marah."
"Aku tidak marah."
"Aku tidak bilang kamu marah. Aku bilang kedengarannya kayak—"
"Aryo."
Ia mengangkat muka. Satu alis naik.
"Kita bekerja di sini," kataku. "Jadi kita akan profesional. Kita tidak akan membawa hal-hal lama ke tempat kerja. Kita akan bersikap dewasa dan kooperatif dan—"
"Kamu sudah latihan kalimat itu di lift?"
Aku menutup mulut.
Ia kembali ke laptopnya. "Setuju. Profesional. Kooperatif." Satu jeda. "Tapi kamu masih ngetik keras."
Di luar jendela lantai empat, Jakarta bergerak seperti biasa—tidak peduli bahwa di dalam gedung ini, di satu sudut ruangan, sebuah gencatan senjata baru saja disepakati oleh dua orang yang sama-sama tahu bahwa itu mungkin tidak akan bertahan lebih dari sehari.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar