Dua minggu berlalu.

Aku mulai bisa memetakan ritme Aryo seperti aku memetakan data—dengan observasi yang konsisten dan kesimpulan yang tidak melibatkan perasaan apa pun.

Ia datang jam delapan kurang sepuluh setiap hari. Minum kopi pertama sebelum membuka laptop. Punya kebiasaan mengetuk-ngetuk pulpen ke meja saat sedang berpikir keras—bukan keras, lebih ke ritme pelan yang kalau aku tidak aktif mengabaikannya bisa jadi sangat mengalihkan perhatian. Dan ia selalu membaca pesan terakhir kali sebelum pulang, memastikan tidak ada yang terlewat.

Detail-detail kecil yang aku catat bukan karena tertarik, tapi karena bekerja satu meter dari seseorang selama delapan jam sehari memang membuat kamu memerhatikan hal-hal seperti ini. Otomatis.

Yang tidak otomatis adalah fakta bahwa ia juga tampaknya memetakan ritme-ku.

Itu aku sadari pada Rabu di minggu ketiga.

Kami sedang mengerjakan revisi kedua proposal kampanye. Deadline besok pagi. Sebagian besar tim sudah pulang, tinggal kami berdua dan Dimas yang masih di ruang rapat.

"Kamu makan siang tadi?" tanya Aryo tiba-tiba.

Aku tidak mengangkat mata dari layar. "Kenapa?"

"Karena kamu lupa."

Aku berhenti mengetik. "Aku tidak lupa. Aku—" Aku mencoba mengingat. "Aku tadi mau makan tapi ada revisi mendadak dari klien dan—"

"Jadi lupa." Ia berdiri. "Aku mau ke bawah ambil makan. Mau nitip?"

Respons pertama yang muncul di kepalaku adalah *tidak usah repot*. Respons yang keluar adalah: "Nasi ayam kalau ada."

Aryo pergi. Kembali dua puluh menit kemudian dengan dua bungkus nasi dari warteg seberang. Meletakkan satu di sisi mejaku tanpa komentar. Duduk dan mulai makan sambil kembali ke laptopnya.

Aku membuka bungkusan itu. Nasi ayam bakar, lalapan, sambal di pinggir.

"Berapa?" tanyaku.

"Nanti bayar kalau ada kesempatan."

"Aku bayar sekarang—"

"Dompetmu ada di tas dan tasmu di bawah meja dan kalau kamu ambil sekarang kamu harus berhenti kerja tiga puluh detik." Ia tidak menoleh. "Besok juga bisa."

Aku menutup mulut dan mulai makan.

Makan siang—atau makan malam kecil di jam enam sore ini—berlangsung dalam diam. Bukan diam yang canggung. Lebih ke diam dua orang yang sudah terbiasa berbagi ruang dan tidak merasa perlu mengisi setiap detiknya.

Itulah yang mengejutkanku: entah kapan, diam bersama Aryo sudah tidak canggung lagi.

"Kamu dari dulu selalu lupa makan kalau lagi fokus?" tanyanya setelah beberapa menit.

"Bukan lupa. Deprioritaskan."

"Itu namanya lupa yang dikasih label lebih bagus."

"Tidak." Aku menyeka tangan. "Lupa berarti tidak sadar. Aku sadar, aku cuma pilih tidak berhenti dulu."

Aryo menatapku sebentar. "Itu lebih buruk, sebenernya."

"Kenapa?"

"Karena berarti kamu tahu kamu lapar tapi tetap kamu abaikan."

Aku tidak punya argumen yang bagus untuk itu. Jadi aku tidak menjawab dan kembali ke nasi ayamku.

"Di SMA juga gitu?" tanyanya.

Pertanyaan yang tidak aku sangka. "Maksudnya?"

"Waktu kita sering di kompetisi yang sama." Ia mengangkat bahu ringan. "Aku pernah lihat kamu di jeda lomba—yang lain istirahat, kamu masih baca materi."

Aku menatapnya. "Kamu memperhatikan itu?"

"Kamu berdiri di pojok perpustakaan dengan buku tebal dan ekspresi seperti orang yang mau perang." Sudut bibirnya naik sedikit. "Susah untuk tidak memperhatikan."

Ada sesuatu yang aneh di kalimat itu. Aku tidak bisa langsung mengidentifikasi apa—lebih ke perasaan bahwa ada lapisan di bawahnya yang aku tidak siap untuk menggali.

"Kebiasaan lama," kataku akhirnya, netral.

Aryo mengangguk. Tidak mendorong lebih jauh.

Dan kami kembali bekerja—nasi sudah habis, laptop kembali terbuka, deadline besok masih sama menekannya. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda dari suasana di meja ini dibanding dua minggu pertama.

Sesuatu yang aku putuskan untuk tidak terlalu kupikirkan malam itu.