Proposal kampanye selesai tepat waktu. Klien setuju di pertemuan pertama—sesuatu yang Dimas bilang jarang terjadi—dan tim kami mendapat tepukan metaforis dari manajemen atas.
Yang tidak aku duga: proyek berikutnya datang dengan komplikasi.
"Klien baru," kata Dimas di briefing Senin pagi. "Brand fashion lokal yang mau rebranding sebelum peluncuran koleksi musim gugur. Timeline tiga minggu." Ia menoleh ke arahku dan Aryo bergantian. "Kalian berdua jadi lead. Sama-sama."
Aku menatap Aryo. Aryo menatapku.
*Co-lead.* Kami belum pernah co-lead untuk proyek mana pun sebelumnya.
"Ada masalah?" tanya Dimas, dengan nada yang mengatakan bahwa masalah apa pun tidak akan diterima sebagai alasan.
"Tidak ada," kata kami berdua, hampir bersamaan.
Dimas tersenyum tipis. "Bagus. Kickoff dengan klien Rabu."
---
Selasa, kami duduk di meja bersama untuk pertama kalinya bukan karena kebetulan tapi karena memang harus.
"Pembagian tugas," kata Aryo, membuka dokumen baru. "Kamu mau ambil yang mana?"
"Visual direction dan tone konten."
"Aku ambil riset pasar dan kompetitor analysis."
"Presentasi ke klien?"
"Bergantian. Kamu buka, aku tengah, kamu tutup."
Aku mengangguk. Efisien. Tidak ada perdebatan yang tidak perlu.
Tapi kemudian Aryo berkata: "Satu hal. Klien ini punya CEO yang sangat opinionated soal estetika. Kalau kita presentasi visual, dia akan punya pendapat yang kuat."
"Aku bisa handle feedback."
"Aku tahu kamu bisa." Ia menatapku dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa kubaca. "Yang aku khawatirkan adalah kamu akan argumentasi balik setiap pendapatnya."
"Kalau pendapatnya salah, ya harus dikoreksi."
"Kalau kliennya yang bayar, ada cara yang lebih taktis dari 'kamu salah'."
Aku menghentikan jariku di atas keyboard. "Aku tidak pernah bilang 'kamu salah' ke klien."
"Tapi ekspresi mukamu bilang itu."
Dua detik hening yang tidak nyaman.
"Ekspresi mukaku—"
"Kamu punya *tell*, Karra." Nada suaranya bukan mengejek—lebih ke seseorang yang menyampaikan observasi faktual. "Waktu kamu tidak setuju sama sesuatu, ada—" ia membuat gerakan kecil di sekitar wajahnya, "—sesuatu yang berubah. Orang yang perhatian bisa baca itu."
Aku ingin membantah. Tapi aku teringat pada tiga klien lama di pekerjaan sebelumnya yang pernah bilang aku "terlihat kurang receptive terhadap feedback."
"Oke," kataku. "Aku sadar itu."
"Bukan kritik."
"Aku tahu."
"Hanya—"
"Aryo." Aku menatapnya. "Aku bilang oke. Itu artinya aku terima. Kamu tidak perlu jelaskan lagi."
Ia menutup mulutnya. Kemudian—sangat kecil—sudut bibirnya bergerak naik.
"Kamu juga punya *tell* waktu kamu tersinggung tapi tidak mau akui."
"Aku tidak—"
"Dagumu naik sedikit."
Aku sadar daguku memang sedikit terangkat. Aku turunkan dengan sadar.
Aryo tertawa. Bukan tawa besar—lebih ke suara di pangkal tenggorokan yang keluar sebelum bisa ditahan.
Dan itu, aku putuskan, jauh lebih menyebalkan dari versi diam dan sarkasnya.
---
Rabu, kickoff dengan klien berjalan lebih baik dari yang aku bayangkan.
CEO brand-nya—Ibu Ratna, empat puluhan, selera tinggi dan pendapat yang datang tanpa diminta—memang sangat opinionated. Tapi Aryo menavigasi percakapan itu dengan cara yang aku amati diam-diam: ia tidak pernah menolak pendapat Ibu Ratna langsung, tapi selalu menemukan jembatan antara yang klien mau dan yang data tunjukkan.
Di satu titik, Ibu Ratna bilang ia ingin warna dasar *ivory* dan *dusty rose* untuk kampanye.
Data riset Aryo menunjukkan target demografis mereka lebih responsif ke palet yang lebih bold.
"Ivory dan dusty rose memang elegan, Bu Ratna," kata Aryo. "Tapi kalau kita kombinasikan dengan satu accent color yang lebih kuat—misalnya terracotta atau sage—kita bisa dapat keduanya: keanggunan yang Ibu inginkan plus energy yang bisa stop scrolling di feed."
Ibu Ratna mempertimbangkan. "Terracotta? Bisa lihat referensinya?"
Aryo menoleh ke arahku—isyarat kecil yang aku tangkap langsung. Aku membuka folder referensi di laptop dan memutar layar ke arah klien.
"Ini beberapa eksekusi yang sudah proven di market serupa," kataku. "Tone-nya tetap sophisticated tapi ada character-nya."
Ibu Ratna melihat. Mengangguk pelan. "Ini menarik."
Di perjalanan kembali ke kantor, di dalam taksi yang sama karena Dimas booking satu, Aryo berkata: "Bagus tadi."
"Kamu yang navigasinya bagus."
"Kamu yang baca isyaratnya tepat." Ia melihat ke luar jendela. "Kita co-lead yang cukup baik ternyata."
Aku menatap sisi wajahnya—profil yang selalu sedikit mengganggu karena tidak bisa dibaca dari sudut ini.
"Jangan terlalu senang dulu," kataku. "Baru pertemuan pertama."
"Benar." Ia tersenyum sedikit, masih ke arah jendela. "Tapi baru pertemuan pertama dan sudah cukup baik. Itu angka yang bagus untuk permulaan."
Aku mengalihkan pandangan ke jalanan Jakarta yang macet di luar jendela.
Angka yang bagus untuk permulaan.
Aku tidak bisa sepenuhnya tidak setuju dengan itu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar