Minggu pertama, aku buat aturan mental.

Satu: tidak memulai percakapan yang tidak perlu. Dua: kalau ada yang perlu dibahas untuk pekerjaan, selesaikan dengan efisien tanpa basa-basi. Tiga: jangan—dalam kondisi apa pun—membiarkan Aryo Baskara tahu bahwa kehadirannya di satu meter dari mejaku membuat konsentrasiku turun dua puluh persen.

Aturan pertama dan kedua bertahan sampai Rabu.

Aturan ketiga hancur di hari pertama.

Masalahnya bukan cara ia bekerja yang jelek. Justru sebaliknya—dan itu yang lebih menyebalkan. Aryo tipe orang yang bisa bicara di telepon sambil mengetik sambil menandai dokumen sambil minum kopi, dan ketiganya selesai dengan hasil yang baik. Aku tahu ini karena Dimas memuji presentasinya di hari ketiga dan aku tidak sengaja mendengar dari sisi meja yang hanya dipisahkan sekat setinggi bahu.

"Aryo, bisa bantu aku lihat data ini?"

Itu Mira, anggota tim lain, usia dua puluh tiga, ramah ke semua orang. Ia berdiri di sisi meja Aryo dengan laptop di tangan.

Aku tidak menoleh. Aku fokus ke draftku sendiri.

"Mana yang bermasalah?" suara Aryo.

"Grafik kuartal dua ini—angkanya nggak nyambung sama narasi di slide sebelumnya."

"Oh." Suara kursi bergeser. "Coba duduk sebentar."

*Jangan perhatikan.* Aku terus mengetik.

"Kamu pakai data dari laporan yang mana?" suara Aryo lagi.

"Yang ini—"

"Itu data versi lama. Tim finance update minggu lalu. Coba ambil dari folder shared yang baru."

"Oh! Iya bener. Makasih, Aryo."

"Santai."

Mira pergi. Hening sebentar. Lalu—

"Kamu juga pakai data yang sama buat laporan kamu."

Aku berhenti mengetik.

"Apa?"

"Data kuartal dua." Aryo masih menatap layarnya. "Kalau kamu ambil dari folder lama, laporanmu juga bakal bermasalah."

Aku membuka folder di laptopku. Dicek. Dan—ya. Data lama.

Aku menutup laptopnya sebentar dan menarik napas.

"Terima kasih," kataku, karena itu satu-satunya kalimat yang tepat.

"Sama-sama." Ia masih tidak menoleh. "Profesional dan kooperatif, kan?"

Aku mendengar ia tersenyum dari cara kalimat itu keluar, walaupun aku tidak melihatnya.

---

Kamis, masalah yang berbeda.

Proyek pertama tim kami adalah kampanye konten untuk klien properti besar. Dimas membagi tim jadi dua: Aryo memimpin riset kompetitor, aku memimpin strategi konten. Secara teori, kami bekerja paralel tapi hasilnya perlu disatukan di akhir.

Secara praktik, kami perlu bicara.

"Kalau dari riset kompetitornya," kata Aryo di meja rapat kecil, laptop terbuka di antara kami, "ada tiga angle yang belum dieksplor sama sekali oleh brand lain."

Aku melihat slidenya. "Yang ini—angle ketiga—itu udah aku masukin ke strategi kontenku."

"Tapi eksekusinya beda."

"Bedanya di mana?"

Ia menunjuk. "Kamu fokus ke aspirasional. Aku lihat datanya, audiens target brand ini lebih responsif ke konten yang *relatable*, bukan aspirasional."

Aku menatap datanya. Kemudian menatap strategiku. Kemudian kembali ke datanya.

"Data ini dari survei berapa responden?"

"Dua ribu dua ratus."

"Rentang usia?"

"Dua puluh lima sampai empat puluh."

Aku menimbang. Datanya valid. Argumennya masuk akal. Tapi—

"Kalau kita terlalu relatable, brand-nya kehilangan positioning premium yang selama ini jadi diferensiasinya."

Aryo diam sebentar. Ia menatap slide Anda. Kemudian slide-ku.

"Bisa hybrid," katanya akhirnya.

"Maksudnya?"

"Aspirasional dalam visual dan tone, tapi dengan narasi yang ground-level. Orang bermimpi tentang rumah impian tapi dengan bahasa yang terasa seperti ngobrol sama teman, bukan iklan."

Aku membaca ulang kalimat itu dalam kepala. Mencari lubang di argumennya. Tidak ketemu.

"Itu bisa jalan," kataku akhirnya.

"Aku tahu."

"Kamu tidak harus bilang 'aku tahu' setelah setiap kali kamu benar."

"Tapi aku benar."

"Itu tidak berarti kamu harus—" Aku menghentikan diri. "Oke. Hybrid. Aku revisi draftnya."

Ia mengangguk dan kembali ke laptopnya.

Tiga menit kemudian, tanpa konteks: "Kopi kamu sudah dingin dari tadi."

Aku menatap cangkirku. Memang sudah dingin.

"Tidak perlu kamu perhatikan."

"Aku tidak lagi memperhatikan. Aku lagi lihat laptop dan kopi kamu ada di pojok mata." Ia masih mengetik. "Pantry di kiri lift kalau mau manasin."

Aku mengambil cangkirku dan pergi ke pantry.

Di sana, sambil menunggu microwave, aku berdiri dan mencoba mencari kata yang tepat untuk menggambarkan minggu pertama ini.

*Menyebalkan* terlalu mudah. *Mengejutkan* terlalu jujur. *Lebih rumit dari yang aku bayangkan* terlalu panjang untuk jadi satu kata.

Aku kembali ke meja dengan kopi yang sudah panas.

Aryo tidak menoleh. Tapi ada sesuatu—sangat kecil, mungkin aku salah baca—yang terlihat seperti ia memastikan aku sudah kembali sebelum ia melanjutkan mengetik.