Malam itu hujan turun seperti tidak mau berhenti.

Aku berdiri di teras rumah yang selama dua tahun kutinggali sebagai menantu, dengan satu koper di tangan kanan dan tangan kiri yang menekan perut besarku karena Hana menendang — seperti merasakan bahwa sesuatu sedang terjadi di luar, sesuatu yang tidak seharusnya.

Di depanku, ibu mertuaku berdiri di ambang pintu.

Bu Suri. Lima puluh tujuh tahun. Wajah yang tidak pernah berkerut karena khawatir tentang orang lain. Wajah yang malam ini tidak bergetar sedikit pun.

"Kamu dengar apa yang Ibu bilang," katanya. Bukan pertanyaan.

"Bu." Suaraku berusaha stabil meski dadaku sesak. "Saya hamil delapan bulan. Tidak bisa—"

"Itu bukan urusan Ibu lagi." Bu Suri memotong dengan cara yang sudah sangat aku kenal — cara yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. "Dimas sudah Ibu bicarakan. Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan. Lebih cepat kamu pergi, lebih baik untuk semua."

Aku menatapnya. Lalu menatap ke dalam rumah — ke Dimas yang berdiri di ruang tengah, tiga meter dari pintu, dengan tangan dilipat dan mata yang menatap lantai.

"Dimas." Aku memanggil namanya.

Suamiku tidak bergerak.

"Dimas," aku ulang. Lebih keras. Lebih memohon dari yang aku mau.

Dimas mengangkat wajah. Menatapku. Dan di matanya ada sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan malam itu — campuran yang terlalu rumit dari terlalu banyak emosi yang tidak ia izinkan untuk keluar. Ia membuka mulutnya, dan untuk sepersekian detik aku pikir ia akan berbicara.

Lalu ia menutupnya lagi.

Dan berbalik.

Pergi ke kamar. Menutup pintu.

Bu Suri menarik napas seperti seseorang yang baru menyelesaikan urusan yang sudah lama harus dilakukan. "Taksi sudah Ibu pesan. Lima menit lagi datang."

Aku tidak ingat bagaimana aku turun dari teras itu. Tidak ingat apakah aku mengucapkan sesuatu atau tidak. Yang aku ingat adalah bau hujan di malam itu, berat koper di tangan, dan tendangan Hana yang tidak berhenti di dalam perutku — seolah ia pun tidak percaya bahwa ini nyata.

Taksi datang. Sopirnya seorang bapak tua yang melirik perutku dengan ekspresi campuran antara bingung dan khawatir tapi tidak bertanya apa-apa. Orang yang membaca situasi dan tahu bahwa ada saat-saat di mana tidak bertanya adalah bentuk kebaikan yang paling tepat.

"Mau ke mana, Mbak?"

Aku menyebut alamat indekos lamaku — tempat yang aku tinggalkan dua tahun lalu saat menikah dengan Dimas, yang masih kusimpan kontaknya entah karena apa, mungkin karena bagian kecil dari diriku tidak pernah sepenuhnya melepaskan tempat yang dulu menjadi milikku sendiri.

"Masih ada kamar kosong?" tanyaku di telepon, saat taksi melaju.

"Ada satu, Mbak. Tapi kecil."

"Tidak apa-apa."

Aku duduk di kursi belakang dengan koper di sampingku dan tangan yang tidak bisa berhenti menekan perutku — bukan karena sakit, tapi karena itu satu-satunya yang terasa nyata malam itu. Bayiku. Yang ada di sana. Yang tidak pergi.

Hujan mengetuk kaca taksi dari luar dengan ritme yang tidak teratur.

Di dalam kepalaku, satu kalimat berputar berulang: *Dimas berbalik dan masuk ke kamar.*

Bukan kata-kata yang kejam. Bukan bentakan. Hanya diam. Hanya punggung yang berbalik. Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan dari apa pun yang bisa diucapkan Bu Suri malam itu.

Dua tahun menikah. Dua tahun membuat makanan yang ia sukai, belajar cara tidurnya yang sering berisik tanpa membangunkannya, memilih baju yang cocok dengan selera warnanya, menjaga hubungan dengan keluarganya meski hubungan itu tidak pernah mudah.

Dua tahun — dan saat paling kritis, saat perempuan yang ia nikahi berdiri di bawah hujan dengan perut delapan bulan, yang ia lakukan adalah menutup pintu kamar.

Taksi berhenti di depan indekos. Sopir turun membantu menurunkan koper tanpa diminta.

"Hati-hati ya, Mbak," katanya pelan sebelum pergi. Dua kata yang malam itu terdengar lebih tulus dari apa pun yang pernah Bu Suri ucapkan padaku dalam dua tahun.

Aku berdiri di depan pintu indekos yang basah, menatap bangunan sederhana yang dua tahun lalu pernah menjadi rumahku, dan untuk pertama kalinya malam itu aku merasakan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kuidentifikasi.

Bukan hanya sedih. Lebih kompleks dari itu.

Marah. Terluka. Takut dengan cara yang berbeda dari takut biasa — takut yang ada bayinya di dalam, yang nyata dan akan segera lahir dan butuh orang yang tidak sedang berdiri di bawah hujan dengan koper dan tidak tahu langkah selanjutnya.

Tapi juga — dan ini yang mengejutkanku sendiri — sesuatu yang menyerupai kelegaan.

Seperti menunggu sesuatu yang selama lama terasa akan datang, dan sekarang sudah datang, dan meski menyakitkan, setidaknya tidak perlu ditunggu lagi.

Aku masuk ke dalam.

Di kamar kecil yang berbau cat baru dan sedikit lembap, aku duduk di tepi kasur dengan koper belum dibuka dan tangan masih di perut.

Hana menendang lagi.

"Iya," bisikku pada perutku. "Ibu tahu. Kita baik-baik saja."

Kebohongan pertama yang pernah kuucapkan kepada anakku.

Tapi juga, dengan cara yang belum aku pahami malam itu, janji.

Aku tidak tidur malam itu.

Berbaring di kasur tipis, aku menghitung apa yang kumiliki: satu koper, dompet dengan uang cukup untuk beberapa minggu, ponsel, ijazah dan dokumen penting yang — untungnya selalu kusimpan di koper, bukan di lemari rumah Dimas. Dan satu bayi delapan bulan yang akan lahir tidak lama lagi.

Lalu menghitung pilihan.

Menelepon ayah muncul pertama. Dan aku langsung menyingkirkannya. Bukan karena marah — tapi karena itu artinya menyerah pada sesuatu yang selama ini ingin kubuktikan: bahwa aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri.

Ayahku bukan orang biasa. Pak Yusuf — nama yang di dunia bisnis diucapkan dengan nada berbeda. Aku tumbuh dalam kenyamanan yang ia ciptakan, dan saat memilih menikah dengan Dimas, aku memilih tidak membawa nama itu. Aku ingin dicintai sebagai Wulan, bukan sebagai anak Pak Yusuf.

Malam ini pun aku tidak mau. Belum.

Aku menarik napas dan membuat satu keputusan yang akan membentuk tiga tahun ke depan: aku akan menyelesaikan ini sendiri dulu. Melahirkan anakku. Mencari kerja. Membuktikan bahwa perempuan yang diusir dengan koper dan perut delapan bulan tidak berakhir di sana.

Di luar, hujan mulai mereda.

Hana menendang pelan — seperti memastikan ibunya masih ada.

"Ibu masih di sini," bisikku.

Kali ini bukan kebohongan.