Dimas tahu sesuatu. Aku bisa melihatnya dari cara ia tidak menanyakannya.
Itu cara yang lebih mengganggu dari cara langsung: ada sesuatu yang ia tahu tapi yang ia pilih untuk tidak diungkapkan, dan pilihan itu ada di antara kami seperti sesuatu yang tidak kasat mata tapi yang selalu ada saat kami bekerja bersama.
Selasa pagi, satu minggu setelah pertemuan pertama dengan PT Krisna.
Kami berdua di ruang kerja kecil yang kami berbagi — ruangan dua meja yang sudah menjadi tempat kerja kami sejak aku dipindahkan ke divisi ini dua tahun lalu. Dimas yang lebih dulu ada di divisi ini tiga tahun sebelumnya.
"Pertemuan Kamis," kataku, tanpa mendongak dari layar. "Kita perlu siapkan proyeksi tahun ketiga. Klien minta."
"Sudah mulai." Dimas mengetik sesuatu. "Ada parameter yang perlu dikonfirmasi dari sisi mereka dulu."
"Kirimkan daftar pertanyaannya melalui jalur resmi. Jangan langsung ke Pak Revano."
Hening sebentar yang sedikit lebih panjang dari biasanya.
"Oke," kata Dimas. "Lewat Kiara?"
"Lewat email tim standar. Ada protokol untuk ini."
"Aku tahu ada protokol." Dimas berhenti mengetik. "Nara."
"Apa."
"Kamu pernah cerita soal mantan suami yang tidak pernah kamu ceritakan detailnya."
Aku mendongak dari layar. "Kapan?"
"Dua tahun lalu. Waktu kita makan malam bareng tim setelah closing klien Makassar. Kamu agak mabuk dari satu gelas anggur yang itu." Ia menatapku dengan cara yang tidak menghakimi tapi yang tidak mengalihkan. "Kamu bilang ada satu orang yang kamu nikahi karena kamu muda dan percaya orang yang tidak seharusnya dipercaya sebanyak itu. Kamu tidak menyebut nama."
Aku tidak ingat momen itu. Atau mungkin memilih tidak ingat.
"Kenapa kamu bawa itu sekarang?"
"Karena nama Pak Revano terasa familiar sejak awal. Dan cara kamu bekerja minggu ini berbeda dari cara kamu bekerja biasanya." Dimas meletakkan penanya. "Aku tidak butuh konfirmasi. Aku hanya ingin bilang bahwa kalau ada sesuatu yang perlu kamu atur ulang dari sisi manajemen klien ini — misalnya kalau lebih baik ada orang lain yang lead — aku siap."
Aku menatap Dimas.
Lelaki dua puluh sembilan tahun yang pernah, di satu momen enam bulan lalu, menyatakan sesuatu dengan cara yang singkat dan yang aku respons dengan lebih singkat lagi — cara yang keduanya kami sepakati untuk tidak dibawa ke tempat kerja. Yang sudah berjalan dengan cukup baik sejak itu.
"Aku tidak perlu diganti," kataku. "Proyek ini ada di tanganku dari awal. Aku yang menyelesaikannya."
"Aku tahu kamu bisa menyelesaikannya." Dimas mengambil penanya lagi. "Aku cuma bilang opsinya ada kalau dibutuhkan."
"Opsinya tidak dibutuhkan."
"Oke."
Kami kembali bekerja. Hening yang kembali ke ritme biasanya — keyboard yang diketik, sesekali suara notifikasi email, satu atau dua pertukaran kalimat tentang hal yang perlu dikonfirmasi.
Tapi di satu titik, Dimas berkata tanpa mendongak: "Dia tahu siapa kamu?"
"Apa?"
"Pak Revano. Dia tahu kamu account manager-nya sebelum datang ke rapat pertama?"
Pertanyaan yang aku sendiri belum sempat memikirkan dengan serius. "Tidak tahu. Kenapa?"
"Karena kalau dia tahu — dan memilih tetap maju dengan kontrak ini — itu satu hal. Kalau dia tidak tahu dan sekarang sudah tahu, itu hal yang berbeda."
Aku tidak menjawab langsung. Memikirkan.
Revano yang tujuh tahun lalu tidak bisa menghubungiku. Yang aku tidak angkat teleponnya. Yang setelah itu — apa yang ia lakukan, ke mana ia pergi, bagaimana ia akhirnya sampai pada titik memimpin PT Krisna Properti — semua itu adalah cerita yang tidak aku ketahui.
Yang aku ketahui hanya yang ada sekarang: ia berjalan masuk ke ruang rapat dengan cara seseorang yang sudah menentukan bagaimana ia akan menjalani ini.
Apakah itu karena ia tahu siapa yang akan ada di ruangan? Aku tidak pernah menanyakannya.
"Entah," kataku akhirnya. "Tapi dalam kondisi apa pun, yang penting adalah kontraknya berjalan dengan benar."
Dimas mengangguk. Tidak menambahkan apapun.
Sore itu, saat aku hendak keluar untuk bertemu dengan klien lain, Dimas memanggil dari mejanya: "Nara."
"Apa?"
"Kalau sewaktu-waktu kamu mau cerita — bukan tentang proyek — pintu terbuka." Cara matanya — bukan dengan cara seseorang yang mengharapkan sesuatu, tapi dengan cara seseorang yang sudah membuat perdamaian dengan posisinya. "Tidak ada agenda lain. Hanya teman kerja yang sudah dua tahun."
"Aku tahu." Aku mengambil tas. "Terima kasih, Dimas."
Aku keluar.
Dan di lift turun, memikirkan bahwa terkadang yang paling berat bukan menyembunyikan sesuatu dari orang yang tidak peduli — tapi dari orang yang sudah cukup peduli untuk tidak mendesakmu.
Aku mengeluarkan ponsel.
Membuka kontak yang baru disimpan kemarin dengan inisial *R.K.*
Mengetik satu pesan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi.
Lalu menyimpan ponsel tanpa mengirimkan apa pun.
Belum.
Tapi tidak akan lama lagi belum.
Malam itu, pesan masuk dari R.K.
*Ada pertanyaan teknis soal addendum yang Pak Dimas kirim tadi. Bisa kita diskusi sebentar malam ini atau besok pagi sebelum rapat?*
Pesan yang sepenuhnya profesional. Yang bisa aku forward kepada siapa pun tanpa konteks apa pun yang mencurigakan.
Aku mengetik: *Besok pagi lebih baik. Jam berapa kamu bisa?*
Balasan cepat: *Jam delapan. Di lobi?*
*Oke.*
Aku meletakkan ponsel. Menatap televisi yang menyala tapi tidak benar-benar ditonton. Dan memikirkan pertanyaan Dimas tadi — *apakah dia tahu siapa kamu sebelum datang ke rapat pertama.*
Aku tidak tahu jawabannya. Dan ada dua kemungkinan:
Satu: Revano tidak tahu. Yang berarti ia masuk ke ruang rapat tanpa persiapan, melihat aku, dan memilih untuk menjalani ini secara profesional karena itu yang tampaknya paling masuk akal.
Dua: Revano tahu. Yang berarti ia sudah mempertimbangkan ini sebelum kontrak ditawarkan, memutuskan untuk tetap maju, dan muncul dengan cara yang sudah ia siapkan.
Kedua kemungkinan itu mengandung sesuatu yang berbeda tentang siapa Revano sekarang.
Dan aku menyadari bahwa untuk pertama kali dalam tujuh tahun, aku benar-benar ingin tahu jawabannya.
Bukan dari cara akademis seseorang yang mengamati situasi. Tapi dari cara yang lebih personal. Cara yang sudah sangat lama tidak aku izinkan untuk ada.
Aku mematikan televisi.
Besok jam delapan. Lobi.
Cukup waktu untuk memutuskan apakah aku akan menanyakan pertanyaan yang lebih penting dari yang ada dalam addendum.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar