Aku tidak pulang langsung setelah presentasi.

Ada tiga rapat lain yang harus dihadiri, dua email yang perlu dibalas hari itu juga, dan satu percakapan panjang dengan tim soal langkah berikutnya jika PT Krisna setuju untuk melanjutkan. Semua berjalan dengan cara yang sama seperti hari-hari kerja biasanya — produktif, terstruktur, tidak menyisakan ruang untuk hal-hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kalender.

Tapi saat lift membawa aku turun ke parkiran pukul setengah tujuh malam, kertas kecil itu masih ada di saku jaketku.

Dan aku masih belum tahu mau diapakan.

*

Pertemuan kedua dijadwalkan dua hari kemudian.

Kali ini lebih kecil — hanya aku, Dimas sebagai co-account manager, dan dari sisi klien hanya Revano dan Kiara. Satu ruang rapat yang lebih kecil, meja yang lebih pendek, jarak antar orang yang lebih dekat dari yang pertama kali.

Revano tiba tepat waktu. Kiara satu langkah di belakangnya.

Dan saat Dimas — yang sudah aku briefing tanpa konteks apapun — mengulurkan tangan kepada Revano, aku memperhatikan cara Revano merespons: jabatan tangan yang tepat, senyum yang profesional, cara yang tidak memberikan informasi lebih dari yang perlu.

Lalu Kiara mengulurkan tangan kepada Dimas, menyebut namanya, dan berbalik ke arahku.

"Nara." Senyumnya tidak berubah dari yang pertama kali. "Saya sudah baca proposalnya lebih dalam semalam. Ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan."

Kiara Amanda ternyata bukan sekadar "asisten direktur" dalam arti seremonial. Perempuan ini membaca semuanya, mencatat pertanyaan yang spesifik, dan cara ia mengajukan pertanyaan menunjukkan bahwa ia mengerti bisnis dengan baik.

Kami duduk.

Dan di meja yang lebih kecil ini, duduk berhadapan, dengan Revano tepat di seberangku dan Kiara di sebelahnya, ada beberapa hal yang perlu aku akui kepada diri sendiri:

Pertama: Revano dan Kiara duduk dengan cara yang sudah sangat terbiasa satu sama lain. Bukan mesra yang demonstratif, tapi familiar — cara ia menggeser gelas air untuk memberi Kiara lebih banyak ruang tanpa diminta, cara Kiara yang meletakkan tangannya di meja tepat di samping tangannya tanpa menyentuh.

Dua orang yang sudah lama saling tahu di mana yang lain berada.

Kedua: aku harus berhenti memperhatikan ini dan fokus ke proposal.

Pertemuan berjalan dua jam. Kiara yang mengajukan sebagian besar pertanyaan — detail tentang timeline, tentang metode pengukuran, tentang klausul-klausul dalam kontrak yang ingin ia klarifikasi. Aku menjawab semuanya.

Revano bicara lebih banyak dari pertemuan pertama. Tapi cara ia bicara kepada timku dan kepada Kiara berbeda dengan cara satu-satunya kali ia bicara langsung kepadaku.

Saat aku menjawab pertanyaan tentang struktur biaya, ia memotong dengan satu kalimat: "Bagian keempatnya bisa dijelaskan lebih spesifik?"

Pertanyaan teknis. Tapi cara ia mengatakannya — dengan sedikit lebih pelan dari tempo bicaranya yang lain — mengatakan sesuatu yang berbeda.

"Tentu." Aku menjelaskan.

Revano mengangguk. Mencatat sesuatu.

Dan di saat pencatatan itu berlangsung, Kiara menatapku.

Bukan dengan cara permusuhan. Bukan dengan cara yang menuduh. Tapi dengan cara yang sudah aku kenali dari perempuan yang cerdas — cara seseorang yang sedang mengamati sesuatu dan sedang memutuskan apakah yang diamatinya relevan atau tidak.

Aku menatap balik. Kadar yang tepat — tidak menghindar, tidak menantang.

Kiara mengalihkan pandangan kembali ke proposal.

Pertemuan selesai. Kami berdiri, bersalaman, prosedur standar. Saat Revano bersalaman denganku — untuk kedua kalinya dalam dua hari, dan untuk kedua kalinya dengan cara yang sangat bisa dikategorikan sebagai jabatan tangan bisnis biasa — ada satu momen di mana ia menahannya satu detik lebih lama dari yang diperlukan.

Hanya satu detik. Yang tidak ada yang perhatikan kecuali aku.

"Terima kasih, Nara." Nada yang sama dengan saat ia mengucapkan itu kepada Dimas. Tapi bukan kata yang sama yang pernah punya arti sangat berbeda dari mulut yang sama tujuh tahun lalu.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu," kataku.

Ia pergi. Kiara di sebelahnya.

Dimas yang membereskan dokumen di sebelah aku berkata, tidak menatapku: "Klien yang menarik. Pertanyaannya tajam."

"Iya."

"Terutama yang tadi — cara dia nanya soal struktur biaya. Kelihatan kayak sudah ngerti industri kita lebih dari yang seharusnya."

"Kemungkinan sudah pernah kerja sama dengan konsultan sebelumnya."

"Mungkin." Dimas menyimpan dokumen. Berbalik. Menatapku dengan cara yang tidak punya agenda tapi yang selalu sedikit lebih lama dari yang diperlukan untuk pertanyaan bisnis biasa. "Kamu oke?"

"Kenapa nanya?"

"Karena kamu biasanya yang paling banyak nanya di rapat. Tadi lebih banyak jawab."

"Karena memang lebih banyak yang perlu dijawab hari ini."

Dimas mengangguk. Tidak dilanjutkan.

Tapi aku tahu bahwa Dimas Prasetya — yang sudah bekerja bersamaku dua tahun dan yang sudah cukup mengenal cara kerjaku — tidak sepenuhnya menerima jawaban itu.

Aku mengambil tas, berjalan ke pintu.

"Dimas."

"Ya?"

"Pertemuan berikutnya Kamis. Bisa kamu siapkan dokumen addendumnya?"

"Beres."

Aku keluar dari ruang rapat.

Dan di lift turun, sendirian, aku mengeluarkan kertas kecil dari saku jaket — yang masih belum aku buang, yang sudah dua hari ada di sana — dan membacanya sekali lagi.

*Kamu baik-baik saja?*

Lalu melipatnya kembali, memasukkannya ke saku.

Belum.

Malam itu aku duduk di meja makan yang sering lebih berfungsi sebagai meja kerja, laptop terbuka, secangkir teh yang sudah dingin, dan mencoba mengerjakan hal-hal yang perlu diselesaikan sebelum besok.

Tidak berhasil sepenuhnya.

Yang terus kembali meski sudah berkali-kali aku dorong ke pinggir: cara Kiara menatapku di rapat tadi. Bukan tatapan cemburu, bukan ancaman. Tatapan seseorang yang sedang menilai informasi baru — dengan cara dingin, cara seseorang yang terbiasa membuat keputusan berdasarkan apa yang dilihat.

Dan apa yang ia lihat adalah sesuatu yang tidak aku rencanakan untuk terlihat.

Aku menutup laptop, lalu membukanya lagi.

Tujuh tahun cukup untuk seseorang menemukan cara baru mencintai. Revano sudah bergerak maju — itu bukan sesuatu yang perlu aku permasalahkan. Yang perlu aku fokuskan adalah bagaimana menyelesaikan enam bulan kontrak ini dengan cara profesional. Itu saja.

Dua puluh menit pertama berhasil.

Sebelum ponselku bergetar dari nomor yang tidak tersimpan. Yang langsung aku tahu siapa.

*Saya minta maaf tadi — pertanyaan soal struktur biaya mungkin terlalu frontal. Tidak ada maksud lain.*

Revano meminta maaf karena pertanyaan bisnis yang sepenuhnya wajar. Yang artinya pertanyaan itu bukan tentang bisnis saja — atau ia khawatir aku membacanya lebih dari itu.

*Pertanyaannya relevan. Tidak ada yang perlu diminta maaf.* Kirim.

Tiga titik muncul, berhenti, muncul lagi. Lalu: *Oke. Sampai Kamis.*

Dua kata. Yang dalam konteks bisnis tidak mengandung apa pun. Yang dalam konteks tujuh tahun antara dua orang — mengandung lebih dari yang bisa muat dalam dua kata.

Aku kembali ke dokumen. Ke hal-hal yang punya jawaban yang bisa diverifikasi.

Tapi sebelum melanjutkan, aku membuka satu folder di cloud yang sudah lama tidak aku sentuh. Yang ter-upload otomatis oleh sistem backup ponsel lama — satu foto dari hari biasa di dapur apartemen kecil yang dulu kami tinggali. Aku sedang tertawa karena sesuatu, dan Revano sedang menatapku dengan cara yang bahkan dari foto sudah sangat jelas artinya.

Aku menutup folder. Tidak menghapus.

Seperti yang sudah aku lakukan berkali-kali tujuh tahun terakhir: tidak membuka, tidak menghapus. Membiarkan ada di tempat yang tidak mengganggu tapi tidak sepenuhnya pergi.

Aku kembali ke dokumen. Dan kali ini, berhasil sampai selesai.