Kamis pagi, sebelum rapat ketiga, Dimas menaruh secangkir kopi di meja kerjaku.
"Kamu sudah minum pagi ini?"
"Sudah."
"Kamu selalu bilang sudah padahal belum." Ia duduk di kursi seberang mejaku, menyilangkan tangan. "Dokumen addendum sudah aku kirim ke email kamu tadi subuh. Cek kalau ada yang perlu direvisi."
"Terima kasih, Dimas."
"Juga—" Ia berhenti sebentar. Cara Dimas berhenti sebentar sebelum bicara selalu menandakan bahwa ia sedang mempertimbangkan apakah akan menyampaikan sesuatu atau tidak. "Klien Kamis ini — Pak Revano dan asistennya. Kamu sudah kenal dia sebelumnya?"
Pertanyaan yang sama dengan yang ia tanyakan dua hari lalu. Tapi kali ini lebih langsung.
"Kenapa nanya lagi?"
"Karena kemarin kamu tidak menjawab."
Aku menyesap kopi yang baru ditaruh. "Pernah ketemu di acara lain. Bukan konteks yang perlu dibicarakan untuk proyek ini."
Dimas menatapku. Lama. Dengan cara yang mengatakan ia tidak sepenuhnya menerima itu tapi juga tidak akan mendorong lebih jauh.
"Oke." Ia berdiri. "Rapat jam sepuluh."
"Aku tahu."
Ia pergi.
*
Rapat jam sepuluh berlangsung dengan cara yang semakin terasa seperti rutinitas — yang mungkin memang tujuannya, supaya semua pihak mulai nyaman dan proses negosiasi bisa berjalan lebih lancar. Kiara mengajukan lebih sedikit pertanyaan dari kemarin tapi yang ia ajukan lebih spesifik. Dimas yang mengurus sebagian besar teknis. Aku yang memimpin arah.
Dan Revano yang duduk di seberang aku dan berbicara dengan cara seseorang yang sepenuhnya ada di rapat ini — karena ia memang sepenuhnya ada di rapat ini.
Itulah yang aku amati: Revano tidak mencuri pandang ke arahku di sela-sela pembicaraan orang lain. Ia tidak mencari cara untuk berbicara langsung kepadaku di luar konteks yang diperlukan. Ia hadir, profesional, dan tidak memberikan alasan bagi siapa pun untuk mempertanyakan niatnya.
Yang artinya ini memang niatnya: menyelesaikan ini dengan cara yang benar.
Dan aku tidak tahu apakah itu membuat semuanya lebih mudah atau lebih sulit.
Rapat selesai pukul dua belas lewat. Saat semua orang mulai berkemas, Revano berbicara kepada Dimas tentang satu detail teknis yang perlu dikonfirmasi. Aku berbicara dengan Kiara tentang jadwal pertemuan berikutnya.
Dan saat Kiara berjalan keluar bersama tim lain, ada satu momen di mana hanya aku dan Revano yang tersisa di ruang rapat — Dimas yang keluar lebih dulu untuk mengambil sesuatu, belum sempat kembali.
Dua orang. Ruangan yang masih ramai dengan sisa dokumen dan gelas air mineral.
Revano tidak langsung bicara. Tidak langsung berjalan ke pintu. Ia berdiri di sisinya sendiri meja, mengambil satu map, menyimpan ke dalam tasnya.
"Nara."
"Iya."
"Proposalnya bagus." Ia menatap tasnya, bukan ke arahku. "Tim kamu kerja keras untuk ini."
"Terima kasih."
"Bukan basa-basi." Kali ini ia menatapku. "Aku memang memilih konsultan ini karena track record-nya. Tapi kalau ada bagian dari kamu yang berpikir ada faktor lain — tidak ada."
Aku menatap Revano. Cara ia menyampaikan itu — langsung, tanpa berputar-putar — adalah cara yang sudah aku kenal dari delapan tahun lalu. Revano yang tidak pernah mau ada kesalahpahaman yang tidak perlu.
"Aku tahu," kataku. "Dan aku juga di sini karena proyek ini bagus untuk klien."
"Bagus." Ia mengambil tasnya. Berjalan ke pintu. Lalu berhenti di ambang. "Satu hal lagi."
"Apa?"
"Pertanyaan di kertas itu — aku masih mau tahu jawabannya. Tapi tidak perlu sekarang." Ia menatapku dari ambang pintu. "Kalau kamu mau menjawab, kamu tahu caranya menghubungi."
Ia pergi sebelum aku sempat menjawab apa pun.
Dan aku berdiri di tengah ruang rapat yang kosong, dengan kertas kecil yang masih ada di saku jaket karena aku lupa memindahkannya tadi pagi.
*
Hari itu, satu jam setelah rapat, aku berdiri di lobi gedung menunggu ojek online yang sudah memesan — rencana makan siang di luar sebelum kembali ke meja.
Seseorang berdiri di sebelahku.
"Kamu juga ke bawah?"
Revano. Yang ternyata juga menunggu sesuatu di lobi yang sama.
"Mau makan siang," kataku.
"Saya juga." Ia menatap ke arah luar yang sudah dimulai gerimis kecil. "Kiara ada rapat lain. Tim saya juga. Jadi sendiri."
Hening yang tidak sepenuhnya canggung tapi yang jelas bukan hening yang nyaman.
"Ada kafe di lantai dua gedung sebelah," kata Revano akhirnya. "Kalau tidak mau kehujanan."
"Aku sudah pesan ojek."
"Batalkan. Dua ratus meter tidak perlu ojek."
Aku menatapnya. Lalu membatalkan pesanan.
Dan kami berjalan bersama ke gedung sebelah — dalam gerimis yang tidak cukup lebat untuk dijadikan alasan berteduh tapi cukup untuk membuat trotoar sedikit basah — dengan jarak yang tepat antara dua orang yang sedang menetapkan cara baru untuk ada di satu tempat bersama.
Di kafe yang tidak ramai, saat kami sudah duduk di meja sudut dengan menu yang belum dibuka, Revano berkata: "Ini tidak harus jadi sesuatu yang rumit."
"Saya tahu."
"Tapi juga tidak harus berpura-pura tidak ada sejarahnya."
"Saya juga tahu itu."
"Jadi—" Ia meletakkan menu. "Kamu baik-baik saja? Dengan semua ini?"
Pertanyaan yang sama dengan yang ada di kertas kecil itu. Kali ini langsung, tatap muka, tidak ada intermediari kertas.
Aku memikirkan jawaban yang jujur.
"Belum tahu sepenuhnya," kataku. "Tapi aku bisa profesional."
Revano mengangguk. "Aku juga."
"Bagus." Aku membuka menu. "Berarti kita mulai dari sana."
Dan kami memesan makan siang dengan cara dua orang yang sedang belajar cara terbaru untuk berada di satu ruangan bersama — tidak sepenuhnya asing, tidak sepenuhnya familiar.
Sesuatu di antaranya yang belum punya nama.
Makan siang berlangsung empat puluh menit — dan sebagian besar bukan tentang tujuh tahun yang ada di belakang kami, tapi tentang artikel industri properti yang kebetulan kami berdua baca minggu lalu.
"Proyeksi pertumbuhannya terlalu optimis," kata Revano.
"Aku justru pikir terlalu konservatif untuk kawasan timur."
"Karena infrastrukturnya belum siap."
"Infrastruktur bisa dibangun. Permintaan yang sudah ada itu yang susah diciptakan."
Revano menatapku — cara yang aku kenal, cara ia mempertimbangkan apakah argumen seseorang valid. "Ada datanya?"
"Ada. Aku kirimkan kalau relevan untuk proyekmu."
"Relevan. Kirimkan."
Dan di antara semua yang ada di bawah permukaan, ada satu momen di meja kafe itu di mana rasanya seperti dua orang yang baru kenal berdebat tentang sesuatu yang keduanya pedulikan. Tidak seperti dua orang yang pernah menikah. Tidak seperti dua orang yang surat cerainya ditandatangani tapi hanya satu yang sepenuhnya tahu kenapa.
Hanya dua orang. Ringan. Bisa dijalani.
Di lobi gedung setelah kembali, Revano berhenti.
"Terima kasih untuk makan siangnya."
"Kamu yang bayar."
"Karena kamu mau pesan ojek padahal dua ratus meter." Ada sesuatu di pinggir matanya — cara yang aku kenal. "Aku gantian berikutnya."
Kami masuk lift bersama, lantai yang berbeda. Saat pintu terbuka di lantainya, Revano keluar dan berbalik sebentar.
"Nara."
"Ya?"
"Kamu belum menjawab pertanyaannya."
Pintu lift menutup sebelum aku sempat berkata apa pun.
Aku berdiri sendiri di lift yang naik — dan memikirkan bahwa ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan iya atau tidak. Yang membutuhkan waktu. Ruang. Mungkin lebih dari empat puluh menit makan siang untuk bisa mulai dijawab dengan jujur.
Aku kembali ke meja, membuka laptop. Dan menyimpan nomor yang kemarin malam mengirim pesan itu — bukan dengan namanya, hanya dengan inisial — di daftar kontak yang sudah tujuh tahun tidak ada di ponselku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar