Aku tidak pernah menceritakan malam itu kepada siapa pun.
Bukan karena tidak ada yang mau mendengar. Teman-teman yang tahu tentang pernikahan singkat itu cukup sering menanyakan, di tahun-tahun pertama, dengan cara yang hati-hati atau dengan cara yang tidak hati-hati tergantung seberapa dekat mereka. Dan jawaban yang aku berikan selalu versi yang sama: *tidak cocok, terlalu muda, keputusan yang sudah dipertimbangkan.*
Yang benar adalah aku tidak pernah bisa menceritakannya karena aku tidak pernah sepenuhnya mengerti.
---
Malam itu, aku dua puluh tiga tahun.
Kami sudah menikah dua tahun — pernikahan yang dimulai bukan dari tempat yang ideal, diprakarsai oleh ayahku yang punya hubungan bisnis dengan keluarga Krisna dan yang melihat sebuah solusi yang ia pikir menguntungkan semua pihak. Tapi aku tidak dinikahkan dengan cara yang tidak aku setujui. Aku menyetujui.
Karena saat aku bertemu Revano untuk pertama kalinya di acara keluarga itu, ada sesuatu yang sudah langsung terasa seperti sesuatu yang tidak perlu banyak dipikir.
Dan dua tahun itu — meski tidak sempurna, meski ada hal-hal yang masih perlu kami temukan cara mengatasinya, meski ada tekanan dari sisi ayahku yang tidak selalu aku mengerti — dua tahun itu terasa seperti sesuatu yang bisa dijaga.
Sampai malam ayahku duduk di depanku dengan amplop itu.
"Nara, ada sesuatu yang perlu Ayah bicarakan."
Aku masih ingat bagaimana ia meletakkan amplop itu di atas meja — dengan cara yang sudah ia pertimbangkan lama, dengan cara seseorang yang sudah melatih gerakan itu berkali-kali sebelum melakukannya.
Di dalam amplop: surat dari pengacara. Surat perceraian yang sudah disiapkan.
"Ini bukan karena Revano melakukan sesuatu yang salah," kata ayahku. "Dan ini bukan karena kamu tidak bahagia. Ini karena Ayah salah dari awal. Pernikahan ini harusnya tidak pernah terjadi."
"Kenapa?" Aku masih ingat suaraku sendiri — tidak berteriak, hanya pelan. Pelan dengan cara yang menandakan bahwa ada sesuatu yang sangat besar yang aku tidak siap untuk menerimanya. "Kenapa sekarang?"
"Karena Ayah sudah memperbaiki semua yang salah. Dan langkah berikutnya adalah membiarkan kamu memulai lagi dari awal. Dengan cara yang benar."
"Cara yang benar adalah menikah dengan seseorang yang aku cintai dan mempertahankannya," kataku. "Bukan—"
"Nara." Nada yang memotong tanpa suara yang keras. Yang lebih efektif dari yang keras. "Ayah tidak minta kamu setuju. Ayah hanya minta kamu percaya bahwa ini yang terbaik."
Dan aku — yang dua puluh tiga tahun dan yang sudah terbiasa percaya kepada ayahku tentang hal-hal yang tidak aku mengerti sepenuhnya — melakukan hal yang paling aku sesali dalam hidup.
Aku percaya.
Tanda tangan di dokumen itu dengan tangan yang tidak gemetar tapi dengan cara membaca yang tidak sepenuhnya membaca — karena kalau aku membaca semuanya dengan sungguh-sungguh, aku tidak akan bisa menyelesaikannya.
Dan satu hal yang tidak pernah aku lakukan malam itu: memberitahu Revano secara langsung.
Pengacara yang menyampaikan. Prosedur yang berjalan. Aku yang tidak mengangkat telepon saat Revano menelepon malam itu — tiga kali, lalu berhenti.
Karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada seseorang yang tidak pernah aku beri penjelasan.
---
Itulah yang sudah tujuh tahun tidak diceritakan.
Bukan hanya kepada orang lain. Kepada diri sendiri juga aku tidak pernah menceritakan dengan lengkap — lebih mudah menyimpannya dalam versi yang lebih singkat, versi yang tidak mengharuskan aku menghadapi fakta bahwa aku pernah melepaskan sesuatu yang tidak ingin aku lepaskan karena terlalu percaya kepada seseorang yang tidak layak dipercaya sebanyak itu.
Malam setelah makan siang di kafe sudut, berbaring di kasur yang tidak membantuku tidur, aku memikirkan cara Revano menatapku di lobi.
Dan memikirkan bahwa ia tidak pernah tahu.
Ia tidak pernah tahu bahwa tanda tangan di surat cerai itu bukan dari perempuan yang memilih. Tapi dari perempuan yang dua puluh tiga tahun dan yang tidak tahu cara membedakan antara keputusan dan penyerahan.
Ia tidak pernah tahu itu.
Dan sekarang kami duduk di meja rapat yang sama tiga kali seminggu, dan ia sudah punya Kiara, dan ada kontrak yang perlu diselesaikan, dan mungkin ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan tidak diketahui.
Tapi semakin aku memikirkan itu, semakin sulit aku tidur.
Karena ada sesuatu dalam diri yang sudah lama aku latih untuk tidak didengarkan, yang malam ini mengatakan dengan sangat jelas:
*Ia berhak tahu.*
Aku membalik badan.
Menatap langit-langit.
Bukan hari ini. Bukan sekarang. Ada kontrak yang sedang berjalan, ada profesionalisme yang harus dijaga, ada Kiara, ada Dimas, ada terlalu banyak hal yang bergerak sekaligus.
Tapi suatu hari.
Sebelum enam bulan ini selesai, sebelum kontrak ditandatangani dan kami masing-masing kembali ke hidup yang sudah ada — ada sesuatu yang perlu dikatakan.
Yang seharusnya sudah dikatakan tujuh tahun lalu.
Keesokan paginya, Mama menelepon.
Bukan karena ada sesuatu yang terjadi — cara Mama menelepon tidak pernah karena ada krisis. Lebih sering karena ia merasakan sesuatu yang tidak selalu bisa ia jelaskan.
"Nara. Kamu tidur cukup?"
"Cukup, Ma."
"Kamu bohong. Suaramu kalau kurang tidur beda." Hening sebentar. "Ada apa?"
Aku memikirkan cara menjawab yang jujur tapi tidak membuka terlalu banyak hal yang belum aku siap bicarakan.
"Ada klien baru yang proyeknya besar. Kepikiran terus."
"Hm." Cara Mama berkata *hm* yang tidak sepenuhnya percaya tapi yang memilih tidak mendorong. "Makan yang benar ya. Jangan cuma kopi."
"Iya, Ma."
"Sabtu kamu ke sini?"
"Belum tahu. Kalau sempat."
"Ayah tanya kamu."
Aku tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang bergerak saat nama itu disebut — bukan kemarahan yang tajam, lebih seperti sesuatu yang tumpul yang tidak selalu aku tahu cara menamai. "Bilang aku baik-baik saja."
"Nara—"
"Ma, aku ada meeting jam sembilan. Nanti aku telepon balik ya."
Telepon ditutup.
Aku meletakkan ponsel di meja, menatap layar yang kembali gelap.
Pak Hendra. Ayahku yang baru tahun lalu aku maafkan sepenuhnya — bukan karena sudah tidak ada luka, tapi karena membawa luka itu terus-menerus terlalu mahal energinya. Yang kupilih adalah berdamai dari jarak yang aman, mengunjunginya sesekali, menjawab telepon Mama yang selalu menjadi mediator tanpa diminta.
Yang tidak pernah aku tanyakan secara langsung kepada ayahku: apa sebenarnya yang ia perbaiki malam itu, saat ia bilang *Ayah sudah memperbaiki semua yang salah.*
Tujuh tahun dan aku tidak pernah menanyakannya.
Mungkin karena aku tidak yakin ingin mendengar jawabannya.
Atau mungkin karena di suatu tempat yang sudah aku kuburkan dengan sangat rapi, aku sudah mengetahui bahwa jawabannya akan mengubah cara aku memandang tujuh tahun yang sudah berlalu.
Dan mengubah cara aku memandang perempuan yang menandatangani surat cerai itu.
Diri sendiri, pada usia dua puluh tiga.
Yang percaya terlalu mudah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar