Aku tidak pernah percaya pada firasat.
Tapi pagi itu, saat lift ke lantai dua belas berhenti lebih lama dari biasanya dan ponselku mati baterai di saat yang tidak perlu, ada sesuatu yang bergerak di dalam dada yang tidak bisa aku namai. Bukan takut. Bukan gelisah. Lebih seperti sesuatu yang mengetuk dari dalam.
Aku abaikan.
Aku sudah terlalu terbiasa mengabaikan hal-hal yang tidak bisa dibuktikan dengan data.
Ruang rapat tiga — yang paling besar di lantai dua belas, yang biasanya hanya dipakai untuk klien tier A atau pertemuan dengan direksi — sudah ditata rapi sejak semalam. Aku tahu karena aku yang memintanya. Dua belas slide presentasi, dua puluh tiga halaman proposal, tiga bulan kerja tim yang akhirnya sampai di titik ini.
PT Krisna Properti. Klien yang, kalau berhasil, akan menjadi kontrak terbesar yang pernah ditangani divisi kami.
Aku masuk ke ruangan tujuh menit sebelum jadwal, memeriksa proyektor, memeriksa posisi kertas, memeriksa apakah air mineral sudah tersedia di setiap tempat duduk. Ritual yang sama dengan setiap presentasi besar. Yang berbeda adalah hari ini ada direktur kami — Pak Suryo — yang juga hadir, duduk di sudut dengan cara seseorang yang ingin terlihat santai tapi yang sebenarnya sedang mengevaluasi.
*"Nara, ini klien paling penting tahun ini,"* katanya kemarin. *"Kalau ini berhasil, promosi itu bukan lagi pertanyaan."*
Aku tahu. Makanya aku tidak tidur sampai pukul dua dini hari.
Pukul sembilan tepat, pintu ruang rapat terbuka.
Aku berbalik dari proyektor, senyum profesional yang sudah sangat aku latih sudah terpasang di wajah, tangan sudah siap mengulurkan untuk bersalaman.
Dan tujuh tahun runtuh dalam tiga detik.
Lelaki yang berjalan masuk itu tidak berubah banyak. Lebih tinggi dari yang aku ingat — atau mungkin aku yang lupa seberapa tinggi ia. Kemeja putih yang tidak punya satu pun kerutan, rambut yang lebih pendek dari terakhir kali aku melihatnya, dan cara berdiri yang sama persis dengan yang sudah sangat aku kenal tujuh tahun lalu.
Revano Krisna.
Mantan suamiku.
Yang tidak pernah aku bayangkan akan berdiri di ruang rapatku dengan cara seseorang yang hendak menjadi klien.
Aku tidak bergerak. Tiga detik yang terasa jauh lebih panjang dari itu. Senyum profesional di wajahku entah masih ada atau sudah turun — aku tidak bisa merasakan wajahku sendiri saat itu.
Revano menatapku.
Matanya bergerak dari wajah ke papan nama di mejaku yang bertuliskan *Nara Dewi – Senior Account Manager* — dan di matanya ada sesuatu yang melintas dengan sangat cepat sebelum wajahnya kembali menjadi wajah yang tidak memberikan informasi apa pun.
"Selamat pagi." Ia mengulurkan tangan. Cara yang tepat, cara yang profesional, cara yang tidak memberikan petunjuk apa pun kepada siapa pun di ruangan ini bahwa ada sesuatu yang sudah pernah ada sebelum semua ini.
Aku mengulurkan tangan balik. "Selamat pagi. Nara Dewi."
Tangannya sama. Cara jabatannya sama. Tapi ini bukan jabatan tangan yang sama dengan yang pernah ada di antara kami.
"Revano Krisna." Ia melepas tanganku. Berbalik ke arah pintu. "Dan ini Kiara Amanda, asisten direktur saya."
Perempuan yang masuk di belakangnya cantik dengan cara yang tidak perlu berusaha. Rambut panjang yang rapi, senyum yang terlatih tapi tulus, dan cara berjalan yang mengatakan ia terbiasa ada di ruangan-ruangan seperti ini.
Ia mengulurkan tangan kepadaku. "Kiara. Salam kenal."
"Nara." Aku menjabatnya. "Selamat datang."
Di belakang mereka, dua orang lagi dari tim PT Krisna masuk. Aku tidak mencatat nama mereka saat itu. Aku tidak bisa mencatat apa pun saat itu selain fakta bahwa pria yang pernah menandatangani surat nikah bersamaku tujuh tahun lalu sekarang berdiri dua meter dari tempatku berdiri dan tampak sepenuhnya tidak terganggu.
Pak Suryo yang bergerak dari sudut mengulurkan tangan kepada Revano. "Pak Revano, senang akhirnya bisa bertemu langsung. Saya Suryo, Direktur Operasional."
"Pak Suryo." Revano bersalaman. "Terima kasih sudah menyiapkan waktu."
Semua orang duduk. Aku berjalan ke posisiku di depan proyektor, membuka laptop, mengklik slide pertama.
Dan di satu detik sebelum aku mulai berbicara, aku memberikan satu instruksi kepada diri sendiri yang sudah aku tahu caranya dari dua puluh delapan tahun hidup: *tenang*.
"Terima kasih sudah hadir," kataku, dengan suara yang terdengar seperti suara orang yang tidak baru saja kehilangan napas selama tiga detik. "Saya Nara, dan pagi ini saya akan mempresentasikan bagaimana kami berencana mendukung ekspansi PT Krisna Properti dalam dua tahun ke depan."
Aku tidak menatap Revano.
Aku menatap semua orang di ruangan itu secara merata, dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan dari tiga tahun menjadi account manager — merata, koneksi, tidak ada yang merasa diabaikan.
Tapi dari sudut mata yang tidak bisa aku kendalikan sepenuhnya, aku tahu bahwa Revano menatapku.
Dengan cara yang tidak bisa aku baca.
Dengan cara yang tidak pernah berubah sejak delapan tahun lalu, saat pertama kali kami bertemu di sebuah acara keluarga yang tidak ada satu pun dari kami yang perlu hadir tapi sama-sama ada.
Aku mengklik slide berikutnya.
Dan mulai menjelaskan rencana bisnis dengan suara yang tetap rata — meski di dalam dada ada sesuatu yang mengetuk lebih keras dari biasanya, meminta untuk diakui.
Aku tidak mengakuinya.
Belum.
Presentasi berlangsung lima puluh menit.
Selama itu Revano tidak mengatakan satu kata pun — tapi aku bisa lihat dari caranya mencatat bahwa ia mendengarkan setiap kata. Di akhir, saat Pak Suryo membuka sesi tanya jawab final, Revano angkat bicara untuk pertama kalinya.
"Satu pertanyaan." Suaranya sama. Persis sama dengan yang masih ada di bagian memori yang tidak pernah berhasil aku bersihkan. "Di slide dua belas, proyeksi return on investment tahun kedua terlihat agresif. Basis kalkulasinya apa?"
Pertanyaan teknis. Aku menjawab dengan teknis.
Revano mengangguk. Tidak memuji, tidak mempertanyakan lebih lanjut. Hanya mengangguk dan kembali ke catatannya.
Pertemuan ditutup. Jabat tangan, janji pertemuan berikutnya dua hari lagi.
Aku tinggal sendirian di ruang rapat untuk mengumpulkan berkas — dan menemukan sesuatu di bawah map yang tertukar: selembar kertas kecil dilipat menjadi empat. Tulisan tangan yang aku kenal lebih baik dari tulisan tangan siapa pun.
*Kamu baik-baik saja?*
Tiga kata. Tanpa nama. Tanpa konteks yang diperlukan karena hanya satu orang di ruangan tadi yang bisa menulis ini.
Aku melipatnya kembali, memasukkannya ke saku jaket.
*Tidak tahu.* Itulah jawaban jujurnya. Tapi jawaban itu tidak untuk hari ini.
Aku keluar dari ruang rapat dengan cara yang sama seperti masuk — kepala tegak, langkah yang tidak memperlihatkan bahwa ada sesuatu di dalam dada yang baru saja bergeser dari tempat yang selama ini sudah cukup aku buat nyaman.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar