Keesokan paginya Pak Harto meninggalkan map di meja ruang tamu.
Bukan sengaja ditinggalkan, aku yakin itu — lebih ke tertinggal karena buru-buru. Ia pergi pagi-pagi ke pertemuan bisnis setelah sarapan cepat, dan map itu masih ada di meja ketika Ibu Endang masih di kamar dan Bagas sudah berangkat kerja.
Aku berdiri di depan map itu selama tiga detik.
Seorang auditor yang baik tidak membuka dokumen yang bukan miliknya tanpa izin.
Tapi seorang auditor yang baik juga tahu bahwa tiga detik dari sekarang map itu akan disimpan di kamar dan aku tidak akan punya kesempatan lagi.
Aku membukanya.
Tidak semua halaman — hanya cukup untuk melihat nama dokumen dan pihak-pihak yang terlibat.
Halaman pertama: surat perjanjian. Pihak pertama: PT Surya Mandiri Abadi. Pihak kedua: nama seseorang yang tidak aku kenal. Nilai transaksi: blurred di salinan yang ini — hanya angka pertama yang terlihat, angka yang cukup besar.
Halaman ketiga: ada nama Bagas Santoso. Di bawahnya: "sebagai penjamin" — dua kata yang membuat perutku turun satu lantai.
Penjamin.
Bagas dijadikan penjamin dalam transaksi yang ia tidak tahu ia jamin.
Kalau transaksi ini bermasalah — dan pola yang sudah aku lihat selama ini memberiku cukup alasan untuk curiga bahwa ia bermasalah — Bagas bisa ikut terseret secara hukum. Sebagai penjamin yang namanya ada di dokumen, terlepas dari apakah ia menandatangani dengan sadar atau tidak.
Aku mengembalikan map ke posisi semula dengan cara yang tidak berbeda dari sebelumnya. Berjalan ke dapur. Duduk di kursi dengan kepalan tangan di meja.
Ini bukan lagi sekadar kejanggalan keuangan yang perlu diselidiki lebih dalam.
Ini sudah menjadi ancaman konkret terhadap suamiku.
Dan aku perlu bergerak lebih cepat dari yang sudah aku rencanakan.
Malam setelah menemukan dokumen penjamin itu, aku melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan sejak awal investigasi ini: aku hampir cerita ke Bagas sebelum siap.
Hampir.
Bagas duduk di depanku dengan wajah yang rileks setelah makan malam, tidak tahu apa yang sudah aku temukan hari ini, tidak tahu bahwa namanya ada dalam dokumen yang bisa membuatnya tersangkut masalah hukum yang bukan pilihannya.
Dan aku hampir membuka mulut.
Tapi aku tidak jadi.
Bukan karena tidak peduli. Justru sebaliknya — karena aku peduli cukup untuk tidak memberitahunya sebelum aku punya bukti yang cukup kuat dan, lebih penting, rencana yang cukup jelas untuk melindunginya.
Memberitahu Bagas sekarang, dalam kondisi informasi yang belum lengkap, berarti mempersilakannya untuk bereaksi sebelum waktunya. Dan reaksi yang terlalu dini — confrontasi dengan Pak Harto sebelum ada bukti yang tidak bisa dibantah — hanya akan membuat Pak Harto lebih berhati-hati dan lebih sulit untuk ditelusuri.
Aku harus sabar satu atau dua minggu lagi.
---
Tapi ada satu hal yang perlu aku lakukan segera: memastikan Bagas tidak menandatangani apapun lagi sebelum aku selesai.
"Mas," kataku malam itu, sengaja di sela percakapan yang sedang ringan, "belakangan ini Bapak tidak minta kamu tanda tangan sesuatu lagi?"
"Tidak, kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya... kemarin waktu ngobrol sama temanku yang kerja di kantor hukum, katanya penting untuk selalu baca dulu sebelum tanda tangan. Bahkan yang kelihatannya sepele."
Bagas menatapku. "Kamu kenapa tiba-tiba bahas ini?"
"Temannya cerita ada kasus di mana orang dijadikan penjamin tanpa sadar." Aku mengangkat bahu — sengaja santai. "Jadi aku ingatkan Mas saja. Kalau Bapak minta tanda tangan lagi, baca dulu ya. Minta salinannya."
"Oke." Bagas mengangguk. "Aku tidak rencananya."
Tujuan tercapai. Tanpa membuat Bagas curiga lebih dari yang perlu, dan tanpa membuka kartu lebih dari yang aku mau buka sekarang.
---
Keesokan paginya, Ibu Endang punya momen yang menarik.
Ia menemukan aku sedang membaca koran di meja makan — koran ekonomi yang ada di tumpukan koran Pak Harto — dan langsung mengangkat alis.
"Kamu baca koran ekonomi?"
"Oh." Aku menaruh koran. "Tidak mengerti isinya, Bu. Tadi iseng ambil, ternyata isinya soal bisnis-bisnis. Bingung."
Ibu Endang hampir tersenyum. "Memang itu bacaannya Bapak. Kamu baca yang lain saja."
"Iya, Bu. Rena tidak terlalu ngerti hal-hal begitu."
Ibu Endang pergi ke dapur dengan cara orang yang baru memenangkan sesuatu yang kecil.
Dan aku menaruh kembali koran itu ke tumpukan dengan hati-hati — setelah menyelesaikan membaca artikel tentang tren terbaru dalam deteksi penggelapan aset korporat yang ada di halaman tujuh.
---
Dita menelepon jam dua siang ketika Ibu Endang sedang tidur siang.
"Rena, aku menemukan sesuatu tentang nama Hendra Wijaya itu."
"Apa?"
"Nama aslinya kemungkinan besar bukan Hendra Wijaya. Dokumen yang menggunakan nama itu ada nomor KTP yang ketika dicross-check dengan database yang aku akses dari data pemilih ternyata nomor yang terdaftar untuk nama yang berbeda di kota yang berbeda."
Nama palsu. Jadi Pak Harto menggunakan identitas palsu untuk mendirikan PT yang menjadi tempat aset dipindahkan.
"Ini sudah masuk kategori pemalsuan dokumen," kataku pelan.
"Iya." Dita berbicara hati-hati. "Rena, ini sudah di luar sekadar kejanggalan keuangan. Kalau kita laporkan ini sekarang—"
"Belum." Aku menghitung langkah. "Aku perlu tahu dulu seberapa jauh ini sudah berjalan dan apakah Bagas bisa dikeluarkan dari posisi penjamin itu sebelum ini dilaporkan."
"Kalau kamu lapor, Bagas sebagai penjamin mungkin akan ditarik ke dalam investigasi juga."
"Itu yang aku khawatirkan." Aku menatap ke luar jendela. "Aku perlu pengacara, Dit. Seseorang yang bisa bantu aku memahami posisi Bagas secara hukum kalau ini dilaporkan."
"Aku hubungi orang yang tepat."
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar