Malam setelah Kiki pergi, aku dan Bagas duduk di balkon kecil apartemen dengan dua gelas teh yang sudah mulai dingin.

"Bagas," kataku, "aku perlu bertanya sesuatu dan aku minta kamu jujur."

Ia menatapku dari kursinya. "Kamu bertanya dengan nada itu biasanya artinya serius."

"Apakah pernah ada dokumen yang ditandatangani atas namamu tanpa kamu baca dulu isinya?"

Bagas diam.

"Maksudnya?"

"Kontrak, surat kuasa, dokumen properti — apakah pernah Bapak atau Ibu minta kamu tanda tangan sesuatu dengan alasan 'ini formalitas saja' atau 'nanti aku jelaskan'?"

Bagas menatap gelasnya. Ekspresinya berubah dengan cara yang aku perhatikan — bukan kaget, lebih ke semacam pengakuan bahwa pertanyaan ini menyentuh sesuatu yang sudah lama ada di sudut pikirannya tapi tidak pernah dikeluarkan.

"Dua tahun lalu," katanya akhirnya. "Bapak minta aku tanda tangan dokumen. Katanya itu untuk keperluan administratif bisnis keluarga. Aku tidak baca isinya karena Bapak bilang tidak perlu."

Nadiku bergerak sedikit lebih cepat.

"Dokumen apa?"

"Tidak tahu persis. Bapak pegang semua lembarnya, aku hanya diarahkan ke bagian tanda tangan. Terlihat seperti akta perusahaan atau sejenisnya."

"Kamu minta salinannya?"

"Tidak. Waktu itu aku..." Bagas menghela napas. "Waktu itu aku percaya Bapak. Tidak terpikirkan untuk tanya lebih."

Aku mengangguk. Mencerna informasi ini.

"Rena," kata Bagas dengan nada yang berbeda, "ada yang perlu aku khawatirkan?"

"Belum bisa aku pastikan." Aku menatapnya langsung. "Tapi aku perlu kamu percaya aku untuk satu hal: sampai aku bilang sudah waktunya, jangan tanya Bapak atau Ibu tentang ini. Jangan ubah cara kamu berperilaku. Berjalan seperti biasa."

"Kamu sedang menginvestigasi keluargaku sendiri."

"Aku sedang mencari tahu apakah ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan." Aku memegang tangannya. "Dan kalau ada, aku ingin kamu tahu sebelum orang lain tahu. Termasuk sebelum pihak mana pun yang mungkin menemukan ini dari arah yang lain."

Bagas menatap tanganku di atas tangannya.

"Aku percaya kamu," katanya. "Tapi aku juga khawatir."

"Itu wajar."

"Bapak itu..." Suaranya lebih pelan. "Bapak bukan orang jahat, Rena."

Aku tidak langsung menjawab itu.

Orang jahat adalah kategori yang lebih sederhana dari kenyataannya. Yang lebih sering terjadi adalah orang baik yang membuat keputusan buruk — bukan dari kejahatannya tapi dari kelemahannya, dari ketakutannya, dari ketidakmampuannya untuk melihat konsekuensi jangka panjang dari apa yang di permukaannya terasa seperti jalan pintas yang tidak menyakiti siapapun.

"Kita lihat dulu," kataku akhirnya. "Jangan simpulkan sebelum kita punya gambar lengkapnya."

---

Dita mengirimkan file pertama hari Senin malam.

Aku membukanya di laptop dengan layar yang sudah aku redup supaya cahayanya tidak keliatan dari bawah pintu kalau ada yang melintas di lorong. Ibu Endang biasanya tidur jam sepuluh. Ini jam sebelas kurang. Bagas sudah tidur di sebelah.

Aku membaca dalam keheningan.

Isi file: data kepemilikan properti yang berhasil Dita susun dari berbagai sumber publik — akta jual beli yang terdaftar, data PPAT, catatan pajak yang tersedia di beberapa database yang bisa diakses dengan cara yang legal.

Lima properti atas nama Pak Harto. Dua sudah berpindah kepemilikan.

Properti pertama dijual empat tahun lalu kepada pihak ketiga dengan nilai transaksi yang tercatat di akta: satu koma dua miliar. Uang yang seharusnya masuk ke rekening keluarga.

Tapi dari cerita Bagas, uang itu tidak pernah ada dalam rekening keluarga — atau setidaknya tidak dalam jumlah yang mestinya.

Properti kedua lebih menarik: berpindah kepemilikan ke sebuah PT bernama Surya Mandiri Abadi — dan direktur PT itu adalah seseorang bernama Hendra Wijaya.

Hendra Wijaya. Nama yang tidak aku kenal. Tapi nomor telepon yang terdaftar sebagai kontak PT itu adalah nomor yang sudah Dita cross-check: terdaftar atas nama Suharto Santoso.

Pak Harto Santoso. Mertua laki-lakiku.

Jadi properti itu dijual ke perusahaan yang secara tidak langsung masih dikendalikan oleh Pak Harto sendiri. Bukan benar-benar dijual — dipindahkan ke entitas yang berbeda tapi masih di bawah kontrolnya.

Kenapa seseorang memindahkan asetnya ke entitas yang masih ia kendalikan tapi dengan nama yang berbeda?

Beberapa kemungkinan: menghindari pajak, menyembunyikan aset dari pihak tertentu, atau mempersiapkan sesuatu yang tidak ingin ia jelaskan kepada keluarganya.

---

Aku mengetik catatan singkat di file terenkripsi yang hanya bisa aku buka sendiri:

*Temuan hari ini: Properti kedua berpindah ke PT yang dikendalikan PHarto dengan nama berbeda. Perlu cek: (1) apa tujuan pemindahan ini — pajak? perlindungan aset? (2) apakah ada properti lain dengan pola serupa (3) siapa Hendra Wijaya — orang sungguhan atau nama pintu?*

Aku menutup laptop. Meletakkan kacamata di meja.

Di balik dinding kamar, suara Ibu Endang batuk sekali kemudian hening lagi.

Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit dalam gelap.

Ini baru permulaan. Dan permulaan ini sudah cukup mengkhawatirkan.

Pak Harto tiba dari Surabaya hari Rabu.

Pertama kali aku melihatnya secara langsung — sebelumnya hanya dari foto Bagas dan cerita-cerita yang Bagas bagikan. Enam puluh dua tahun, badan yang lebih besar dari yang aku bayangkan dari foto, dan cara berjalan orang yang terbiasa tidak dipertanyakan.

Ia menyalami aku dengan jabat tangan yang singkat dan perhatian yang hampir tidak ada.

"Ini menantunya," kata Ibu Endang ke Pak Harto, dengan cara yang terasa seperti memperkenalkan barang inventaris.

"Ya, ya." Pak Harto menatapku sebentar. "Kerja di mana?"

"Sudah tidak kerja, Pak. Fokus di rumah."

"Hmm." Ia berpindah ke Bagas. Percakapan selesai.

Aku mencatat: Pak Harto tidak tertarik padaku. Yang dalam kondisi ini sangat menguntungkan.

---

Tiga hari pertama Pak Harto di Jakarta menjadi tiga hari yang intens bagi Ibu Endang dalam hal merendahkan menantunya.

Bukan dengan cara yang kasar atau frontal — Ibu Endang terlalu terbiasa dengan lapisan-lapisan halus untuk melakukan itu. Lebih ke komentar-komentar yang ditujukan ke udara tapi jelas untuk siapa.

"Masakan ini kurang garam." (Sambil menatap meja, bukan ke aku.)

"Bagas, kamu lebih suka makan di restoran ya? Lebih terjamin." (Ketika aku baru menyajikan makan malam.)

"Zaman sekarang menantu tidak banyak yang mau repot-repot belajar resep keluarga." (Di depan Pak Harto yang mengangguk tanpa memperhatikan.)

Aku menerima semuanya dengan senyum yang tidak pernah goyah.

Bagas kadang mencoba memotong — "Ibu, masakan Rena enak kok" — tapi Ibu Endang sudah terlanjur pindah ke topik berikutnya sebelum kalimat itu selesai diproses.

---

Yang lebih menarik dari komentar-komentar itu adalah hal yang aku perhatikan ketika semua orang sudah di meja makan dan percakapan berjalan normal: Pak Harto dan Ibu Endang mempunyai semacam sistem komunikasi nonverbal.

Pandangan singkat yang dipertukarkan ketika topik tertentu muncul. Nada suara yang berubah sedikit ketika Bagas mulai bertanya sesuatu yang mendekat ke area bisnis. Cara Ibu Endang mengalihkan percakapan setiap kali Bagas mencoba membuka topik keuangan keluarga.

Aku tidak butuh gelar doktor untuk membaca pola itu.

Mereka berdua menyimpan sesuatu dari Bagas.

Dan mereka sudah lama melakukannya.

---

Malam itu aku menemukan satu hal lagi.

Pak Harto menerima telepon di ruang tamu setelah Ibu Endang masuk kamar dan Bagas sedang mandi. Aku ada di dapur dengan air mendidih yang belum aku angkat supaya ada alasan untuk di sana.

Tidak seluruh telepon itu bisa aku dengar. Tapi satu bagian yang cukup jelas:

"...ya, dokumennya sudah beres. Yang atas nama Bagas itu tinggal satu langkah lagi..."

Aku menahan napas.

"...tidak, dia tidak tahu. Istrinya juga tidak. Yang penting sebelum—"

Suara air mendidih meletup-letup dan aku terpaksa angkat panci supaya tidak meluap.

Ketika situasi tenang kembali, suara Pak Harto di ruang tamu sudah tidak ada. Telepon sudah selesai.

Tapi kalimat itu sudah cukup.

*Yang atas nama Bagas itu tinggal satu langkah lagi.*

Nama suamiku ada di dalam rencana apapun yang sedang Pak Harto jalankan. Dan Bagas tidak tahu.

---