Kejanggalan pertama tidak aku temukan dari dokumen.
Aku menemukannya dari percakapan yang tidak ditujukan kepadaku.
Ibu Endang punya kebiasaan menelepon satu temannya — Bu Parni, teman arisan lama dari Surabaya — setiap dua hari sekali. Percakapan itu berlangsung di kamar yang pintunya tidak selalu ditutup sempurna, dan aku yang kadang melintas di lorong dengan baju cucian di tangan tidak bermaksud mendengarkan tapi tidak bisa tidak mendengar.
Hari Rabu, satu setengah minggu setelah Ibu Endang tiba.
"...ya, si Harto masih bisa atur itu. Yang penting dokumennya beres..." Suara Ibu Endang, nada yang berbeda dari nada bicara sehari-hari — lebih rendah, lebih serius. "...kamu tidak usah khawatir, yang tanda tangan sudah bukan Harto tapi nama perusahaan yang satunya..."
Aku berjalan lebih lambat.
"...iya iya, tapi kan kalau nama Bagas ikut masuk—" Jeda. Suara berganti ekspresi. "Ya tidak perlu, nanti ribet. Biarkan yang sekarang saja..."
Aku sudah melewati lorong. Tidak mungkin berbalik tanpa terlihat mencolok.
Tapi kalimat itu sudah terekam.
*Kalau nama Bagas ikut masuk.*
Masuk ke mana? Ke dokumen yang mana?
---
Malam itu aku menelepon Dita.
"Dit, ada perkembangan. Tolong cek satu hal lagi — apakah ada dokumen atas nama Bagas Santoso yang terhubung dengan properti atau perusahaan yang sudah kita identifikasi sebelumnya."
"Bagas suamimu?"
"Iya."
"Rena, ini berarti suamimu mungkin juga terlibat?"
"Belum tahu. Kalau ada namanya di sana, mungkin tanpa sepengetahuannya." Aku berhenti sebentar. "Atau dengan sepengetahuannya. Aku perlu tahu mana yang mana sebelum bicara ke Bagas."
Dita diam beberapa detik. "Kamu yakin mau lanjut?"
"Ini bisnis keluarga suamiku, Dit. Kalau ada masalah yang aku tidak ketahui dan nanti melebar ke arah yang tidak bisa dikendalikan — itu lebih buruk dari yang aku temukan sekarang."
"Oke. Aku cari besok pagi."
Aku menutup telepon. Menatap langit-langit kamar.
Di sebelah, Bagas sudah hampir tidur — tertidur dengan cara cepat yang aku tidak pernah bisa, karena kepala yang penuh dengan angka dan pola dan kemungkinan memerlukan waktu lebih lama untuk menemukan keheningan yang cukup untuk tidur.
Aku memiringkan badan ke arahnya.
Suami yang percaya padaku. Yang tidak tahu bahwa nama yang mungkin ada di dokumen yang sedang aku selidiki adalah namanya sendiri.
Besok aku akan tahu lebih banyak. Dan setelah tahu, aku perlu memutuskan kapan dan bagaimana memberitahunya.
---
Keesokan paginya, Ibu Endang menemukan buku catatan kecilku di meja dapur.
Bukan buku yang berisi hal-hal penting — itu aku simpan di laptop dengan enkripsi yang tidak akan bisa dibuka meski orang tahu kata sandinya. Buku catatan kecil itu berisi daftar belanjaan dan beberapa catatan jadwal memasak yang aku buat sebagai bagian dari performance "istri yang fokus di rumah."
Tapi Ibu Endang melihat satu baris tulisanku — tulisan tangan yang kecil dan rapi — dan mengerutkan dahi.
"Tulisanmu bagus sekali," katanya.
Aku menatap buku itu. "Ah, iya? Biasa saja, Bu."
"Rapi." Ibu Endang meletakkannya kembali di meja dengan tatapan yang sebentar terasa seperti ia sedang menilai sesuatu. "Kamu pernah belajar kaligrafi?"
"Tidak, Bu. Memang dari kecil tulisannya begini."
Ibu Endang mengangguk. Pergi ke dapur.
Aku menatap buku catatan itu sebentar.
Tulisan yang rapi adalah satu hal yang tidak bisa aku sembunyikan dengan mudah. Satu kecerobohan kecil yang perlu aku perhatikan ke depannya.
Kiki datang lagi hari Sabtu berikutnya, kali ini dengan alasan "mau menemani Ibu ke dokter."
Dokter yang dijadwalkan jam dua siang. Tapi Kiki tiba jam sepuluh pagi.
Dua jam lebih awal memberikan cukup waktu untuk melakukan apa yang tampaknya menjadi agenda utamanya: mengobservasi rumah tanggaku dengan cara yang tersamar sebagai kunjungan biasa.
"Kak Rena," katanya sambil membuka lemari di ruang tamu yang tidak ada yang mempersilakannya dibuka, "furniturnya ini dari mana? Dari Ikea ya?"
"Dari toko furnitur di Tebet." Aku duduk di sofa sambil melipat handuk — sengaja kelihatan sibuk dengan hal yang tidak penting. "Waktu itu ada diskon."
"Oh." Kiki menutup lemari. "Kalau mau upgrade nanti Kiki bisa bantu pilih. Kiki kenal beberapa interior designer bagus."
"Wah, nanti ya Ki. Rena dan Bagas masih menabung dulu."
Kiki menatapku sebentar dengan cara yang berbeda dari biasanya — lebih teliti. "Kak Rena tidak kerja ya?"
"Sudah berhenti. Fokus di rumah."
"Di toko apa sebelumnya?"
"Kantor kecil. Bantu-bantu pembukuan sederhana." Aku melipat handuk dengan gerakan yang agak canggung. "Tapi Rena memang tidak terlalu ngerti urusan kantor yang ribet-ribet."
Kiki mengangguk dengan ekspresi puas yang tidak disembunyikan. "Bagas kalau kerja pulangnya jam berapa?"
"Tergantung, Ki. Kadang jam tujuh, kadang lebih."
"Oh. Berarti Kak Rena di rumah sendirian seharian?" Cara dia bertanya itu terasa seperti bukan pertanyaan tentang jadwal tapi tentang sesuatu yang lain.
"Sama Ibu kalau Ibu sedang di sini."
"Hmm." Kiki berpindah ke arah rak buku di sudut ruangan. "Buku-buku ini punya Bagas ya?"
"Sebagian."
"Yang ini punya Kak Rena?" Ia mengambil satu buku — buku teori akuntansi lanjutan yang aku beli waktu S2 dan yang ada di rak itu karena aku lupa memindahkannya ke tempat yang kurang terlihat.
"Oh itu." Aku berdiri, mengambil buku itu dari tangannya dengan cara yang lebih cepat dari yang seharusnya natural. "Itu pinjaman dari teman. Belum dikembalikan."
"Buku akuntansi." Kiki menatapku.
"Temannya kerja di bidang itu. Rena yang disuruh simpan dulu."
"Oh." Kiki tersenyum. "Berat ya bacanya?"
"Berat banget. Rena buka satu halaman langsung pusing." Aku menaruh buku itu di bawah tumpukan majalah. "Ki mau minum apa?"
---
Kiki pergi jam tiga sore setelah menemani Ibu Endang ke dokter, dan aku duduk di dapur dengan perasaan bahwa pertukaran tentang buku tadi perlu dijadikan pelajaran.
Aku terlalu cepat mengambil buku itu.
Reaksi yang terlalu cepat adalah reaksi yang tidak terencana. Dan reaksi yang tidak terencana bisa memberi informasi lebih dari yang ingin diberikan.
Aku mengirim pesan ke Dita: *Bawa semua buku akademisku ke kantor besok. Juga sertifikat dan dokumen profesional apa pun yang masih ada di sini.*
Dita membalas: *Investigasi memanas?*
*Lebih ke: perlu bersih-bersih.*
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar