Firma audit yang aku bangun bernama RK Audit & Konsultan.

Berdiri dua setengah tahun lalu dari modal yang aku kumpulkan sendiri selama empat tahun kerja di Big Four — firma audit internasional yang membayar gajinya dengan baik tapi menyita waktu lebih banyak dari yang pernah aku perkirakan waktu pertama masuk. Aku keluar bukan karena tidak betah, tapi karena aku melihat ada celah pasar yang bisa aku isi: perusahaan menengah yang tumbuh cepat tapi belum siap atau tidak mampu membayar Big Four, tapi butuh audit yang lebih serius dari yang bisa diberikan kantor-kantor kecil.

RK Audit mengisi celah itu.

Empat belas karyawan. Dua senior auditor yang aku rekrut dari firma lama. Satu manajer keuangan yang lebih cermat dari aku dalam soal detail kontrak. Dan satu partner — sahabatku sejak S1, Dita — yang mengelola operasional sehari-hari ketika aku sedang di lapangan atau, seperti sekarang, sedang menjalani kehidupan ganda sebagai istri yang dianggap tidak pandai hitung-hitungan.

---

Bagas tahu semua ini, tentu saja.

Bagas Santoso, tiga puluh tiga tahun, suamiku yang delapan bulan. Arsitek interior yang bekerja di firma desain menengah dan yang pertama kali menyadari kemampuanku menyembunyikan informasi tentang diri sendiri — dan yang, setelah mengenalku lebih dalam, jatuh cinta bukan meskipun itu tapi mungkin juga karena itu.

"Kamu tidak bisa menyembunyikan selamanya dari Ibu," katanya waktu kami pertama kali membicarakan rencana ini tiga bulan lalu, ketika Ibu Endang baru mengumumkan akan datang ke Jakarta.

"Aku tidak menyembunyikan selamanya. Hanya sampai aku punya gambaran lengkap tentang situasi bisnis keluargamu."

"Dan kalau Ibu tahu kamu sengaja menyembunyikan dari awal?"

"Itu masalah yang bisa kita hadapi kemudian dengan kejujuran." Aku menatap suamiku. "Yang lebih besar masalahnya adalah kalau ada yang tidak beres dengan bisnis keluargamu dan kita tidak tahu karena kita sudah terlanjur diposisikan sebagai orang yang tidak kompeten."

Bagas diam sebentar. Lalu: "Kamu sudah memikirkan ini lebih panjang dari aku."

"Doktor akuntansi, Mas."

Ia tersenyum dengan ekspresi yang seperti biasa ketika aku mengingatkannya gelarku — campuran antara bangga dan sedikit geli karena cara aku menyebutnya.

---

File pertama yang aku akses bukan dari rumah mertua.

Aku punya sumber lain: Dita, yang di firma aku sudah minta menjalankan pencarian background standar terhadap bisnis-bisnis yang terdaftar atas nama Pak Harto Santoso dan keluarga.

Yang muncul dari pencarian itu sudah memberikan gambaran awal yang perlu aku verifikasi lebih dalam:

Pak Harto punya lima properti terdaftar atas namanya. Dua sudah berpindah kepemilikan dalam dua tahun terakhir — satu ke pihak ketiga dengan nilai transaksi yang tercatat, satu ke entitas perusahaan yang tidak jelas.

Ada satu perusahaan perdagangan yang terdaftar atas nama Pak Harto dan dinonaktifkan setahun lalu — tapi sebelum dinonaktifkan ada beberapa transaksi keluar yang nilainya tidak proporsional dengan omzet perusahaan.

Dan yang paling menarik perhatianku: ada rekening bank atas nama perusahaan lain yang secara dokumen tidak terhubung dengan Pak Harto, tapi alamat pengurus perusahaan itu adalah alamat yang sama dengan rumah keluarga di Surabaya.

Ini bukan bukti penggelapan. Tapi ini adalah pola yang, sebagai auditor, aku sudah cukup sering lihat untuk tahu artinya perlu ditelusuri lebih dalam.

---

Yang membuat ini lebih kompleks adalah satu fakta yang Bagas ceritakan malam sebelum Ibu Endang tiba.

"Rena, Ibu tahu," kata Bagas.

Aku menoleh dari laptop. "Tahu apa?"

"Ibu tahu tentang properti yang dijual itu. Bapak yang cerita ke Ibu. Dan Ibu... mendukung."

Aku menutup laptop.

"Ibu mendukung Bapak menggelapkan aset?"

"Bukan menggelapkan. Ibu bilang itu 'mengamankan.'" Bagas duduk di sofa dengan ekspresi orang yang sudah lama tidak nyaman dengan informasi yang ia pegang. "Ibu bilang itu untuk 'cadangan keluarga' kalau-kalau ada kebutuhan mendadak."

"Cadangan keluarga yang tidak ada di rekening keluarga."

"Itu yang aku tidak mengerti." Bagas menatapku. "Kalau untuk keluarga, kenapa tidak transparan ke anak-anaknya?"

Pertanyaan yang bagus.

Dan jawabannya adalah salah satu dari beberapa kemungkinan yang tidak satupun menyenangkan untuk dipikirkan oleh anak yang sayang pada orang tuanya sendiri.

---

Ibu Endang datang dengan dua koper dan cara masuk orang yang sudah memutuskan bahwa ini rumahnya juga.

Hari pertama sudah ada tiga komentar tentang cara aku menyimpan bumbu dapur, dua observasi tentang cara aku mencuci piring, dan satu pertanyaan — yang terdengar lebih seperti pernyataan — tentang kenapa kursi tamu tidak diganti dengan yang "lebih bagus."

Bagas menatapku dari sudut mata dengan ekspresi minta maaf.

Aku tersenyum padanya. Tidak apa-apa.

Ibu Endang yang cerewet soal bumbu dapur justru memudahkan satu hal: orang yang terlalu sibuk mengkritik hal-hal kecil biasanya tidak memperhatikan hal-hal yang lebih besar.

Dan aku butuh waktu untuk melihat hal-hal yang lebih besar itu tanpa ada yang memperhatikan aku melihat.

Ibu Endang punya standar untuk semua hal.

Standar untuk cara mengiris sayuran — tidak terlalu tipis, tidak terlalu tebal, dan kalau ada yang hasilnya tidak sesuai maka akan ada komentar yang panjang tentang "zaman sekarang anak muda tidak diajari masak yang bener." Standar untuk cara menyusun piring di rak — dari besar ke kecil, bukan dari kecil ke besar yang selama ini aku lakukan karena lebih mudah diambil. Standar untuk cara berbicara dengan suami — tidak terlalu keras, tidak terlalu banyak, dan sebaiknya tunggu Bagas yang memulai percakapan.

Standar terakhir itu yang paling menarik buat aku.

"Istri yang baik itu tidak banyak mendebat suami di depan orang lain," kata Ibu Endang di hari ketiga kehadirannya, sambil menyesuaikan posisi vas bunga di meja tamu yang baru saja aku pindahkan. "Bukan berarti tidak boleh berpendapat, tapi ada caranya."

"Iya, Bu." Aku mengangguk dengan ekspresi murid yang baru dapat pelajaran penting.

"Bagas itu anak yang baik. Pekerja keras. Kamu beruntung dapat dia."

"Sangat beruntung, Bu."

"Jadi jaga yang baik. Perempuan yang pintar itu bukan yang paling banyak bicaranya, tapi yang paling tahu kapan harus bicara."

Filosofi yang menarik dari perempuan yang sudah bicara selama satu jam nonstop sejak sarapan.

Aku tidak menyampaikan observasi itu keluar.

---

Kiki, adik ipar perempuanku, datang akhir pekan pertama.

Dua puluh delapan tahun, belum menikah, bekerja di perusahaan fashion lokal sebagai buyer. Cantik, stylish, dan punya cara bicara yang selalu terdengar lebih mahal dari isi percakapannya.

"Kak Rena," katanya dengan senyum yang manis terlalu konsisten untuk betul-betul manis, "bajunya lucu. Belinya di mana?"

"Oh, ini? Lupa belinya di mana, Ki. Di pasar kali."

"Oh." Dua huruf yang menyimpan penilaian lengkap.

"Kiki sendiri bajunya bagus. Mahal ya?"

"Ini? Tidak terlalu." Kiki menarik ujung kerahnya dengan cara yang sangat menunjukkan bahwa ia tahu persis berapa harganya. "Kalau Kak Rena mau, nanti Kiki bisa bantu pilih yang lebih... kekinian."

"Wah, boleh, Ki. Rena memang tidak terlalu ngerti fashion."

Kiki mengangguk dengan ekspresi puas — ekspresi orang yang baru mengonfirmasi sesuatu yang sudah ia duga.

Aku mencatat: Kiki adalah orang yang perlu diperhatikan, tapi dengan cara yang berbeda dari Ibu Endang. Ibu Endang meremehkan karena tidak tahu siapa aku. Kiki meremehkan karena memang ingin meremehkan — ada sesuatu di cara matanya mengamati yang tidak hanya tentang baju.

---

Bagas pulang kerja malam itu dengan wajah yang sudah aku kenali sebagai wajah "hari yang panjang dan tidak mau memperparah situasi."

"Gimana hari ini?" tanyanya di dapur.

"Baik." Aku mengaduk sup dengan gerakan yang normal karena tidak ada yang menonton. "Kiki datang tadi."

"Aku tahu. Ibu WA tadi." Bagas membuka kulkas. "Dia bilang apa?"

"Menawarkan bantuan pilih baju."

"Rena..." Suaranya mengandung nada permintaan maaf.

"Tidak apa-apa, Mas. Itu membantu aku."

"Membantu?"

Aku menoleh dari kompor. "Semakin mereka pikir aku tidak kompeten, semakin bebas aku bergerak."

Bagas menatapku dengan ekspresi yang sudah aku kenali juga — ekspresi orang yang masih belum sepenuhnya nyaman dengan betapa dinginnya cara istrinya menyusun strategi.

"Kamu tidak merasa direndahkan?"

"Aku lebih sering direndahkan oleh klien audit yang tidak mau percaya bahwa firma sekecil RK bisa mengaudit mereka dengan standar yang sama dengan Big Four. Dan aku lebih suka direndahkan dalam situasi yang aku kontrol daripada dalam situasi yang aku tidak kontrol." Aku mematikan kompor. "Ini aku yang pegang kendali, Mas."

Bagas diam sebentar.

"Oke," katanya akhirnya. "Aku percaya kamu."

---