Aku sengaja salah menghitung kembalian.

Bukan karena tidak bisa — aku sudah lulus S3 akuntansi dari universitas negeri terbaik di Jakarta, punya firma audit sendiri yang tahun ini masuk daftar dua puluh perusahaan audit tumbuh tercepat di Indonesia, dan sebelum menikah dengan Bagas sempat dinominasikan sebagai auditor muda terbaik oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Tapi pagi ini aku berdiri di depan kasir minimarket dekat rumah mertua dengan kantong belanjaan di tangan kiri dan dua lembar lima puluhan ribu di tangan kanan, dan ketika kasir menyerahkan kembalian empat belas ribu, aku menatapnya bingung seolah angka itu baru pertama kali aku dengar dalam hidup.

"Eh... ini empat belas ya, Mbak?" tanyaku dengan nada yang persis nada orang yang tidak yakin berapa dua ditambah dua.

"Iya, Bu. Belanjaan Ibu delapan puluh enam ribu, bayar seratus ribu, kembaliannya empat belas ribu."

"Oh... oke, oke." Aku menghitung kembalian itu dengan jari — dengan jari, seperti anak TK — sambil mulut komat-kamit.

Dari sudut mataku, aku melihat Ibu Endang berdiri di belakangku.

Mertua perempuanku. Ibu dari Bagas. Perempuan lima puluh delapan tahun yang sudah tiga bulan ini tinggal bersama kami di rumah kontrakan Bagas dan aku, dan yang sejak hari pertama menerimaku sebagai menantu dengan cara orang yang menerima barang yang tidak sesuai ekspektasi tapi tidak bisa dikembalikan.

Ia menatapku dengan tatapan yang sudah aku hafal: campuran antara geli dan tidak sabar.

"Rena," katanya dengan nada yang persis nada orang yang berbicara kepada anak yang agak lamban, "sudah, masukkan saja. Kamu tidak perlu dihitung-hitung."

"Oh iya, Bu." Aku memasukkan kembalian ke dompet dengan tampang lega seolah baru lolos dari ujian matematika yang sulit. "Rena memang tidak pandai hitung-hitungan."

Ibu Endang menghela napas pelan tapi cukup keras untuk aku dengar. "Sudah ayo pulang."

Aku mengikutinya keluar dengan langkah yang sengaja sedikit lambat — langkah orang yang tidak terburu-buru karena memang tidak tahu banyak hal yang perlu dikerjakan.

Di dalam, aku tersenyum.

---

Namaku Rena Kusuma. Tiga puluh satu tahun. Doktor akuntansi.

Firm audit kecilku punya empat belas karyawan tetap dan sedang dalam proses negosiasi untuk mendapat kontrak audit dari dua perusahaan publik menengah — kalau keduanya jadi, kami akan masuk kategori audit firm yang berbeda dari sekarang.

Tapi Ibu Endang, mertua yang sudah tiga bulan tinggal bersama kami, tidak tahu semua itu.

Yang Ibu Endang tahu: aku istri Bagas yang manis tapi agak polos, tidak terlalu pandai urusan angka, dan menghabiskan hari-hari dengan mengurus rumah dan sesekali "membantu pembukuan di toko" — toko yang di benak Ibu Endang pastilah semacam warung kecil karena aku tidak pernah menyebut nama firma dengan cara yang terlalu memberi gambaran.

Bagas yang pertama kali melihat betapa cerdasnya kamu bisa mengatur informasi tentang dirimu sendiri — kata-katanya waktu pertama kami kenalan di kantin kampus, empat tahun lalu. Waktu itu aku tidak sengaja menjawab pertanyaan dosennya tentang derivatif keuangan dengan cara yang membuat seluruh meja terdiam, dan Bagas yang duduk dua kursi dariku menoleh dan berkata: "Kamu pura-pura tidak tahu tadi, ya?"

Aku tidak menyangkal.

Dan dari situ semuanya dimulai.

---

Alasan aku tidak memberitahu Ibu Endang siapa aku sebenarnya bukan karena takut atau karena malu.

Alasannya lebih strategis dari itu.

Tiga bulan lalu, seminggu sebelum Ibu Endang tiba dari Surabaya untuk "tinggal sementara" yang rupanya tidak punya tanggal selesai, Bagas memberitahuku sesuatu yang penting.

"Rena," katanya, "ada sesuatu tentang bisnis Bapak yang aku rasa ada masalah, tapi aku tidak bisa pastikan karena aku tidak tahu cara baca laporannya."

"Masalah apa?"

"Bapak punya beberapa properti yang katanya sudah dijual tapi uangnya tidak pernah masuk ke rekening keluarga. Dan ada beberapa investasi yang katanya merugi tapi Bapak tidak pernah mau kasih detail kerugiannya seperti apa."

Aku menatap suamiku.

"Kamu curiga Bapak menggelapkan aset?"

"Aku tidak mau berprasangka buruk ke Bapak sendiri." Bagas menatap tangannya. "Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan angka-angka yang tidak masuk akal."

"Kalau aku bantu periksa, kamu mau?"

"Itu yang aku minta."

Aku mengangguk. Dan dalam kepala yang sudah terbiasa berpikir seperti auditor, aku langsung menyusun satu hal: kalau aku mau investigasi yang efektif terhadap keluarga suami sendiri, aku tidak boleh dikenali sebagai ancaman dari awal.

Yang paling tidak mengancam adalah yang dianggap paling tidak kompeten.

Maka lahirlah Rena Kusuma versi menantu polos yang tidak pandai hitung-hitungan.

---

"Rena, nanti tolong bantu Ibu di dapur ya," kata Ibu Endang begitu kami sampai di rumah. "Kamu bisa kupas bawang?"

"Bisa, Bu." Aku sudah menaruh belanjaan di meja dapur. "Berapa bawang yang perlu dikupas?"

"Sepuluh siung cukup."

Aku menghitung bawang satu per satu dengan cara yang sengaja sedikit terlalu teliti untuk kegiatan yang sesederhana itu. Ibu Endang memperhatikan dari sudut matanya sambil mengambil wajan.

"Kamu sudah menikah berapa lama dengan Bagas?" tanya Ibu Endang.

"Delapan bulan, Bu."

"Hmm." Nada yang mengandung banyak hal tapi tidak ada yang diucapkan secara langsung. "Kamu kerja di mana sebelumnya?"

"Di kantor kecil, Bu. Bantu-bantu pembukuan."

"Gajinya cukup?"

"Lumayan, Bu. Sekarang sudah tidak kerja, fokus di rumah."

Ibu Endang mengangguk dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca sepenuhnya — antara puas karena menantunya "fokus di rumah" atau tidak puas karena sesuatu yang lain.

Aku mengupas bawang dengan kecepatan yang aku atur setengah dari kecepatan normalku.

Di dalam kepala, aku sudah mulai menyusun langkah pertama investigasi.

Pak Harto — mertua laki-lakiku — akan pulang dari Surabaya minggu depan. Dan di antara waktu-waktu itu, ada beberapa hal yang perlu aku temukan terlebih dahulu.