Aku tahu dari tatapannya.
Bukan dari kata-katanya — tidak ada kata apa pun yang keluar dari mulut Ibu Hartini saat aku melangkah masuk ke rumahnya untuk pertama kali sebagai menantu. Tapi tatapan itu sudah cukup. Matanya menyapu dari ujung kepala sampai ujung kakiku, lambat, seperti seseorang yang sedang menilai barang bekas di lapak loak.
Aku mengenakan blus katun biru dan celana bahan abu-abu. Bersih. Rapi. Wangi. Tapi jelas bukan gaun pesta. Bukan tas bermerek. Bukan hak tinggi.
Dan dari sorot matanya, aku bisa membaca semuanya.
*Ini yang dipilih anakku.*
Bagas berdiri di sampingku, menggenggam tanganku, tidak tahu apa yang baru saja melintas di wajah ibunya. Ia tersenyum lebar — senyum lelaki yang yakin hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya.
"Bu, ini Runi," kata Bagas. "Istriku."
Kata-kata itu terdengar seperti lonceng bagi Bagas. Tapi seperti alarm bagi Ibu Hartini.
Senyum itu muncul. Tipis. Terlalu tipis.
"Masuk dulu," katanya. Bukan *selamat datang*. Bukan *senang bertemu*. Hanya *masuk dulu*, seperti ia mengizinkan kurir menaruh paket di teras.
Rumah keluarga Wibowo tidak besar tapi tertata rapi. Ada foto-foto keluarga di dinding. Bagas yang lebih muda dengan seragam SMA. Bagas wisuda. Bagas di antara kedua orang tuanya dengan senyum yang sama-sama bangga. Aku berdiri di depan foto-foto itu sebentar, mencoba merasakan hangatnya keluarga yang ada di sana.
"Duduk saja dulu," kata Ibu Hartini dari dapur. "Saya ambilkan minum."
Aku dan Bagas duduk di sofa ruang tamu. Bagas menggenggam tanganku lebih erat.
"Tenang, ya," bisiknya. "Ibu itu baik."
Aku mengangguk. Tidak mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Ibu Hartini keluar membawa dua gelas teh. Ia duduk di kursi seberang, menyeberangi meja kopi, menatap aku dengan ekspresi yang sudah sedikit lebih terbuka — tapi hanya sedikit.
"Bagas bilang kamu kerja di pasar?" katanya.
"Iya, Bu." Aku tersenyum. "Saya jual sayur."
Hening. Dua detik. Tiga detik.
"Oh." Satu suku kata. Tapi nadanya bisa mengisi satu kamus penuh dengan kata-kata yang tidak diucapkan.
Bagas tidak menyadari apa-apa. Ia malah tertawa kecil. "Runi itu rajin banget, Bu. Setiap pagi sudah di pasar sebelum subuh."
"Memang," kata Ibu Hartini pelan. Matanya tidak bergerak dari wajahku. "Sudah lama kerja di sana?"
"Sejak lulus SMA, Bu."
"Tidak kuliah?"
"Kuliah, Bu. Manajemen. Tapi setelah itu saya memilih kerja di pasar."
Alis Ibu Hartini naik sedikit. *Kuliah tapi jual sayur.* Aku bisa membaca ekspresinya seperti membaca tulisan di papan.
"Orang tua masih ada?" tanyanya lagi.
"Sudah tidak ada, Bu. Bapak meninggal dua tahun lalu. Ibu sudah lebih dulu."
"Oh." Lagi. Satu kata yang bisa berarti apa saja.
Bagas menggenggam tanganku di bawah meja. Ia tidak tahu percakapan ini sedang menggali lubang yang akan kita berdua jatuh ke dalamnya.
"Runi itu mandiri banget, Bu," katanya, mencoba mengisi udara yang menggantung. "Urus semua sendiri."
Ibu Hartini tersenyum. Kali ini senyumnya lebih terlihat. "Ya sudah. Minum dulu tehnya."
Ia berdiri, masuk ke dalam. Tapi sebelum melewati pintu, ia berhenti — hanya sedetik — dan menatap ke arahku dengan ekspresi yang tidak bisa aku definisikan.
Bukan benci. Belum.
Tapi sudah cukup untuk membuatku tahu: perjalanan ini tidak akan mudah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar