Aku tidak menemukan apa pun di meja kerja Reza pagi itu.

Hanya kuitansi rapat bisnis, draft kontrak properti, kartu nama klien. Hal-hal yang seharusnya ada di meja kerja seorang pengusaha properti yang sukses.

Tapi aku tahu apa yang aku cari. Tidak akan ada di meja. Akan ada di laci. Di tempat yang lebih tersembunyi. Di tempat yang dikunci.

Reza punya tiga laci di meja kerjanya. Dua tidak terkunci. Yang ketiga selalu terkunci.

Aku tidak bisa membukanya hari ini. Belum saatnya. Aku tidak boleh ketahuan sedang mencari sesuatu.

Tapi aku akan menemukan kuncinya.

Aku keluar dari ruang kerja sama tenangnya seperti aku masuk. Menutup pintu. Memastikan tidak ada bekas tangan. Lalu aku kembali ke dapur dan menyelesaikan sarapan Kayla.

Nadira turun dari kamar tamu pukul setengah sembilan, mengenakan kaus tipis dan celana pendek. Rambutnya dikuncir asal. Wajahnya bersih tanpa make-up.

Cantik.

Aku selalu lupa betapa cantiknya Nadira. Di kuliah dulu, ia adalah perempuan yang dilirik banyak laki-laki tapi entah kenapa tidak pernah punya pacar serius. Kami berteman karena sama-sama suka belajar di perpustakaan dan tidak suka pesta. Setidaknya itu yang aku pikir dulu.

Sekarang aku mulai bertanya-tanya: apakah Nadira benar-benar tidak suka pesta, atau ia hanya sedang menunggu pesta yang tepat?

"Pagi, Nin!" sapanya ceria. "Kayla, dah bangun, sayang?"

"Pagi, Tante Dira."

Kayla menyapa dengan sopan. Tapi tidak senyum. Tidak seperti Kayla yang biasa.

"Kayla, mau sarapan sama Tante?"

"Kayla udah selesai."

"Oh, sayang sekali. Padahal Tante mau ngajak Kayla bikin pancake bareng."

Mata Kayla bersinar sebentar—anak lima tahun mana yang tidak tertarik dengan pancake—tapi ia melirik aku dulu sebelum menjawab. Mencari izin. Atau mungkin mencari sinyal apakah ia boleh suka pada Tante Dira.

Aku tersenyum.

"Boleh, sayang. Mama harus mandi sebentar."

Kayla turun dari kursi tingginya dan berjalan ke arah Nadira. Pelan. Hati-hati. Seperti mendekati orang asing, bukan orang yang katanya pernah memberinya boneka.

Aku mengamati Nadira menggandeng tangan Kayla menuju kompor. Mengamati cara Nadira berbicara pada Kayla—lembut, sabar, dengan nada yang familiar seperti seorang ibu kepada anaknya, bukan seperti tante kepada keponakan.

"Pelan-pelan ya, sayang. Telurnya jangan dipecahin terlalu keras."

"Iya, Tante."

"Pinternya. Tante bangga sama Kayla."

Aku berbalik. Berjalan ke kamar tidur. Karena aku perlu menjauh sebelum aku melakukan sesuatu yang tidak akan bisa aku tarik kembali.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan menarik napas panjang.

Dia... ingin merebut Kayla juga.

Bukan hanya rumah ini. Bukan hanya Reza. Tapi anakku.

Otak akuntan dalam kepalaku mencatat satu baris baru ke lembar kerja, dan kali ini, aku menggarisbawahinya dua kali.

Hak asuh.

Aku tahu apa artinya ini. Kalau Reza berniat menceraikan aku—dan dari percakapan tadi malam, ia berniat—maka pertarungan akan dimulai dari hak asuh Kayla. Dan Nadira sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi "ibu pengganti yang dekat dengan anak". Itu yang akan disajikan kepada hakim.

Aku tidak boleh kalah dalam pertarungan ini.

Dan untuk tidak kalah, aku tidak boleh terlihat sebagai ancaman. Belum sekarang.

Aku mandi cepat. Berpakaian rapi. Memakai sedikit make-up—lebih banyak dari biasanya. Lalu aku turun ke dapur dengan senyum yang tenang.

Kayla sedang menuangkan adonan ke wajan, dibantu Nadira yang memegang tangannya. Mereka tertawa. Adonan tumpah sedikit ke kompor dan Nadira menjerit pura-pura ngeri. Kayla terkikik.

Aku berhenti di ambang pintu. Membiarkan diriku menyaksikan adegan itu selama sepuluh detik penuh.

Lalu aku masuk dengan senyum lebar.

"Wah, harum sekali!"

"Mama!" Kayla berlari ke arahku. "Kayla bikin pancake!"

"Pinternya. Mama mau cobain dong."

Nadira tersenyum padaku.

Senyum yang manis. Senyum yang hangat. Senyum yang—aku sekarang menyadari—adalah senyum yang sangat, sangat hati-hati. Senyum perempuan yang sedang memainkan peran dengan sempurna.

"Nin, kamu mau kopi? Aku udah buatin," katanya.

"Makasih ya. Letakin aja di meja."

Aku duduk. Kayla naik ke pangkuanku dengan piring pancake kecilnya. Nadira menuangkan kopi ke cangkirku.

Cangkir yang biasa aku pakai. Cangkir biru tua dengan motif bunga matahari. Cangkir yang ada di dapur sejak aku menikah tujuh tahun lalu.

Cangkir yang Nadira ambil dari rak tanpa bertanya—seolah ia tahu mana cangkir milikku.

Padahal di rak ada lima cangkir yang mirip.

Aku menyeruput kopi itu pelan-pelan.

"Enak, Nin?"

"Enak."

"Aku tambahin sedikit gula merah. Aku inget kamu suka kopi yang nggak terlalu pahit."

Iya, aku suka kopi yang nggak terlalu pahit. Tapi Nadira—dalam tujuh tahun terakhir—seharusnya tidak punya cara mengetahui ini. Kami sudah jarang ketemu. Hanya bertukar pesan setahun sekali.

Lalu bagaimana ia tahu?

Reza muncul di pintu dapur dengan rambut basah setelah mandi.

"Wah, ada pancake party rupanya."

"Papa!" Kayla melompat dari pangkuanku. "Kayla bikin sama Tante Dira!"

"Iya? Coba Papa rasain dong."

Aku menatap Reza menggendong Kayla. Menatap Nadira tertawa bahagia. Menatap pemandangan keluarga kecil yang harmonis di dapurku—dengan satu orang yang seharusnya tidak ada di sana.

Aku tersenyum.

Aku menyeruput kopiku.

Dan di dalam kepalaku, lembar kerja itu terus bertambah baris.

Karena hari ini aku tahu satu hal baru yang penting:

Nadira sudah lama mempersiapkan ini. Lebih lama dari yang aku duga.

Pertanyaannya tinggal: berapa lama? Dan sampai sejauh mana ia sudah masuk ke dalam hidup keluargaku tanpa aku sadari?

Aku akan tahu jawabannya. Sebentar lagi.

Mulai sekarang.

---