Aku terbangun pukul setengah dua belas malam karena haus.

Atau setidaknya itu yang aku katakan pada diriku sendiri.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar tertidur. Aku hanya berbaring di tempat tidur dengan mata tertutup, mendengar napas Reza yang tenang di sebelahku, dan menunggu. Menunggu apa? Aku tidak tahu. Tapi tubuhku tidak mau diam.

Akhirnya aku menyerah dan turun dari tempat tidur. Memakai kardigan tipis. Berjalan tanpa suara ke arah dapur.

Aku tidak menyalakan lampu.

Dari ujung lorong, aku bisa melihat cahaya kuning samar dari dapur. Lampu di atas meja makan menyala. Dan ada dua suara berbisik—satu suara pria, satu suara perempuan.

Reza dan Nadira.

Aku berhenti di balik tembok lorong. Tidak bergerak. Tidak bernapas. Tubuhku otomatis tahu ini bukan saatnya muncul.

"...nggak bisa terus-terusan begini, Za."

Suara Nadira. Rendah. Mendesak.

"Sabar, Dir. Aku lagi atur."

"Aku udah sabar tiga bulan. Kayla harus tahu kebenaran. Anindya juga."

Anindya.

Namaku.

Dan Nadira mengucapkannya bukan seperti seorang sahabat yang baru menginap satu hari. Ia mengucapkannya seperti orang yang sedang membicarakan sebuah masalah yang sudah lama mengganggunya.

"Belum waktunya."

"Kapan waktunya?"

Hening sejenak. Aku mendengar gemerincing sendok di gelas. Mungkin Reza sedang mengaduk kopi.

"Aku butuh waktu, Dir."

"Waktu untuk apa? Setiap kali aku tanya, jawabannya selalu sama."

"Sayang—"

Sayang.

Dengar baik-baik, Anindya. Sayang.

Bukan "Dir". Bukan "Nadira". Bukan "kamu".

"Sayang."

Aku menempelkan tanganku ke tembok. Karena kalau tidak, aku tidak yakin bisa berdiri.

"Kamu tahu aku sayang kamu," kata Reza pelan. "Tapi ini soal anak. Soal harta. Soal nama keluarga. Aku nggak bisa terburu-buru."

"Aku nggak menuntut buru-buru. Aku cuma minta kepastian."

"Aku udah kasih kepastian."

"Belum cukup."

Aku menarik napas pelan-pelan. Sangat pelan. Karena dadaku terasa diremas tangan tak kasat mata, dan aku takut suara napasku akan terdengar dari ruangan itu.

Otak akuntan dalam kepalaku—otak yang sudah aku abaikan selama tujuh tahun, yang aku kubur di balik pekerjaan rumah tangga dan tugas-tugas seorang istri—otak itu sekarang bangkit dari kuburnya. Bangkit dengan kemarahan dingin yang aku sendiri tidak tahu masih bisa kumiliki.

Tapi aku belum bisa bergerak. Belum boleh.

Aku harus mendengar lebih banyak.

"Dir..." suara Reza melembut. "Percaya sama aku. Setahun lagi semua akan beres. Anindya akan tanda tangan cerai. Kamu akan jadi nyonya rumah ini secara sah. Kita akan punya semua yang kita rencanakan."

"Setahun lagi terlalu lama. Aku ingin sekarang."

"Sabar."

"Aku capek sabar, Za."

Aku mendengar suara kursi bergeser. Lalu suara langkah pelan—dua langkah saja—dan suara Nadira yang sedikit teredam, seolah wajahnya menempel pada sesuatu. Pada bahu Reza, mungkin. Pada dadanya.

Aku tidak ingin tahu.

Aku berbalik. Berjalan kembali ke kamar tidur dengan langkah yang tidak terdengar. Masuk ke kamar mandi pribadi. Menyalakan kran. Mencuci muka dengan air dingin.

Tanganku gemetar.

Tapi mataku tidak menangis.

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajah pucat. Mata yang lelah. Rambut yang berantakan karena seharian tidak diurus. Inilah aku—Anindya Pramesti, mantan auditor di firma akuntansi terbesar di Indonesia, lulusan Universitas Indonesia, perempuan yang dulu bercita-cita jadi CFO sebelum memilih meletakkan semua itu demi menjadi istri yang baik.

Demi pria yang sekarang ada di dapur. Membisikkan kata "sayang" pada perempuan lain.

Aku mematikan kran.

Lalu aku menatap wajahku sendiri dan berbisik—bukan kepada Reza, bukan kepada Nadira, kepada diriku sendiri:

"Mulai sekarang, kamu mulai menghitung."

Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkan itu. Tapi rasanya benar.

Aku kembali ke tempat tidur sebelum Reza naik. Berbaring miring memunggungi pintu. Memejamkan mata. Berpura-pura tidur.

Lima belas menit kemudian, Reza masuk dengan langkah hati-hati. Menyelinap ke tempat tidur. Mendekap aku dari belakang seperti yang biasa ia lakukan.

Aku tidak bergerak.

Aku membiarkan tangannya di pinggangku. Aku membiarkan napasnya di tengkukku.

Tapi dalam kepalaku, kolom kedua sudah penuh.

Tanggal: hari ini.
Bukti: percakapan dapur, pukul 23.47.
Kata kunci: "sayang", "tanda tangan cerai", "setahun lagi".

Dan aku tahu, mulai detik ini, semua sentuhan Reza padaku bukan lagi sentuhan suami.

Itu hanya sentuhan tersangka.

---