Pagi itu aku bangun lebih dulu daripada biasanya.
Reza masih tidur. Mulutnya sedikit terbuka. Wajahnya damai—wajah pria yang baru saja semalam berbisik "sayang" pada perempuan lain di dapur rumahnya sendiri, dan sekarang tidur seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku menatapnya selama hampir lima menit. Bukan dengan kemarahan. Bukan dengan kesedihan. Hanya menatap. Seperti seorang akuntan menatap laporan keuangan yang mencurigakan—dingin, sabar, mencari pola.
Lalu aku turun dari tempat tidur dengan tenang.
Aku tidak akan mengkonfrontasi Reza. Belum sekarang. Belum cukup data.
Aku berjalan ke lemari pakaian. Membuka pintunya pelan-pelan. Reza punya kebiasaan menggantung kemeja-kemejanya di sisi kanan. Aku menarik kemeja paling depan—kemeja biru tua yang ia pakai pulang dari perjalanan bisnis ke Surabaya dua minggu lalu.
Aku mendekatkan kemeja itu ke hidungku.
Parfum mawar.
Bukan parfum Reza yang aromanya kayu cendana dan citrus. Bukan parfumku yang vanila.
Parfum mawar.
Aroma yang sama dengan yang Nadira pakai kemarin.
Aku menarik napas. Pelan. Tenang. Tidak ada gemetar.
Lalu aku menggantung kemeja itu kembali ke posisinya. Persis di tempat aku menemukannya. Lurus. Rapi. Seolah tidak ada yang menyentuhnya.
Reza ke Surabaya dua minggu lalu. Sendiri. Untuk perjalanan bisnis. Sudah berkali-kali ia melakukan ini. Berkali-kali aku menyiapkan kopernya. Berkali-kali aku mencuci kemejanya setelah pulang.
Tapi kemeja yang ini—belum sempat masuk laundry. Tersangkut di lemari karena aku terlalu sibuk mengurus pesta ulang tahun Kayla minggu lalu.
Dan kemeja yang ini menyimpan jejak parfum Nadira.
Padahal Nadira "baru" datang ke rumah kami kemarin.
Otak akuntan dalam kepalaku menambahkan satu baris baru ke lembar kerja: kemungkinan Surabaya bukan perjalanan bisnis. Kemungkinan Nadira sudah lama berinteraksi dengan Reza sebelum "mendadak butuh tempat tinggal".
Aku menutup lemari.
Aku pergi ke dapur. Menyalakan kompor. Memasak telur dadar untuk Kayla. Gerakanku otomatis, tanganku tenang. Otakku tidak.
Kayla turun dari kamarnya dengan boneka kelincinya. Duduk di kursi tinggi. Aku menyajikan telur dadar di piring kecilnya, lengkap dengan saus tomat berbentuk hati seperti yang ia suka.
"Mama," kata Kayla sambil mengunyah. "Tante Dira sayang sama Kayla."
Aku berhenti mengaduk kopiku.
"Kenapa Kayla bilang gitu?"
"Tante Dira bawain Kayla boneka pas Kayla ulang tahun."
Aku menoleh perlahan pada putriku. Sangat perlahan. Karena sekali lagi, kalau aku bergerak terlalu cepat, aku takut akan jatuh.
"Kayla, Tante Dira datang baru kemarin. Tante Dira nggak ada di ulang tahun Kayla."
"Iya, tapi Tante Dira pernah bawain Kayla boneka. Yang besar. Yang merah."
Boneka beruang merah besar yang ada di kamar Kayla sejak ulang tahunnya yang ketiga. Boneka yang—aku ingat dengan jelas—Reza bilang ia beli sendiri di mall.
"Kayla, siapa yang bilang itu dari Tante Dira?"
"Tante Dira sendiri." Kayla mengangkat bahu. "Kemarin pas Mama ke kamar mandi. Tante Dira tunjuk boneka di kamar Kayla dan bilang, 'Itu beruang Tante, kan? Tante senang Kayla masih simpan.'"
Aku meletakkan cangkir kopi di meja.
Pelan-pelan.
Karena aku tahu kalau aku tidak pelan-pelan, cangkir itu akan pecah di tanganku.
"Sayang... Tante Dira nggak pernah ke rumah kita sebelumnya. Mungkin Tante Dira salah."
"Tante Dira tahu warna sprei Kayla. Tante Dira tahu Kayla suka susu cokelat, bukan susu putih." Kayla mengunyah dengan tenang. "Tante Dira pernah ke sini, Mama. Cuma Mama yang nggak ketemu."
Aku menatap putriku yang baru lima tahun.
Anak-anak tidak berbohong tentang hal-hal seperti ini. Anak-anak tidak punya alasan.
Pertanyaannya bukan apakah Nadira pernah ke rumah ini.
Pertanyaannya: berapa kali. Sejak kapan. Dan apakah suamiku yang membawanya, di siang hari, ketika aku sedang menjemput Kayla dari sekolah.
"Mama?"
"Iya, sayang."
"Mama kok diem?"
Aku tersenyum. Senyum paling lembut yang bisa aku berikan. Karena anak ini tidak boleh tahu apa yang sedang terjadi.
"Mama lagi mikirin telur dadar Kayla enak banget."
Kayla terkikik.
Aku berdiri. Membereskan piring kotor. Membersihkan meja. Mencuci tangan.
Lalu aku berjalan ke ruang kerja Reza. Yang biasanya terkunci. Tapi pagi ini ia lupa mengunci karena buru-buru tadi malam.
Aku masuk dengan langkah tenang. Menutup pintu pelan-pelan.
Dan aku mulai mencari.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar