Nadira tiba pukul sepuluh pagi dengan tiga koper.

Tiga.

Aku berdiri di teras dengan Kayla di pinggulku, mengamati sopir taksi menurunkan satu per satu koper itu ke lantai keramik. Koper besar, koper sedang, dan satu tas jinjing yang terlihat berat.

"Niiiin!" Nadira berlari mendekat dengan senyum lebar, pelukan hangat, dan parfum mawar yang familiar. Parfum yang sama yang ia pakai sejak kuliah. Setidaknya itu tidak berubah. "Maaf banget ngerepotin. Aku janji nggak akan lama-lama!"

"Nggak apa-apa." Aku membalas pelukannya. Tubuhku otomatis. Senyumku otomatis. "Anggap rumah sendiri."

"Aduh, kamu baik banget. Untung ada kamu."

Reza muncul dari dalam rumah dengan kemeja kasual akhir pekan. "Eh, udah sampai. Mari, Dir, kuantar ke kamar."

Dir.

Aku menangkap kata itu dalam udara, seperti menangkap serpihan kaca yang tidak seharusnya ada di lantai dapur. Nama panggilan akrab. Singkatan. Sesuatu yang membutuhkan kedekatan untuk terbentuk secara alami.

Dan Reza, yang seharusnya baru beberapa kali bertemu Nadira di acara-acara kecil keluargaku, memanggilnya "Dir" dengan kenyamanan yang sama seperti memanggilku "Nin".

"Sayang," panggil Reza sambil mengangkat satu koper. "Aku bantuin Nadira dulu, ya. Koper-kopernya berat."

"Iya, silakan."

Aku berdiri di teras dengan Kayla yang mulai gelisah di gendonganku. Mengamati Reza dan Nadira berjalan beriringan ke arah kamar tamu—lorong sebelah kanan, dua pintu sebelum kamar utama. Mereka berbicara pelan. Tertawa pelan.

Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka tertawakan.

Tapi aku bisa melihat punggung Reza yang santai. Pundak yang turun rileks. Posisi tubuhnya yang condong sedikit ke arah Nadira—bukan condong yang besar, tapi cukup untuk aku tangkap. Bahasa tubuh seorang pria yang sudah terlalu sering berdekatan dengan perempuan itu.

"Mama..." bisik Kayla. "Tante itu siapa?"

Aku menoleh pada putriku. Mata bulatnya menatap punggung Nadira dengan rasa ingin tahu polos.

"Itu sahabat Mama."

"Kenapa dia bawa banyak baju? Dia mau pindahan?"

Aku tertegun.

"Bukan pindahan, sayang. Cuma menginap."

"Berapa lama?"

"Beberapa hari."

"Kayla nggak mau lama-lama."

Aku menatap Kayla. Putri kecilku—yang biasanya ceria dan mudah akrab dengan orang baru—menatap Nadira dengan ekspresi yang tidak aku kenali. Seperti anak kucing yang merasakan ada anjing di sekitarnya, padahal anjingnya belum menggonggong.

"Kenapa nggak mau, Kayla?"

Kayla mengangkat bahunya dan menyembunyikan wajah di leherku.

"Kayla aja yang nggak suka."

Aku memeluknya lebih erat.

Anak-anak punya insting yang tidak dimiliki orang dewasa. Mereka belum belajar untuk mengabaikan apa yang dirasakan tubuh mereka demi sopan santun. Mereka belum belajar berbohong pada diri sendiri.

Aku berharap aku masih punya insting itu.

Atau mungkin masih punya. Aku saja yang menolak mendengarkannya.

Siang itu, di meja makan, Nadira duduk di kursi yang seharusnya milik aku ketika aku tidak ada. Kursi di sebelah Reza. Sebelah kanan. Tempat yang aku duduki selama tujuh tahun.

"Eh, Nin, maaf, aku duduk di sini ya? Aku belum tahu posisi duduk kalian."

"Nggak apa-apa." Aku duduk di sisi seberang. Tepat di hadapan Reza. "Anggap rumah sendiri."

Nadira tersenyum. Senyum yang manis. Senyum sahabat yang aku kenal sejak kuliah.

Tapi ada sesuatu di matanya.

Sesuatu yang tidak ada dulu.

Atau mungkin selalu ada, dan aku saja yang baru memperhatikan.

Reza mengulurkan nasi pada Nadira lebih dulu sebelum padaku. Gerakan kecil. Mungkin tidak sengaja. Mungkin hanya kebetulan.

Tapi otak akuntan dalam kepalaku mencatatnya.

Mencatat semua.

Karena angka tidak pernah berbohong. Dan detail kecil yang dikumpulkan cukup banyak, lama-lama akan membentuk pola.

Aku makan dengan tenang. Aku tersenyum pada Kayla. Aku menanyakan kabar orang tua Nadira yang sudah lama tidak aku temui.

Dan di dalam kepalaku, aku mulai menyusun lembar kerja.

Kolom satu: pengamatan.
Kolom dua: tanggal.
Kolom tiga: bukti.

Belum ada satu baris pun yang terisi.

Tapi malam ini, aku akan mulai menulis.

---