"Secara teknis, aku tidak menggelapkan apapun."
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Evan Pradipta ketika Rayan duduk di sampingnya di ruang perpustakaan kecil Lapas Argapura — ruangan empat kali empat dengan rak-rak buku yang lebih banyak kosongnya dari yang terisi, karena ternyata tidak semua penjahat kelas kakap gemar membaca.
Evan sendiri duduk di depan meja dengan tiga buku terbuka sekaligus, satu buku catatan, dan ekspresi seseorang yang sedang menyelesaikan masalah matematika yang menyenangkan. Kurus seperti frame kacamata yang terlupakan di saku. Rambut yang agak terlalu panjang dan dijepit ke belakang dengan klip binder warna hitam karena tidak ada jepit rambut yang tersedia. Kacamata dengan lensa tebal yang selalu sedikit miring ke kiri.
"Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya Rayan.
"Aku membuktikan sebuah hipotesis." Evan membalik halaman buku catatannya, memperlihatkan deretan angka dan simbol yang untuk Rayan terlihat seperti teks alien. "Tahun dua ribu delapan belas, aku menulis disertasi tentang kerentanan sistemik dalam arsitektur devisa negara-negara dengan GDP di bawah tiga ratus miliar dolar. Dosenku bilang teorinya tidak realistis." Ia mendorong kacamatanya ke atas — langsung miring ke kiri lagi. "Aku tidak terima."
"Jadi kamu..."
"Membuktikannya secara empiris." Evan berkata itu dengan nada yang sama seperti seseorang menceritakan percobaan kimia sederhana. "Aku pilih negara yang paling representatif sebagai sampel. Manipulasi arus devisa melalui tiga belas instrumen keuangan berbeda selama empat bulan. Efeknya... agak melebihi prediksi model awalku."
"Agak."
"Mata uang mereka jatuh delapan puluh dua persen dalam satu minggu." Evan mencatat sesuatu di bukunya. "IMF masuk. Pemerintah jatuh. Ada demonstrasi besar. Beberapa orang meninggal dalam kerusuhan." Ia berhenti sejenak. Untuk pertama kalinya nada suaranya berubah sedikit — menjadi lebih datar, bukan lebih bersalah, hanya lebih datar. "Itu bagian yang tidak ada dalam model awalku."
Rayan menatapnya lama.
"Kamu menyesal?"
Evan berpikir dengan sungguh-sungguh — bukan pura-pura berpikir, tapi benar-benar memproses pertanyaan itu seperti pertanyaan kalkulasi. "Aku menyesal tentang korbannya. Tapi kalau pertanyaannya apakah aku mau mengulang eksperimennya — aku akan merancang modelnya dengan lebih baik supaya variabel kerusuhan sosial bisa diprediksi lebih akurat." Ia mengangkat bahunya. "Jadi jawaban jujurnya: ya dan tidak."
"Kamu aneh."
"Aku tahu." Tidak ada defensif dalam nada itu. Hanya konfirmasi. "Tapi aku berguna. Dan di tempat ini, berguna lebih penting dari normal."
---
Percakapan mereka berlanjut lebih dari satu jam. Rayan tidak merencanakan itu — ia hanya mampir sebentar atas saran Bram yang entah kenapa mulai lebih banyak berbicara padanya dalam tiga hari terakhir. Tapi ada sesuatu dalam cara Evan berbicara yang membuat Rayan sulit berhenti mendengarkan: presisi. Setiap kalimat Evan dipilih dengan sangat hati-hati, tidak ada kata yang berlebihan, tidak ada basa-basi. Berbicara dengan Evan seperti membaca laporan teknis yang ditulis oleh seseorang yang benar-benar menguasai materinya.
Dan materi yang ia kuasai — ternyata jauh lebih luas dari ekonomi saja.
"Kamu tahu kenapa kita semua ada di sini?" tanya Evan di suatu titik, tanpa mengangkat matanya dari buku catatannya.
"Kejahatan masing-masing," jawab Rayan.
"Itu jawaban permukaan." Evan menarik garis di bawah sesuatu yang baru ia tulis. "Jawaban sesungguhnya: kita semua punya keahlian yang terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas, tapi terlalu langka untuk dihancurkan begitu saja." Ia mendongak, matanya di balik lensa tebal itu terlihat lebih besar dari ukuran aslinya. "Aku ahli dalam meruntuhkan sistem keuangan. Bram ahli dalam logistik gelap lintas batas. Hartono punya jaringan aset yang tidak bisa dilacak oleh sistem audit manapun." Ia berhenti.
"Dan aku?" tanya Rayan.
"Kamu bisa membaca struktur apapun — fisik maupun sistemik — dan menemukan kelemahannya." Evan menutup buku catatannya. "Rayan, kamu tahu apa kesamaan antara jembatan yang mau runtuh dan sistem yang mau runtuh?"
Rayan diam.
"Keduanya punya titik kritis yang tidak terlihat sampai seseorang yang tahu cara melihatnya menemukannya." Evan berdiri, mengumpulkan buku-bukunya. "Itulah yang Nox butuhkan dari kamu."
"Bagaimana kamu tahu tentang Nox?"
Evan menatapnya dengan ekspresi yang hampir seperti kasihan. "Rayan. Di sini, semua jalan bermuara ke Nox. Itu bukan metafora — itu fakta struktural." Ia melangkah ke pintu perpustakaan, kemudian berhenti. "Ada yang mengatur supaya kita semua ada di sini pada waktu yang bersamaan. Ini bukan kebetulan. Kamu insinyur — kamu tahu tidak ada yang namanya kebetulan dalam desain."
Rayan duduk sendirian di perpustakaan setelah Evan pergi, dengan buku-buku yang terbuka di hadapannya dan kepala yang penuh dengan hal-hal yang belum bisa ia susun menjadi satu gambar utuh.
*Ada yang mengatur supaya kita semua ada di sini.*
Tapi siapa? Dan untuk apa?
---
*Malam itu Rayan berbaring di ranjangnya dan mencoba menyusun semua kepingan: Nox yang mengetahui segalanya, Hartono yang menunggu sepuluh tahun, Evan yang bicara tentang sistem yang bisa diruntuhkan, Bram yang diam-diam menggerakkan hal-hal sesuai perintah seseorang. Ia menatap langit-langit selnya dan untuk pertama kalinya sejak pintu penjara ini menutup di belakangnya — ia merasakan sesuatu yang tidak ia sangka akan ia rasakan di sini.*
*Penasaran.*
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar