Undangan itu datang pada hari kelima.

Bukan dalam bentuk surat atau pesan lisan. Pagi itu, ketika Rayan kembali ke selnya setelah sarapan, ia menemukan selembar kertas kecil di atas meja tulisnya. Tidak ada amplop. Tidak ada cap. Hanya tulisan tangan yang sangat rapi — terlalu rapi, dengan jarak antar huruf yang konsisten seperti font komputer — terdiri dari satu baris:

*Blok Isolasi. Pukul 14.00. Jangan terlambat.*

Tidak ada tanda tangan.

Rayan membalik kertasnya. Kosong. Ia melihat ke kamera di sudut atas selnya — lampu merahnya mati. Ia tidak tahu sejak kapan.

---

Blok Isolasi terletak di sayap abu-abu yang selama ini hanya bisa Rayan lihat dari kejauhan. Siang itu, Bram sudah menunggunya di depan pintu dan memandunya masuk tanpa banyak bicara. Mereka melewati dua lapis pintu baja, satu pemindai retina, dan satu lorong yang penerangannya lebih redup dari lorong utama — bukan gelap, tapi seperti cahaya yang sengaja diturunkan tegangannya.

Di ujung lorong ada pintu terakhir. Bukan pintu sel biasa — ini kaca balistik setebal mungkin delapan sentimeter, dengan bingkai baja di sekeliling tepinya. Dari luar, Rayan bisa melihat ke dalam.

Sel itu berukuran sama dengan sel lain. Tapi isinya berbeda.

Tidak ada ranjang dengan bantal berlapis. Tidak ada televisi kecil seperti di beberapa sel yang pernah ia lewati. Yang ada: meja panjang yang penuh dengan buku — bukan buku sembarangan, Rayan bisa membaca beberapa judul dari tempatnya berdiri: *The Art of War* dalam bahasa aslinya, *Thinking, Fast and Slow*, *Thus Spoke Zarathustra*, sebuah buku tebal tentang teori permainan yang namanya hanya dikenal di kalangan akademisi, dan satu buku gambar yang kelihatan seperti buku anak-anak tapi judulnya dalam bahasa Latin.

Di kursi di belakang meja itu, duduk seorang anak.

Rayan mengira matanya salah membaca situasi. Ia mengedipkan mata. Sekali. Dua kali.

Tetap anak. Laki-laki. Paling tua lima belas tahun — mungkin kurang. Rambut hitam yang dipotong rapi tapi tidak terlalu pendek. Kulit pucat dengan cara yang terlihat alami, bukan sakit. Tubuhnya kurus tapi dengan cara yang seimbang, seperti seseorang yang tidak kekurangan makan tapi memang tidak makan lebih dari yang ia butuhkan.

Dan ia sedang membaca.

*Thus Spoke Zarathustra.* Nietzsche. Dalam terjemahan Jerman aslinya.

Tanpa mengangkat wajah, anak itu berkata, "Masuk."

Bram membuka pintu. Sistem elektroniknya terbuka dari dalam — bukan dari luar. Rayan memperhatikan itu.

---

Dari dekat, wajah anak itu lebih... tidak biasa. Bukan tampan dalam pengertian konvensional, bukan juga jelek. Fitur-fiturnya seimbang dengan cara yang terasa terlalu presisi — seperti wajah yang dirancang untuk tidak mengundang respon emosional apapun dari orang yang melihatnya. Tidak ada yang bisa dipegang. Tidak ada yang bisa dibaca.

Matanya yang paling asing. Cokelat terang, hampir keemasan di tepi irisnya, dan cara matanya bergerak ketika menatap Rayan — bukan dari atas ke bawah seperti kebanyakan orang yang sedang menilai seseorang, tapi sekaligus, seperti kamera resolusi tinggi yang memotret keseluruhan objek dalam satu momen.

"Duduk," kata anak itu.

Rayan duduk di kursi yang sudah tersedia di depan meja. Ia tidak tanya bagaimana kursi itu sudah ada di sana.

Beberapa detik berlalu. Anak itu masih membacanya — bukan bukunya. Rayan.

"Nama kamu Rayan Adhitama," kata anak itu akhirnya. "Tiga puluh dua tahun. Insinyur sipil, spesialisasi struktur jembatan dan bangunan skala besar. IPK kumulatif waktu kuliah tiga koma delapan dua, salah satu yang tertinggi di angkatan kamu. Belum pernah dihukum sebelumnya, bahkan tilang pun tidak. Kamu tidak bersalah."

Kalimat terakhir itu diucapkan bukan sebagai pertanyaan. Bukan sebagai hiburan. Tapi sebagai fakta yang sama bobotnya dengan fakta-fakta lain yang disebutkan sebelumnya.

Rayan mengeraskan rahangnya. "Kamu siapa?"

"Di sini orang memanggilku Nox."

"Itu bukan jawaban."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir anak itu bergerak sedikit — tidak cukup untuk disebut senyum, tapi cukup untuk disebut reaksi. "Kamu lebih cerdas dari rata-rata orang yang masuk ke ruangan ini. Itu bagus."

"Kamu yang mengirim kertas itu ke selku."

"Ya."

"Kamu yang menyuruh Bram menolongku hari pertama."

"Ya."

Rayan menatapnya. "Kenapa?"

Nox menutup bukunya dengan gerakan yang pelan dan presisi — meletakkannya tepat sejajar dengan tepi meja, sudutnya lurus. "Karena aku butuh seseorang dengan keahlianmu. Dan karena di antara semua orang di penjara ini, hanya kamu yang masuk dengan alasan yang benar."

"Alasan yang benar?"

"Kamu masuk karena kamu tahu terlalu banyak tentang sesuatu yang tidak boleh diketahui." Nox menautkan jarinya di atas meja. "Itu berbeda dengan yang lain. Yang lain masuk karena mereka melakukan sesuatu. Kamu masuk karena kamu hampir *mencegah* sesuatu."

Ruangan itu hening. Dari luar kaca, Rayan bisa melihat Bram berdiri dengan punggung membelakangi pintu seperti patung baja.

"Senator Wirawan," kata Rayan pelan.

Nox tidak berkedip. "Ia bukan satu-satunya yang mati karena alasan yang sama dengan yang hampir membunuh kariermu. Tapi ia yang paling terakhir." Ia berhenti sejenak. "Sebelum kamu masuk ke sini."

Rayan merasakan sesuatu bergerak di dadanya — bukan takut. Sesuatu yang lebih besar dan lebih dingin dari takut.

"Kamu tahu tentang Wirawan."

"Aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan." Nox menatapnya tanpa berkedip. "Termasuk nama orang yang memerintahkan ia dibungkam. Dan nama orang yang kemudian menjebakmu."

Keheningan.

"Kenapa kamu memberitahuiku ini?" tanya Rayan akhirnya.

"Karena dalam waktu dekat, aku akan membutuhkan bantuanmu untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menjawab pertanyaan." Nox mengambil bukunya lagi — membuka halaman yang tadi ia baca, tepat di halaman yang sama, tanpa mencari-cari. "Dan aku ingin kamu masuk ke dalam rencana itu dengan pemahaman penuh, bukan ketidaktahuan yang nyaman."

Rayan berdiri. Kakinya membawanya ke pintu sebelum otaknya sempat memutuskan.

Di ambang pintu, ia berhenti.

"Satu pertanyaan."

Nox mengangkat matanya dari buku.

"Berapa umurmu?"

Jeda yang panjang.

"Lima belas," kata Nox. "Bulan depan enam belas."

Rayan berjalan keluar. Bram menutup pintu di belakangnya. Dan di lorong yang remang itu, Rayan berdiri diam, memejamkan mata selama beberapa detik, mencoba menyusun kembali semua yang baru saja terjadi ke dalam sesuatu yang masuk akal.

Tidak berhasil.

Yang ia tahu hanya satu: ia lebih takut pada anak di dalam ruangan kaca itu daripada pada tiga pria yang mengincarnya di hari pertama. Dan ia belum bisa memutuskan apakah rasa takut itu adalah insting yang benar, atau peringatan yang harus ia dengarkan.

---

*Malam itu Rayan tidak tidur. Bukan karena suara dari sayap abu-abu. Tapi karena Nox — sebelum ia menutup pintunya — menyebut nama Senator Wirawan dengan cara yang aneh: bukan sebagai korban, bukan sebagai penjahat. Tapi sebagai pion. Dan itu artinya ada papan catur yang jauh lebih besar yang belum pernah terlihat oleh siapapun di luar sana.*

---