Tidak ada yang mempersiapkan Rayan untuk kenyataan bahwa penjara bisa terasa seperti ini.

Bukan nyaman — kata itu terlalu jauh. Tapi *berbeda*. Lapas Argapura berbeda dari semua bayangan penjara yang pernah ia bentuk dari film, buku, atau berita. Berbeda dengan cara yang membuat bulu tengkuknya berdiri bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih aneh: rasa tidak pada tempatnya, seperti seseorang yang masuk ke ruang rapat eksekutif dengan sandal jepit.

Sel Rayan — Sel C-14 — berukuran empat kali enam meter. Ada ranjang dengan kasur yang lebih tebal dari kasur kos-kosannya waktu kuliah. Ada meja tulis kecil, rak buku kosong, kamar mandi pribadi dengan shower yang benar-benar mengalirkan air panas. Di sudut atas ada lubang ventilasi berukuran dua puluh kali dua puluh sentimeter — satu-satunya elemen yang mengingatkannya bahwa ini tetap penjara.

Hari pertama, Rayan hanya duduk di tepi ranjang dan memandangi dinding.

Hari kedua, ia mulai mengamati.

---

Lapas Argapura menampung tidak lebih dari enam puluh tahanan. Angka kecil yang disengaja — ini bukan penjara kapasitas besar. Ini lebih mirip klub eksklusif yang keanggotaannya mensyaratkan kejahatan dengan skala tertentu. Minimum. Rayan tidak tahu standar pastinya, tapi dari apa yang ia lihat dan dengar di tiga hari pertama, gambarannya mulai terbentuk.

Sel B-03: seorang bankir yang menggelapkan dana nasabah sebesar dua koma tujuh triliun. Masih menerima laporan portofolio investasinya setiap minggu melalui pengacara.

Sel A-07: mantan jenderal militer yang dihukum karena menjual koordinat pangkalan militer rahasia ke pihak asing. Menghabiskan waktunya dengan latihan fisik pukul empat subuh setiap hari tanpa absen.

Sel D-01: perempuan paruh baya, satu-satunya penghuni wanita, yang tidak ada seorangpun mau menyebut kasusnya secara langsung. Rayan hanya mendengar bisik-bisik: *enam negara, dua belas tahun, dan katanya satu dari tiga nama di daftarnya masih hidup sampai sekarang.*

Ini bukan penjara. Ini museum penjahat terbaik dunia. Dan Rayan — insinyur sipil yang satu-satunya kejahatan dalam hidupnya adalah pernah parkir di zona larangan parkir selama lima belas menit — entah bagaimana masuk ke dalam koleksinya.

---

Bram ternyata punya sel di pojok blok B. Bukan sel biasa — pintunya lebih lebar dari sel lain karena saat pertama kali masuk, kusen standar rupanya tidak cukup untuk bahunya. Modifikasi itu dibiarkan sampai sekarang. Tidak ada yang mau komplain.

Rayan mendekatinya pada hari ketiga, di jam olahraga sore di lapangan kecil dalam tembok.

Bram sedang melakukan push-up dengan satu tangan. Tidak menghitung. Hanya melakukan.

"Boleh aku duduk?"

Bram tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menolak. Rayan memutuskan itu cukup dan duduk di bangku beton di sampingnya.

Beberapa saat berlalu. Angin sore membawa bau tanah basah dari entah mana — mungkin ada taman di luar tembok yang tidak bisa mereka lihat.

"Kenapa kamu menolongku waktu itu?" tanya Rayan akhirnya.

Bram berhenti. Duduk tegak. Ia meraih handuk kecil yang tergantung di bahunya dan mengusap wajahnya dengan gerakan pelan. Kemudian ia menatap Rayan — pertama kalinya Rayan melihat wajahnya dari dekat di cahaya yang cukup terang.

Rahang kotak. Bekas luka di alis kiri. Mata cokelat gelap yang tidak bergerak seperti mata orang kebanyakan — tidak ke kiri-kanan, tidak gelisah — hanya diam dan melihat, seperti kamera yang sedang merekam.

"Bukan aku yang memutuskan kamu perlu diselamatkan," kata Bram.

Rayan mengerutkan dahi. "Lalu siapa?"

Bram hanya mengangkat dagu sedikit — menunjuk ke arah gedung utama, ke sayap yang berbeda dari tempat Rayan tinggal. Sayap yang pintunya berbeda warna: abu-abu gelap dengan pelat baja tambahan dan sensor sidik jari di sampingnya, bukan sekadar gembok biasa.

"Di sana ada seseorang yang ingin bertemu kamu," kata Bram. "Waktu yang tepat, dia yang akan tentukan."

"Siapa?"

Bram berdiri. Untuk seseorang sebesar itu, gerakannya sangat sedikit bersuara.

"Kalau aku kasih tahu sekarang, kamu tidak akan bisa tidur malam ini."

Ia berjalan pergi. Meninggalkan Rayan dengan pertanyaan yang terasa seperti duri kecil di bawah kulit — tidak terlalu sakit untuk ditoleransi, tapi cukup tajam untuk selalu terasa setiap kali bergerak.

---

Malamnya, dari balik dinding selnya, Rayan mendengar suara.

Bukan suara keras. Bukan tangisan atau teriakan. Hanya suara halus yang teratur — seperti seseorang yang sedang berbicara dengan nada sangat datar dan sangat pelan, tanpa jeda emosi, tanpa nada tanya di ujung kalimat. Seperti mesin yang membaca teks.

Suara itu berasal dari sayap abu-abu.

Rayan memejamkan matanya dan mencoba tidur.

Tapi matanya tidak mau menutup.

*Bukan aku yang menyuruhmu diselamatkan.*

---