Hartono Sugiarto sedang menyeduh kopi ketika Rayan pertama kali mengetuk pintu selnya.

Bukan kopi sachet. Kopi biji yang digiling sendiri menggunakan grinder meja kecil yang entah bagaimana bisa ada di dalam sel penjara. Aromanya menyebar ke lorong dengan tidak sopan — wangi kayu dan cokelat gelap yang membuat siapapun yang lewat memperlambat langkah tanpa sadar.

"Masuk," kata suara dari dalam, berat dan tenang, seperti suara seseorang yang tidak pernah terburu-buru dalam hidupnya.

Rayan masuk.

---

Sel Hartono di blok A, nomor 12, adalah anomali terbesar di Lapas Argapura — dan itu sudah sesuatu, mengingat semua yang ada di tempat ini sudah merupakan anomali dari penjara pada umumnya. Ukurannya sama dengan sel lain, tapi isinya terasa seperti studio apartemen milik seseorang yang memilih untuk tinggal minimalis bukan karena tidak mampu, tapi karena sudah melewati fase mengagumi barang.

Satu rak kayu yang penuh buku — tersusun berdasarkan topik, bukan abjad. Biografi di kiri, sejarah ekonomi di tengah, filsafat di kanan. Di bawah jendela kecil beruji besi ada tanaman dalam pot — entah bagaimana masih hijau dan sehat — dan di meja di sampingnya, mesin espresso berukuran sedang yang tampaknya lebih canggih dari mesin kafe kebanyakan.

Di balik meja itu duduk seorang pria yang rambutnya sudah putih seluruhnya, dengan kacamata baca di ujung hidungnya dan buku tebal di tangannya. Enam puluh tahun, tapi wajahnya tidak menunjukkan kelelahan — hanya ketenangan yang terasa seperti produk dari waktu yang sangat panjang.

"Kamu Rayan." Bukan pertanyaan. "Duduk."

Rayan duduk di kursi kayu di hadapannya. "Pak Hartono."

"Panggil saja Hartono. Aku sudah terlalu tua untuk formalitas yang tidak perlu." Pria itu menutup bukunya dan melepas kacamatanya, meletakkan keduanya dengan gerakan yang sama telitinya — meja itu tampaknya punya sistem tersendiri di benak pemiliknya. "Kopi?"

"Tidak, terima kasih."

"Kamu sudah bertemu Nox."

Bukan pertanyaan lagi. Rayan menatapnya. "Kabar itu cepat tersebar."

"Di sini tidak banyak yang luput dari perhatian." Hartono berdiri, mengambil cangkir espressonya yang sudah selesai, dan duduk lagi dengan gerakan seorang pria yang sudah sangat terbiasa dengan ruang ini — setiap sudutnya, setiap celah antara furniturnya. "Bagaimana kesanmu tentang dia?"

Rayan berpikir sebentar sebelum menjawab. "Menakutkan."

Hartono mengangguk pelan, seperti jawaban itu tepat. "Aku ingat pertama kali bertemu dia. Aku sudah di sini enam tahun waktu itu. Kupikir tidak ada lagi yang bisa mengejutkan aku." Ia meminum kopinya pelan. "Nox bisa."

"Sudah berapa lama kamu di sini?"

"Sepuluh tahun." Diucapkan dengan nada yang sama seperti seseorang menyebut lama perjalanan kereta. Tidak pahit. Tidak dramatis. Hanya fakta. "Dua ribu tiga ratus empat puluh dua hari, kalau kamu mau angka persisnya. Aku pernah menghitungnya. Hanya sekali — setelah itu aku berhenti. Menghitung hari di penjara seperti menghitung tetes air yang bocor dari atap: kamu tahu bocornya ada, tapi menghitung tidak membuat bocornya berhenti."

Rayan menatap pria di depannya. Orang ini pernah masuk dalam daftar lima puluh orang terkaya di Indonesia selama sebelas tahun berturut-turut. Hartono Sugiarto — pendiri Harton Group, konglomerat yang menyentuh tambang, properti, dan logistik. Rayan pernah membaca profilnya di majalah bisnis, tahun-tahun sebelum pria itu menghilang dari berita.

"Kamu tahu siapa yang menjebakku," kata Rayan.

Hartono meletakkan cangkirnya. "Aku tahu siapa yang menjebak kita berdua. Dan mungkin setengah dari penghuni tempat ini." Ia menatap Rayan dengan mata yang lebih tajam dari yang terlihat di balik kacamata bacanya tadi. "Kamu pernah dengar nama Wirawan disebut dalam konteks yang lebih besar dari kasusmu sendiri?"

"Nox menyebutnya sebagai... pion."

"Pion yang tepat." Hartono mengangguk. "Dan kamu tahu artinya kalau ada pion — ada papan caturnya. Dan ada pemain yang menggerakkannya." Ia berdiri lagi, kali ini berjalan ke jendela dan melihat ke luar — ke halaman sempit dengan tembok tinggi di seberangnya. "Aku masuk ke sini karena aku terlalu dekat dengan jaringan itu. Bukan karena aku bagian darinya — justru sebaliknya. Aku menolak bergabung."

Rayan diam.

"Sepuluh tahun di sini," lanjut Hartono pelan, "aku tidak menghabiskan waktu hanya untuk membaca. Aku... menunggu. Menunggu satu hal yang aku tahu pasti akan datang." Ia berbalik dan menatap Rayan. "Seseorang dengan alasan yang cukup besar untuk tidak bisa dibeli, tidak bisa ditakut-takuti, dan tidak bisa disuap dengan harapan pengurangan hukuman." Ia berhenti. "Rayan, orang seperti itu jarang ada. Tapi orang seperti itu yang paling berbahaya bagi sistem."

"Kamu sedang merekrutku."

"Nox yang merekrut." Hartono duduk kembali dan mengambil bukunya lagi — tanda percakapan hampir selesai, tapi bukan dengan cara yang tidak sopan. "Aku hanya... memperkenalkan diri dengan lebih jujur daripada siapapun yang akan kamu temui di tempat ini."

Rayan berdiri untuk pergi.

"Rayan."

Ia berhenti.

Hartono tidak mendongak dari bukunya. "Kamu bukan yang pertama dikirim ke sini karena Wirawan."

Kalimat itu menggantung di udara.

"Ada berapa orang lain?" tanya Rayan.

Hartono membalik halaman. "Hanya dua. Tapi keduanya tidak bertahan cukup lama untuk bisa kita ajak bicara."

---

Rayan keluar dari sel Hartono dengan langkah yang lebih lambat dari masuknya. Di lorong, ia berhenti sejenak di depan jendela kecil yang menghadap ke halaman dalam. Angin sore masuk melalui celahnya, tipis dan dingin.

*Tidak bertahan cukup lama.*

Ia tidak bertanya apa maksudnya. Ia tidak perlu bertanya.

---