Karin Pratama adalah anak yang paling susah dibaca.
Dinda terbuka—terlalu terbuka, kadang. Bagas bermusuhan secara terang-terangan. Tapi Karin, sembilan tahun dengan rambut dikepang dua dan mata yang selalu terlihat seperti sedang mencatat sesuatu—Karin adalah pertanyaan yang belum aku temukan jawabannya.
Ia tidak pernah kasar. Tidak pernah menjatuhkan sesuatu, tidak pernah bilang sesuatu yang menyakiti secara langsung.
Tapi ia mengamati.
Setiap kali aku melakukan sesuatu di rumah—memasak, membereskan, bicara dengan ayahnya—aku merasakan matanya. Mencatat. Menganalisis.
Seperti sedang menguji sesuatu yang belum ia putuskan apakah lulus atau tidak.
Hari kelima setelah pernikahan, Karin menghampiriku di dapur saat aku sedang mencuci piring.
"Kamu suka masak?" tanyanya.
Pertama kali ia memulai percakapan.
"Lumayan," jawabku. "Tidak jago, tapi bisa."
"Masakan Bunda dulu enak sekali." Karin duduk di bangku dapur. "Ayam gorengnya paling enak."
"Kamu mau aku coba masak ayam goreng?"
Ia mempertimbangkan. "Kalau tidak sama rasanya, jangan bilang sama."
"Tidak akan bilang sama." Aku meletakkan piring. "Masakan ibumu adalah milik ibumu. Aku masak dengan cara aku sendiri."
Karin menatapku sebentar.
"Kata nenek Putri, kamu menikah sama Ayah karena uang."
Nenek Putri. Ibu dari Ratna—mertua lama Aryo.
Aku tidak langsung menjawab. Duduk di bangku di seberang Karin.
"Apa kata nenekmu itu membuatmu percaya?" tanyaku.
Karin menunduk sedikit. "Tidak tahu."
"Itu jawaban yang jujur." Aku menatapnya. "Aku tidak bisa memaksa kamu percaya aku. Yang bisa aku lakukan hanya menunjukkan siapa aku lewat apa yang aku lakukan, hari demi hari."
"Berapa lama?"
"Selama yang kamu butuhkan."
Karin memutar kepangnya. Kebiasaan yang aku perhatikan ia lakukan ketika sedang berpikir.
"Aku mau coba masakan ayam gorengmu," katanya akhirnya. "Tapi kalau tidak enak, aku bilang jujur."
"Tolong bilang jujur." Aku berdiri, membuka kulkas. "Itu yang aku butuhkan."
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar