Pagi pertama sebagai istri Aryo dimulai jam lima.
Bukan karena aku tidak bisa tidur—meski itu juga benar. Tapi karena aku ingin menyiapkan sarapan sebelum semua orang bangun. Langkah kecil. Tapi langkah pertama selalu kecil.
Dapur rumah ini rapi dengan cara yang terasa seperti ada sistem yang sudah berjalan lama—bumbu diurutkan alfabetis, peralatan masak digantung dengan jarak yang konsisten, catatan kecil di pintu kulkas tentang alergi Karin pada udang.
Aku membaca catatan itu dua kali.
Karin alergi udang. Bagas tidak suka telur terlalu matang. Dinda makan apa saja tapi maunya dipotong kecil-kecil.
Aryo yang ceritakan ini dulu—di salah satu percakapan kami, ia menyebut detail-detail kecil tentang anak-anaknya dengan cara orang tua yang sudah hafal sampai ke seluk-beluk terkecil.
Aku menyiapkan nasi goreng. Telur Bagas setengah matang. Potongan wortel dan brokoli untuk Dinda yang dipotong dadu kecil. Tanpa udang.
Aryo turun jam enam dengan rambut masih berantakan dan ekspresi orang yang tidak tidur nyenyak.
"Kamu sudah bangun lama?"
"Dari jam lima."
Ia melirik ke meja makan yang sudah tersusun. Sesuatu bergeser di wajahnya.
Dinda turun berikutnya—berlarian, hampir tersandung keset di kaki tangga.
"Ada nasi goreng!" Ia langsung duduk. "Dipotong kecil-kecil!"
"Suka dipotong kecil kan?" tanyaku.
"Iya! Bunda dulu juga selalu potong kecil-kecil." Ia mengambil sendok—lalu berhenti. Wajahnya berubah sesuatu. "Eh."
Hening kecil yang tidak nyaman.
Aku tidak buru-buru mengisinya.
"Kamu mau bilang apa tadi?" tanyaku pelan.
"Bunda..." Dinda menunduk ke piringnya. "Dinda kangen Bunda."
"Iya." Aku duduk di sebelahnya. "Itu normal. Kamu boleh kangen Bunda kapanpun."
Dinda melirikku. "Kamu marah?"
"Kenapa harus marah?" Aku mengambil sendok. "Aku di sini bukan untuk menggantikan Bundamu. Tidak ada yang bisa menggantikan Bundamu."
Dinda mempertimbangkan kalimat itu dengan serius—cara anak enam tahun mempertimbangkan sesuatu: mengerutkan dahi, mengunyah sedikit.
"Terus kamu siapa?" tanyanya.
"Aku Maya." Aku tersenyum. "Istri Ayahmu. Dan—kalau kamu mau—temanmu."
"Teman?"
"Teman."
Dinda mengangguk, seperti keputusan penting baru saja dibuat.
"Oke. Nasi gorengnya enak."
Karin turun jam enam lebih dua puluh, mengambil piring tanpa berkomentar, duduk, makan. Matanya sesekali melirik ke arahku tapi tidak bicara.
Bagas tidak turun sama sekali.
Aku tidak memaksa.
Aku menyimpan satu porsi nasi goreng di wadah tertutup dan menaruhnya di depan pintu kamarnya.
Dua jam kemudian, ketika aku lewat, wadah itu sudah kosong di depan pintu.
Belum penerimaan. Tapi juga bukan penolakan total.
Cukup untuk hari pertama.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar