Rumah Aryo ada di Bintaro—dua lantai, halaman kecil dengan pohon mangga di sudut, cat luar berwarna krem yang sudah agak kusam.
Rumah yang jelas pernah hangat. Foto-foto di dinding memperlihatkan itu—ulang tahun, liburan, momen-momen kecil yang sudah dibingkai dan digantung dengan hati-hati di setiap sudut yang tepat.
Foto-foto yang semuanya tidak menyertakanku.
Dan semuanya menyertakan perempuan yang wajahnya tidak aku kenal tapi sudah aku kenali: Ratna, istri pertama Aryo, ibu dari ketiga anaknya. Cantik, dengan senyum yang terlihat tulus bahkan dari foto.
Aryo tidak menurunkan foto-foto itu sebelum aku datang.
Aku tidak memintanya.
Ini rumah mereka. Kenangan mereka. Aku tidak punya hak untuk menghapus itu.
Malam pertama setelah menikah—dengan gaun biru-putih yang sudah diganti baju biasa karena tidak ada yang bisa menyelamatkan gaun itu—aku duduk di ruang tamu sementara Aryo mengantar anak-anak tidur satu per satu.
Dinda yang pertama—anak bungsu itu sudah mengantuk sejak di perjalanan pulang, dan sempat memelukku tanpa diminta sebelum digendong ayahnya ke kamar. Itu satu titik kecil yang hangat di malam yang berat.
Karin—anak tengah, sembilan tahun—melewatiku dengan tatapan yang tidak bisa aku kategorikan. Bukan benci. Bukan ramah. Lebih ke mengamati, seperti ilmuwan yang belum cukup data untuk membuat kesimpulan.
Bagas tidak keluar dari kamarnya sama sekali.
Aryo kembali ke ruang tamu jam sembilan malam dengan wajah lelah yang sudah ditanggungnya berhari-hari.
"Maaf soal tadi," katanya. Sudah kedua kalinya ia bilang ini hari ini.
"Sudah," kataku. "Duduk."
Ia duduk di sebelahku. Kami diam beberapa saat.
"Bagas tidak biasanya seperti itu," katanya akhirnya. "Maksudku—dia memang keras sejak Ratna meninggal. Tapi seperti itu—"
"Ia dua belas tahun yang kehilangan ibunya dua tahun lalu." Aku menatap foto di dinding. "Wajar kalau ia belum siap ada orang baru."
"Itu tidak membenarkan caranya."
"Tidak. Tapi menjelaskan." Aku mengambil tangannya. "Aryo—aku tidak butuh anak-anakmu langsung menerimaku. Aku hanya butuh waktu dan ruang untuk berusaha."
Ia menatapku.
"Kamu tidak takut?"
Aku memikirkan pertanyaan itu.
"Takut ada," jawabku jujur. "Tapi guru TK yang takut anak—itu sudah salah jurusan dari awal."
Ia tertawa—kecil, lelah, tapi nyata.
Malam itu kami tidur dengan foto Ratna masih di dinding, dengan tiga kamar berisi tiga anak yang masing-masing menyimpan luka yang belum bisa aku sentuh.
Dan aku berbaring dalam gelap, menghitung langkah pertama yang perlu diambil besok pagi.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar