Aryo Pratama adalah duda beranak tiga yang pertama kali kutemui bukan di aplikasi kencan, bukan di pesta teman, tapi di lobi sekolah TK tempat aku mengajar.
Ia datang menjemput Dinda yang terlambat dijemput—anak bungsunya yang saat itu baru masuk TK B dan sudah dikenal guru-guru sebagai anak yang paling banyak bertanya dan paling sering kehilangan sepatunya.
"Maaf, macet," katanya dengan napas masih sedikit terengah. "Dinda sudah lama nunggu?"
"Dua puluh menit. Tapi dia tidak nangis." Aku menyerahkan Dinda yang langsung menyerang lengan ayahnya. "Malah cerita tentang dinosaurus."
Aryo melirik ke anaknya. "Dinosaurus lagi?"
"Dinda suka T-Rex," Dinda menerangkan dengan serius.
Pertemuan pertama itu singkat. Tapi ada sesuatu tentang cara Aryo berbicara ke anaknya—sabar, hadir, tidak terburu-buru meski jelas ia baru saja berlari dari parkiran—yang membuatku mengingatnya lebih dari yang biasanya.
Tiga bulan kemudian, setelah beberapa kali jumpa di acara sekolah, ia mengajakku makan siang.
"Saya jujur dari awal," katanya di restoran sederhana dekat sekolah. "Saya duda. Tiga anak. Situasinya kompleks."
"Berapa usianya?"
"Bagas dua belas. Karin sembilan. Dinda enam."
"Ibunya?"
Ia menarik napas. "Meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan."
Aku tidak langsung menjawab. Membiarkan kalimat itu duduk sebentar dengan hormatnya.
"Kenapa mau kenalan sama saya?" tanyaku.
Ia tersenyum—sedikit, tapi tulus. "Karena cara kamu bicara ke Dinda. Tidak ada orang dewasa yang bicara ke anak kecil dengan serius seperti itu. Seperti pendapatnya benar-benar penting."
"Pendapatnya memang penting."
Ia menatapku sebentar. "Iya. Tapi tidak semua orang setuju."
Kami makan siang itu penuh cerita—tentang anak-anaknya, tentang pekerjaanku, tentang kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana tapi tetap harus dijalani.
Dan tiga bulan setelah makan siang itu, ia melamar.
Bukan dengan cincin berlian di restoran mewah. Tapi di taman sekolah TK, setelah jam pulang, dengan ucapan yang jujur sampai ke tingkat yang sedikit canggung:
"Maya, aku tidak tahu apakah ini terlalu cepat atau terlalu lambat. Tapi aku tahu aku mau hidupku ada kamu di dalamnya. Dan anak-anak butuh seseorang yang bisa hadir untuk mereka. Mau kamu jadi bagian dari keluarga kami?"
Aku minta waktu seminggu.
Di akhir seminggu itu, jawabanku: ya.
Yang tidak aku tahu saat itu: bahwa seminggu sebelum pernikahan, Bagas sudah menyimpan ember cat di lemari kamarnya.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar