Sebulan setelah makan siang ayam goreng, Kiara mengundangku ke rumahnya.
Bukan undangan formal. Lebih ke cara Kiara yang langsung: "Minggu ini Ibu saya masak banyak karena ada acara keluarga. Kalau mau mampir boleh, tidak perlu bawa apa-apa."
Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau — justru sebaliknya, aku sangat mau. Tapi aku sadar pertemuan pertama dengan keluarga Kiara adalah sesuatu yang perlu aku pertimbangkan dengan kepala dingin.
Masalahnya bukan Kiara. Masalahnya adalah aku.
Selama sebulan ini, aku sudah memastikan satu hal: aku tidak pernah berbohong ke Kiara. Aku bilang aku kerja di konstruksi — itu benar. Aku bilang pengawas lapangan — itu juga benar, dalam arti tertentu. Aku tidak pernah bilang aku kuli bangunan. Tapi aku juga tidak bilang aku CEO-nya.
Cara berpakaian dan perilakuku di lapangan membuat orang otomatis mengasumsikan aku pekerja lapangan biasa. Dan aku membiarkan asumsi itu karena selama ini tidak ada alasan untuk meluruskannya.
Tapi sekarang ada keluarga Kiara.
Aku bilang ke Ardi malam sebelumnya. Satu kesalahan yang langsung aku sesali karena reaksi Ardi adalah tertawa sampai ia harus berpegangan ke meja.
"Jadi selama sebulan kamu PDKT sama cewek yang anggap kamu kuli bangunan?"
"Pengawas lapangan."
"Kamu TIDAK pernah pakai baju kantor waktu ketemu dia?"
"Di lapangan tidak perlu baju kantor."
"Galang." Ardi menghapus air mata tawanya. "Kamu sadar tidak, kalau kamu sekarang mau ke rumah orang tuanya dengan penampilan yang sama? Orang tuanya akan langsung judge kamu dari penampilan."
"Aku tahu."
"Terus?"
"Aku ingin mereka mengenal aku apa adanya dulu. Bukan nama perusahaannya."
"Kamu naif." Ardi menggeleng. "Tapi oke, itu pilihanmu. Cuma satu pertanyaan: kalau orang tuanya tidak suka, kamu mau bagaimana?"
Aku tidak menjawab pertanyaan itu malam itu.
Minggu pagi, aku memilih pakaian dengan cermat — bukan mewah, tapi rapi. Polo biru dongker yang baru, celana chino abu-abu, sepatu sneakers yang bersih. Tidak ada baju lapangan, tidak ada helm. Tapi juga tidak ada kemeja formal atau jam tangan yang harganya bisa beli motor baru.
Aku datang dengan tangan kosong meski Kiara bilang tidak perlu bawa apa-apa — tetap aku beli kue sus dari toko yang sudah buka pagi di dekat kontrakanku. Datang ke rumah orang dengan tangan benar-benar kosong terasa tidak sopan.
Rumah keluarga Hartono di Sidoarjo adalah rumah kelas menengah atas yang terawat — tembok dicat baru, garasi untuk dua mobil, taman depan yang tidak besar tapi rapi. Dari luar, sudah terlihat bahwa ini keluarga yang memperhatikan penampilan.
Kiara membuka pintu sebelum aku mengetuk.
"Sudah di luar dari tadi?" tanyaku.
"Kebetulan lihat dari jendela." Ia melihat kue sus di tanganku. "Saya bilang tidak perlu bawa apa-apa."
"Kebiasaan."
Kiara mengangguk. Membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Ruang tamu rapi dengan sofa set warna krem dan meja kaca yang sudah diatur dengan vas bunga segar. Ada foto keluarga di dinding — Kiara yang lebih muda, seorang bapak berkumis, dan seorang ibu dengan senyum yang di fotonya terlihat hangat.
Di fotonya terlihat hangat.
Di ruang tamunya langsung, saat aku melangkah masuk, Bu Hartono — wanita lima puluh lima tahun dengan rambut yang tersisir sempurna dan baju batik yang kelihatan dipilih dengan saksama untuk acara ini — menatapku dari atas ke bawah dengan cara yang sangat berbeda dari foto itu.
"Ini yang Galang?" tanya Bu Hartono ke Kiara.
"Iya, Bu. Galang, ini Ibu."
Aku mengulurkan tangan. "Selamat pagi, Bu. Mohon maaf mengganggu."
Bu Hartono menjabat tanganku — tangan yang sedikit kapalan dari kebiasaan memegang tool lapangan dan belum sepenuhnya halus meski sudah beberapa hari tidak ke lapangan. Matanya turun ke tangan itu sebentar.
"Kerjanya di konstruksi, kata Kiara?" tanyanya.
"Iya, Bu."
"Bagian apa?"
"Pengawasan lapangan."
"Oh." Nada suaranya sudah berubah sejak kata "pengawasan lapangan". Tidak dingin secara terbuka, tapi ada pendinginan yang terasa bahkan tanpa termometer. "Silakan duduk."
Pak Hartono keluar dari dalam — lebih kalem dari istrinya, jabat tangannya lebih tulus, matanya tidak scanning aku dengan cara yang sama. "Galang? Pak Bowo anaknya?"
Pertanyaan itu membuat aku sedikit terkejut. "Kenal Pak Bowo, Pak?"
"Pernah ketemu di satu acara bisnis dulu. Nama Wibowo Konstruksi sudah lama aku dengar." Pak Hartono tampak berpikir. "Tapi anak Pak Bowo namanya—"
"Pak Hartono," Bu Hartono memotong dengan nada yang halus tapi jelas, "minuman dulu disiapkan." Sebuah cara mengalihkan percakapan yang sudah terlatih.
Pak Hartono mengangguk. Pergi ke dapur.
Aku duduk di sofa. Kiara duduk di sebelahku. Bu Hartono di sofa seberang, dengan posisi duduk yang teratur seperti dalam pertemuan formal.
"Galang, kamu kuliah di mana?" tanya Bu Hartono.
"Teknik Sipil, Bu. Di ITS."
Sedikit perubahan di ekspresinya. ITS bukan nama yang bisa diabaikan begitu saja. "Oh. Lulus tahun berapa?"
"Dua ribu enam belas."
"Berarti sudah tujuh tahun lebih. Pengawasan lapangan terus, atau ada rencana naik posisi?"
Pertanyaan yang terasa seperti tes. Aku menjawab dengan tenang: "Saya lebih suka pekerjaan lapangan, Bu. Lebih banyak yang bisa dipelajari langsung."
Bu Hartono mengangguk dengan ekspresi yang tidak bisa disebut puas. "Penghasilan pengawas lapangan memadai?"
"Ibu," kata Kiara dengan nada yang sudah cukup peringatan, "itu pertanyaan yang terlalu pribadi."
"Ibu cuma tanya."
"Tanya yang sudah jelas maksudnya."
"Tidak apa-apa," aku berkata sebelum situasinya berkembang lebih jauh. "Memadai, Bu. Kebutuhan saya tidak banyak."
Bu Hartono melirik ke motor yang bisa dilihat dari jendela depan. "Motornya itu kendaraan sendiri?"
"Iya, Bu."
"Rumahnya di mana?"
"Kontrakan dekat proyek, Bu. Lebih praktis kalau dekat lokasi kerja."
Setiap jawaban yang aku berikan tampaknya menambah sesuatu ke dalam kolom perhitungan Bu Hartono yang tidak terlihat tapi terasa sangat nyata. Teknik Sipil ITS — poin plus. Pengawas lapangan, bukan manajer atau pemilik — poin minus. Motor — poin minus. Kontrakan — poin minus.
Kue sus yang aku bawa diletakkan di meja oleh Pak Hartono yang kembali membawa minuman. Bu Hartono melihatnya sebentar — harganya mungkin sekitar seratus dua puluh ribu untuk ukurannya — dan tersenyum sopan tanpa ekspresi yang hangat.
Makan siang berlangsung di meja makan yang besar. Masakan Bu Hartono enak — ini yang tidak bisa diperdebatkan. Tapi sepanjang makan, percakapan didominasi Bu Hartono yang dengan terampil mengarahkan topik ke hal-hal yang secara tidak langsung mengungkapkan ketidakcocokan.
"Kiara nanti mau kerja di mana setelah dari SD itu? Ibu pikir sudah saatnya cari sekolah swasta yang lebih besar, gajinya lebih baik. Atau pindah ke instansi pemerintah, lebih jelas karirnya."
"Saya suka di SD itu, Bu," kata Kiara datar.
"Tapi untuk masa depan—"
"Masa depan saya sudah saya pikirkan sendiri."
Pak Hartono berdeham. Bu Hartono mengalihkan ke aku: "Galang, keluargamu di Surabaya?"
"Bapak di Surabaya, Bu. Ibu sudah meninggal waktu saya masih kecil."
"Oh." Nada suaranya berubah sebentar — sedikit lebih manusiawi. "Maaf ya."
"Tidak apa-apa, Bu. Sudah lama."
"Bapakmu kerja apa?"
Dan di sinilah aku harus memilih dengan cermat.
"Di bidang konstruksi juga, Bu."
"Oh." Lagi-lagi perhitungan yang tidak terlihat. "Keluarga kontraktor ya."
"Bisa dikatakan begitu."
Makan siang selesai. Aku membantu membawa piring ke dapur meski Bu Hartono bilang tidak usah — tapi aku tetap melakukannya, karena itu yang sudah terbiasa aku lakukan bahkan di warung Bu Sum.
Di dapur, Kiara ada di sebelahku mencuci gelas. "Maaf ya," bisiknya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Ibu kamu kayaknya tidak suka."
"Belum kenal. Wajar kalau belum nyaman."
Kiara menoleh. "Kamu terlalu optimis."
"Atau kamu terlalu pesimis."
"Saya realistis." Ia menyerahkan gelas yang sudah dicuci untuk aku keringkan. "Ibu saya orangnya begitu. Sekali lihat, sudah punya kesimpulan."
"Kesimpulan bisa berubah."
Kiara diam sebentar. "Semoga."
Di ruang tamu sebelum aku pamit, Bu Hartono berbicara dengan Pak Hartono tentang sesuatu yang tidak aku dengar jelas. Tapi ekspresi mereka berdua — ekspresi seorang istri yang sudah mengambil keputusan dan seorang suami yang akan ikut — cukup untuk memberitahuku bahwa percakapan yang lebih sulit akan datang.
Hanya saja bukan hari ini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar