Aku mengirim pesan pertama malam itu, jam delapan lewat dua puluh. Bukan jam yang terlalu malam tapi juga bukan yang terlalu segera — aku tidak mau terkesan terburu-buru tapi juga tidak mau terkesan tidak serius.
*Pompa betonnya sudah diperbaiki hari ini. Teknisinya bilang ada kerak di katup yang seharusnya dicek sebulan lalu.*
Tiga menit kemudian:
*Kamu kirim WA pertama soal pompa beton.*
*Kataku tadi di warung, belum selesai ceritanya.*
*Iya tapi saya pikir itu candaan.*
*Tidak. Saya sungguhan penasaran bagaimana kerak bisa menumpuk di katup pompa beton.*
Ada jeda sekitar empat menit. Aku membayangkan ia membaca pesan itu dengan ekspresi yang sama seperti waktu ia menatapku di warung — satu alis sedikit naik, mempertimbangkan.
*Oke. Lanjutkan.*
Aku mengetikkan penjelasan panjang tentang pompa beton, bagaimana betonnya harus dipompa dalam waktu tertentu sebelum mulai mengeras, kenapa kerak bisa menumpuk di bagian katup kalau pembersihan rutin terlewat, dan apa konsekuensinya ke jadwal proyek. Panjang. Lebih panjang dari yang biasanya aku tulis di WA untuk siapapun.
*Kamu nulis itu semua serius.*
*Kamu yang minta dilanjutkan.*
*Saya tidak menyangka kamu akan benar-benar jelaskan selengkap itu.*
*Kalau cerita setengah-setengah tidak seru.*
Jeda lagi. Lebih panjang kali ini.
*Murid saya hari ini ada yang nulis esai tentang keluarganya. Satu anak nulis "Papa saya kerjanya keras tapi selalu pulang untuk makan malam". Cuma satu kalimat tapi entah kenapa yang paling bikin saya terenyuh dari semua esai di kelas.*
Aku membaca itu dua kali.
*Anak kelas tiga sudah bisa nulis esai?*
*Esai sederhana. Satu paragraf. Tapi konsepnya sudah bagus. Mereka nulis tentang orang yang paling mereka kagumi.*
*Anak itu kagumi bapaknya karena pulang makan malam?*
*Bukan karena pulangnya. Tapi karena selalu. Kata "selalu" itu yang berat.*
Aku mengerti apa yang ia maksud. Konsistensi itu yang paling sulit dipertahankan. Bukan soal melakukan sesuatu sekali — tapi melakukannya terus, bahkan di hari yang berat.
*Bapakmu seperti itu?*
Pesan itu aku kirim sebelum sempat berpikir apakah pertanyaan itu terlalu personal untuk percakapan hari pertama.
Tapi jawabannya datang:
*Bapak saya lebih banyak di kantor dari pada di rumah. Tapi kalau ada, beliau benar-benar hadir. Tidak pegang ponsel waktu makan. Tidak lihat TV waktu saya cerita soal sekolah. Jadi meski tidak sering, kualitasnya tinggi.*
*Kamu beruntung punya bapak seperti itu.*
*Kamu tidak?*
Aku berpikir sebentar.
*Bapakku juga banyak di lapangan kerja. Tapi beliau selalu bawa aku ikut sejak kecil. Jadi aku lebih sering lihat bapakku kerja dari pada di rumah. Tapi itu juga cara beliau hadir.*
*Kamu ikut bapakmu ke lapangan sejak kecil?*
*Sejak SD. Itu yang bikin aku akhirnya kerja di konstruksi juga.*
*Pantas kamu hafal soal cat tembok dan pompa beton.*
*Bukan sekadar hafal. Ini pekerjaan sehari-hari.*
*Saya juga bukan sekadar hafal soal ulat.* Aku bisa bayangkan ia mengetik itu sambil senyum tipis. *Itu bagian dari pekerjaan sehari-hari saya juga.*
Kami chat sampai setengah sebelas malam. Tidak ada topik besar, tidak ada percakapan yang dramatis. Tentang murid-muridnya yang unik, tentang detail-detail kecil proyek yang menurutku menarik tapi biasanya tidak ada yang peduli, tentang warung Bu Sum yang ternyata punya rahasia — kuah sayurnya yang enak itu menggunakan kaldu dari tulang ayam yang direbus sejak subuh.
Sebelum pamit tidur, Kiara mengirim satu pesan terakhir:
*Mas Galang.*
*Iya.*
*Pompa betonmu sudah oke.*
*Sudah. Besok pengecoran lanjut.*
*Bagus. Tidur yang cukup. Besok kamu harus awasi pengecoran kan?*
Kalimat itu terasa seperti kepedulian yang dibungkus dengan fungsional — cara orang yang tidak terbiasa menunjukkan kepedulian secara langsung tapi tetap menunjukkannya.
*Iya. Kamu juga istirahat yang cukup. Besok ada anak yang perlu diajarin soal ulat lagi mungkin.*
Emoji tertawa kecil. Kemudian: *Selamat malam.*
*Selamat malam.*
Aku meletakkan ponsel. Menatap langit-langit kamar kontrakanku yang sederhana — aku tidak pernah mau tinggal di tempat terlalu mewah saat sedang mengawasi proyek, terlalu jauh dari realita pekerjaan yang sedang dikerjakan.
Ardi benar soal satu hal yang tidak pernah aku akui ke dia: memang lebih enak cerita sesuatu ke orang yang benar-benar mendengarkan.
Kiara mendengarkan.
Keesokan harinya, dan hari berikutnya, pola itu berlanjut tanpa direncanakan.
Kiara mengirim foto dari jendela kelasnya pagi hari — gambar yang bukan foto artistik, hanya jepretan cepat dari ponsel yang menangkap matahari di balik pohon di halaman sekolah. Tanpa caption. Aku membalasnya dengan foto dari atas scaffolding — pemandangan Surabaya dari ketinggian yang meski berdebu tetap punya keindahannya sendiri. Juga tanpa caption.
Kami tidak perlu menjelaskan apa yang kami kirimkan. Sudah cukup dengan dikirim.
Di tengah minggu, Kiara bertanya sesuatu yang berbeda dari biasanya: *Kamu pernah takut tidak waktu naik ke atas?*
Aku duduk di tepi ranjang, sudah mandi setelah hari yang panjang. *Pertama kali naik scaffolding, iya. Tangan gemetaran waktu pegang pipa besi itu.*
*Serius? Kamu kelihatan tidak takut-takut amat.*
*Karena sudah ratusan kali. Takut itu bukan hilang, tapi dikelola.*
*Bagaimana cara mengelolanya?*
*Fokus ke apa yang ada di depan, bukan ke bawah. Dan ingat bahwa setiap langkah sudah diperhitungkan sebelum kaki menapak.*
Ada jeda panjang. Kemudian: *Itu berlaku juga untuk hal lain selain scaffolding ya.*
*Seperti apa misalnya?*
*Seperti mengirim pesan ke orang yang baru dikenal dan tidak tahu apakah direspons atau tidak.*
Aku tersenyum ke ponselku. *Aku merespons.*
*Iya.* Dan setelah beberapa detik: *Untungnya.*
Kata "untungnya" itu kecil. Tapi dari Kiara yang sangat ekonomis dalam kata-katanya, itu terasa besar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar